Pages

Sabtu, 23 Februari 2013

1 Januari 2013 (Diantara Kebisingan Malam Hari dan Keheningan Suara Hati)



1 januari 2013 M, malam pergantian tahun Masehi 00.47 WIB

Bukan malam spesial seperti yang dianggap kebanyakan orang, tetapi cukup menjadi alasan untuk menjadikan malam ini waktu yang tidak boleh dilewatkan untuk menulis. Khususnya dengan apa yang baru saja kualami beberapa hari ini, yang begitu menggoreskan bekas dalam jiwa yang ntah apakah itu menjadi makna atau menjelma menjadi wujud yang lain.

Diamku merekamkan kejadian yang kualami tanpa bisa kutuangkan secara total kedalam tulisan. Seandainya orang bisa membaca langsung dari hatiku atau langsung dari pikiranku, pasti itu akan lebih mewakili diriku daripada sekedar rentetan kata-kata yang kadang perlu dirancang agar menjadi ‘enak’ dibaca.

Lebih tepatnya 4 hari ini aku belajar kembali mengeja ‘arti dunia’ yang sampai sekarang belum jelas juga rupa aslinya.. meski kucari dalam setiap renungan, dalam setiap lirikan mata yang kujatuhkan, dalam setiap perhatian yang kutumpahkan, dalam setiap kejadian yang kurekamkan, dalam setiap buku dan kata yang kubaca.. wujudnya sering kali mempermainkanku. Seperti lensa cembung atau cekung atau zigzag yang mencoba menangkap rupa asli sebuah wajah, yang nampak adalah bukan gambaran wajah asli melainkan tipuan lensa. Seperti itulah gambaran kecil dunia dari hasil pengamatanku, aku khawatir lensa yang kugunakan saat ini tidak benar2 mampu menunjukkan rupa asli dunia.. mengapa ia sering menarik perhatianku dan membuyarkan semua konsentrasiku dan apa-apa yang sudah hampir selesai kubenahi?

O, mungkin Allah belum izinkan aku mengenali rupa aslinya, hakikatnya belum jelas dalam diriku, buram dan malah terkadang kabur.. tercampur yang kekal dengan yang fana, teraduk yang palsu dengan yang asli, terbaur yang haq dengan yang bathil.. maka itu takkan lah pernah jelas aku memandangnya. Allah belum izin mungkin karena dosa yang menutupi, membuat orientasiku tidak terfokus pada satu titik sehingga mengelirukan makna asli hakikatnya itu.. oh betapa ruginya diriku, tidak melihat apa yang sebenarnya nampak itu dan tidak merasai apa yang sebenarnya jelas itu.. betapa telah banyak dosa yang kutumpuk sehingga memadamkan ketajaman pandangan hati…

Soal renungan. apalah arti hidup tanpa renungan? Mengapakah manusia-manusia disibukkan dengan hal yang tidak semakin mendekatkannya pada pengenalan diri? mengapakah mereka membiarkan diri meronta menagih apa yang dicari? Mengapakah mereka tidak memenuhi kebutuhan jiwa yang hakiki? Apakah tidak butuh mereka mengenali siapa diri dalam wujud yang asli? Apakah mereka sanggup hidup tanpa tahu siapa pribadi-pribadi mereka? Apakah mereka nyaman menjalani segala aktifitas duniawi tanpa mahu tahu asal usul kehidupan mereka dan kemana mereka akan kembali? 

Oh betapa ruginya bila semua hanya singgah sebentar dalam hati, namun tidak membekaskan sebuah bangunan sistematis dalam fikiran yang memperjelas siapa diri..
Oh betapa ruginya bila mereka membiarkan detik berlalu dengan diisi tawa kosong dan senyuman renyah, sedangkan diri terus bertanya siapa ia??
Oh betapa ruginya mematikan kepekaan jiwa ketika mereka memilih menuruti hawa nafsu yang memuaskan sementara?? Lalu apa, penyesalan? Akankah merubah semua yang mereka lalui?

Sudahlah biarkan saja mereka dengan dunianya itu, mencipta ‘keakuan’ dalam setiap pilihannya itu, toh jiwa yang meredup tidak akan mampu mengeluarkan dirinya sendiri bahkan orang lain, kepada cahaya terang benderang. Bagaimana mungkin menerangi orang lain sedangkan kita sendiri tidak menyadari telah dibekali alat penerang, bahkan tidak tahu alat apa yang bisa dijadikan sebagai penerang, atau mungkin tidak pernah tahu apa itu kegelapan apalagi berusaha menciptakan 'terang'nya. Sungguh, dunia…. Ya seperti kembang api di malam ini. Dari atap rumah terlihat indah, padahal langit merah marah karena api-api yang membakarnya. Lantas setengah mengerang “betapa telah dilalaikannya kalian, kacamata apa yang kalian gunakan sehingga musibah seperti ini kalian rayakan???”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar