Pages

Kamis, 12 Desember 2013

penyembuh



Tiada yang lebih menggembirakan hati guru yang tulus rasanya, selain diam-diam memperhatikan muridnya telah melakukan sesuatu sesuai dengan yang diajarkan sang guru. Guru itu, meski dalam diamnya, telinga dan matanya tetap hidup, awas mengawasi, terjaga, sensitif. Ia akan menangkap melalui suara jika memang matanya tak mampu menjumpai apa yang  dialami murid-muridnya.

Seperti siang ini, dan siang-siang yang lain sebetulnya. Aku terus menghimbau kepada murid-muridku untuk mengerjakan soal ujian tanpa mencontek. Terus kutanamkan hari kehari meskipun saat menyampaikannya aku sadar bahwa suaraku hanya ditelan angin, tanpa pernah melalui telinga mereka. Tapi tetap kusampaikan dengan sedaya usaha mengkondisikan telinga mereka untuk setidaknya menerima ucapanku sebentar, meski setelahnya mengapung kembali. Kulihat usahaku memang seperti sia-sia, toh murid-muridku dengan cuek dan santainya melirik kesana kemari menjumpai jawaban-jawaban yang menghiasi titik-titik dalam setiap lembaran soal, meskipun kutegur secara terang-terangan. Tapi itu sama sekali tidak membuatku berhenti ‘memaksa’ mereka untuk mendengarkan ceramahku, baik penyampaiannya secara langsung, maupun melalui beragam cerita yang kureka-reka sendiri, terencana, maupun dadakan. hanya semata-mata berusaha untuk memperoleh perhatian mereka. Dan nyatalah, siang ini. Satu dari sekian hal yang menggembiarakanku karena terbuktilah dari satu usaha yang dilakukan terus menerus insyaAllah akan membuahkan hasil juga.

Muridku, yang kutandai telah mengalami banyak perubahan positif, meskipun aku tidak begitu meyakini segalanya memang ia dapatkan di sekolah. Setidaknya hari ini dia memperlihatkan lagi perubahannya yang membuatnya (perubahan itu) semakin tampak signifikan. Ketika kuperhatikan lekat-lekat satu persatu wajah-wajah lugu mereka  –hal yang selalu aku lakukan sebagai upaya mentransfer harapan besar yang menyesakkan dadaku – sering kali aku terdiam begitu lama oleh karena asyiknya menyelami dunia mereka masing-masing. Hingga pandanganku tersangkut pada seorang murid perempuanku yang diam-diam kusadari mengalami beragam perubahan, dari mulai ketidakmauannya memakai kerudung meskipun itu bagian dari seragam sekolah, tidak pernah mau baca iqro’ denganku, cuek, tidak suka dimanja, diperhatikan, kasar, susah diberitahu, dan beragam tingkah lainnya yang sering menguji kesabaranku.. menjadi murid yang begitu dekat denganku, sering menjailiku, penurut, menyenangkan, tidak pernah melawan, bahkan dibanding teman-teman lainnya. Ah, siang ini ia mengejutkanku. Saat mata ini pas sekali menangkap dirinya yang sedang berusaha meraih penghapus (hendak meminjam) milik temannya dengan mata tertutup. Sebenarnya sudah 2 kali mataku menangkap hal ini, tetapi jelaslah maksudnya itu ketika kali kedua memperhatikannya. Setelah ia gunakan penghapus itu dan hendak ia kembalikan kepada temannya, sambil meraba meja, ia berusaha meletakkan penghapus itu lagi-lagi dengan mata tertutup. Sampai sini aku hanya bisa menduga-duga maksudnya melakukan hal itu sampai terjadi hal ketiga, ketika lembar soal teman yang duduk tidak jauh darinya terjatuh dan dia berusaha mengambilkannya lagi-lagi dengan mata tertutup. Taulah aku sekarang dengan sangat yakin, maksudnya melakukan hal itu. Ia menjaga matanya dari mencontek bahkan melihat jawaban temannya. Berusaha menyelami alam pikirannya, mungkin lebih baik baginya sama sekali tidak melihatnya daripada melihatnya tetapi tidak sengaja tercontek. Ketika di sinilah aku tiba-tiba tidak bisa menahan tawa. Murid-muridku yang heran mendengar tawaku yang tiba-tiba itu kutenangkan melalui pernyataan (sambil terus berusaha menahan tawa) “ibu senang, ibu salut dan bangga dengan kalian yang berusaha untuk tidak niron –bahasa sunda nyontek –“ sambil kuacungi jempolku ke atas agar kebangganku bisa benar-benar mereka, terutama ia rasakan. Dan nampaklah senyumnya yang merekah, seakan-akan ia menyadari bahwa aku hanya berbicara padanya.

Selanjutnya aku kembali kepada kepura-puraanku, tidak lagi menjejerkan pandanganku. Kubiarkan ia sama bingungnya denganku, sambil terus tak henti-henti doaku dalam hati.. semoga kau semakin baik nak, semoga kau terus baik nak, semoga kau semakin baik nak, semoga.. berharap kebingungannya itu kandas karena merasakan doa yang kupanjatkan dengan hati yang berteriak-teriak itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar