Tiada yang lebih menggembirakan hati guru yang tulus
rasanya, selain diam-diam memperhatikan muridnya telah melakukan sesuatu sesuai
dengan yang diajarkan sang guru. Guru itu, meski dalam diamnya, telinga dan matanya
tetap hidup, awas mengawasi, terjaga, sensitif. Ia akan menangkap melalui suara
jika memang matanya tak mampu menjumpai apa yang dialami murid-muridnya.
Seperti siang ini, dan siang-siang yang lain sebetulnya. Aku
terus menghimbau kepada murid-muridku untuk mengerjakan soal ujian tanpa mencontek.
Terus kutanamkan hari kehari meskipun saat menyampaikannya aku sadar bahwa
suaraku hanya ditelan angin, tanpa pernah melalui telinga mereka. Tapi tetap
kusampaikan dengan sedaya usaha mengkondisikan telinga mereka untuk setidaknya
menerima ucapanku sebentar, meski setelahnya mengapung kembali. Kulihat usahaku
memang seperti sia-sia, toh murid-muridku dengan cuek dan santainya melirik
kesana kemari menjumpai jawaban-jawaban yang menghiasi titik-titik dalam setiap
lembaran soal, meskipun kutegur secara terang-terangan. Tapi itu sama sekali
tidak membuatku berhenti ‘memaksa’ mereka untuk mendengarkan ceramahku, baik penyampaiannya
secara langsung, maupun melalui beragam cerita yang kureka-reka sendiri,
terencana, maupun dadakan. hanya semata-mata berusaha untuk memperoleh
perhatian mereka. Dan nyatalah, siang ini. Satu dari sekian hal yang
menggembiarakanku karena terbuktilah dari satu usaha yang dilakukan terus
menerus insyaAllah akan membuahkan hasil juga.
Muridku, yang kutandai telah mengalami banyak perubahan
positif, meskipun aku tidak begitu meyakini segalanya memang ia dapatkan di
sekolah. Setidaknya hari ini dia memperlihatkan lagi perubahannya yang
membuatnya (perubahan itu) semakin tampak signifikan. Ketika kuperhatikan
lekat-lekat satu persatu wajah-wajah lugu mereka –hal yang selalu aku lakukan sebagai upaya
mentransfer harapan besar yang menyesakkan dadaku – sering kali aku terdiam
begitu lama oleh karena asyiknya menyelami dunia mereka masing-masing. Hingga
pandanganku tersangkut pada seorang murid perempuanku yang diam-diam kusadari mengalami
beragam perubahan, dari mulai ketidakmauannya memakai kerudung meskipun itu
bagian dari seragam sekolah, tidak pernah mau baca iqro’ denganku, cuek, tidak
suka dimanja, diperhatikan, kasar, susah diberitahu, dan beragam tingkah lainnya
yang sering menguji kesabaranku.. menjadi murid yang begitu dekat denganku,
sering menjailiku, penurut, menyenangkan, tidak pernah melawan, bahkan
dibanding teman-teman lainnya. Ah, siang ini ia mengejutkanku. Saat mata ini
pas sekali menangkap dirinya yang sedang berusaha meraih penghapus (hendak
meminjam) milik temannya dengan mata tertutup. Sebenarnya sudah 2 kali mataku
menangkap hal ini, tetapi jelaslah maksudnya itu ketika kali kedua
memperhatikannya. Setelah ia gunakan penghapus itu dan hendak ia kembalikan kepada
temannya, sambil meraba meja, ia berusaha meletakkan penghapus itu lagi-lagi
dengan mata tertutup. Sampai sini aku hanya bisa menduga-duga maksudnya
melakukan hal itu sampai terjadi hal ketiga, ketika lembar soal teman yang
duduk tidak jauh darinya terjatuh dan dia berusaha mengambilkannya lagi-lagi
dengan mata tertutup. Taulah aku sekarang dengan sangat yakin, maksudnya
melakukan hal itu. Ia menjaga matanya dari mencontek bahkan melihat jawaban
temannya. Berusaha menyelami alam pikirannya, mungkin lebih baik baginya sama
sekali tidak melihatnya daripada melihatnya tetapi tidak sengaja tercontek.
Ketika di sinilah aku tiba-tiba tidak bisa menahan tawa. Murid-muridku yang
heran mendengar tawaku yang tiba-tiba itu kutenangkan melalui pernyataan
(sambil terus berusaha menahan tawa) “ibu senang, ibu salut dan bangga dengan
kalian yang berusaha untuk tidak niron –bahasa sunda nyontek –“ sambil kuacungi
jempolku ke atas agar kebangganku bisa benar-benar mereka, terutama ia rasakan.
Dan nampaklah senyumnya yang merekah, seakan-akan ia menyadari bahwa aku hanya
berbicara padanya.
Selanjutnya aku kembali kepada kepura-puraanku, tidak lagi
menjejerkan pandanganku. Kubiarkan ia sama bingungnya denganku, sambil terus
tak henti-henti doaku dalam hati.. semoga kau semakin baik nak, semoga kau
terus baik nak, semoga kau semakin baik nak, semoga.. berharap kebingungannya itu kandas karena merasakan
doa yang kupanjatkan dengan hati yang berteriak-teriak itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar