1 januari 2013 M, malam pergantian tahun Masehi 00.47 WIB
Bukan malam spesial seperti yang dianggap kebanyakan orang, tetapi
cukup menjadi alasan untuk menjadikan malam ini waktu yang tidak boleh
dilewatkan untuk menulis. Khususnya dengan apa yang baru saja kualami beberapa
hari ini, yang begitu menggoreskan bekas dalam jiwa yang ntah apakah itu
menjadi makna atau menjelma menjadi wujud yang lain.
Diamku merekamkan kejadian yang kualami tanpa bisa kutuangkan secara total kedalam tulisan. Seandainya orang bisa membaca langsung dari hatiku atau langsung dari pikiranku, pasti itu akan lebih mewakili diriku daripada sekedar rentetan kata-kata yang kadang perlu dirancang agar menjadi ‘enak’ dibaca.
Lebih tepatnya 4 hari ini aku belajar kembali mengeja ‘arti dunia’ yang
sampai sekarang belum jelas juga rupa aslinya.. meski kucari dalam setiap
renungan, dalam setiap lirikan mata yang kujatuhkan, dalam setiap perhatian
yang kutumpahkan, dalam setiap kejadian yang kurekamkan, dalam setiap buku dan kata
yang kubaca.. wujudnya sering kali mempermainkanku. Seperti lensa cembung atau
cekung atau zigzag yang mencoba menangkap rupa asli sebuah wajah, yang nampak
adalah bukan gambaran wajah asli melainkan tipuan lensa. Seperti itulah
gambaran kecil dunia dari hasil pengamatanku, aku khawatir lensa yang kugunakan
saat ini tidak benar2 mampu menunjukkan rupa asli dunia.. mengapa ia sering
menarik perhatianku dan membuyarkan semua konsentrasiku dan apa-apa yang sudah
hampir selesai kubenahi?
O, mungkin Allah belum izinkan aku mengenali rupa aslinya, hakikatnya
belum jelas dalam diriku, buram dan malah terkadang kabur.. tercampur yang
kekal dengan yang fana, teraduk yang palsu dengan yang asli, terbaur yang haq
dengan yang bathil.. maka itu takkan lah pernah jelas aku memandangnya. Allah
belum izin mungkin karena dosa yang menutupi, membuat orientasiku tidak
terfokus pada satu titik sehingga mengelirukan makna asli hakikatnya itu.. oh
betapa ruginya diriku, tidak melihat apa yang sebenarnya nampak itu dan tidak
merasai apa yang sebenarnya jelas itu.. betapa telah banyak dosa yang kutumpuk
sehingga memadamkan ketajaman pandangan hati…
Soal renungan. apalah arti hidup tanpa renungan? Mengapakah
manusia-manusia disibukkan dengan hal yang tidak semakin mendekatkannya pada
pengenalan diri? mengapakah mereka membiarkan diri meronta menagih apa yang
dicari? Mengapakah mereka tidak memenuhi kebutuhan jiwa yang hakiki? Apakah
tidak butuh mereka mengenali siapa diri dalam wujud yang asli? Apakah mereka sanggup
hidup tanpa tahu siapa pribadi-pribadi mereka? Apakah mereka nyaman menjalani
segala aktifitas duniawi tanpa mahu tahu asal usul kehidupan mereka dan kemana
mereka akan kembali?
Oh betapa ruginya bila semua hanya singgah sebentar dalam hati, namun
tidak membekaskan sebuah bangunan sistematis dalam fikiran yang memperjelas siapa diri..
Oh betapa ruginya bila mereka membiarkan detik berlalu dengan diisi
tawa kosong dan senyuman renyah, sedangkan diri terus bertanya siapa ia??
Oh betapa ruginya mematikan kepekaan jiwa ketika mereka memilih
menuruti hawa nafsu yang memuaskan sementara?? Lalu apa, penyesalan? Akankah
merubah semua yang mereka lalui?
Sudahlah biarkan saja mereka dengan dunianya itu, mencipta
‘keakuan’ dalam setiap pilihannya itu, toh jiwa yang meredup tidak akan mampu
mengeluarkan dirinya sendiri bahkan orang lain, kepada cahaya terang benderang.
Bagaimana mungkin menerangi orang lain sedangkan kita sendiri tidak menyadari
telah dibekali alat penerang, bahkan tidak tahu alat apa yang bisa dijadikan
sebagai penerang, atau mungkin tidak pernah tahu apa itu kegelapan apalagi berusaha menciptakan 'terang'nya.
Sungguh, dunia…. Ya seperti kembang api di malam ini. Dari atap rumah terlihat
indah, padahal langit merah marah karena api-api yang membakarnya. Lantas
setengah mengerang “betapa telah dilalaikannya kalian, kacamata apa yang kalian
gunakan sehingga musibah seperti ini kalian rayakan???”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar