Pages

Kamis, 20 Februari 2014

Naik Gunung





Bukan aku sudah membencinya. Sejak SMA, ini resmi menjadi hobiku. Bahkan hasrat itu sudah terpendam jauh sejak aku duduk di bangku SD. Jauh sebelum layar televisi dipenuh oleh segala hal tentang gunung, pendakian, mimpi dan persahabatan akibat ‘booming’-nya sebuah novel yang akhirnya diangkat menjadi film layar lebar dan kemudian mewarnai aktivitas anak-anak muda jaman sekarang. Aku sudah menelannya bahkan sejak duduk dibangku SMP, juga buku-buku lainnya yang berbau gunung, pendakian dan mimpi.

Mungkin perkiraanku saat usiaku sekitar 5 tahun. Saat bunda mengajakku dan adikku berkunjung ke sebuah tempat wisata yang takkan pernah kulupakan. Tidak begitu jelas ingatanku ketika mengingatnya, yang jelas kuingat adalah di sanalah awal mula aku punya keinginan mendaki gunung. Cibodas. Meski yang terekam dalam memori otakku adalah dinginnya air sungai tempat aku dan adikku merendam tubuh, peristiwa basahnya celana yang dibawa sehingga mengharuskanku meminjam celana adikku yang bergambar lambang Batman –celana favoritku waktu itu-, dan terowongan dinosaurus yang menjadi jalan utama untuk masuk ke camping ground Cibodas. Masih terekam dengan jelas juga ketika perhatianku tertuju pada barisan manusia yang hampir semuanya menggendong ransel besar. Aku lupa bagaimana awal mulanya hingga akhirnya aku bisa bertanya langsung kepada mereka untuk mengobati rasa penasaranku, dan penjelasannya inilah, aku ulangi, penjelasannya inilah yang akhirnya membuahkan dorongan besar bagiku untuk mendaki gunung. “di atas gunung, ada salju” “bagaimana caranya sampai ke atas pak?” “ikutin aja buntut dinosaurus ini”. Inilah kurang lebih percakapan singkat antara aku dan seorang lelaki yang menjadi bagian dari rombongan bertas besar, atau hari ini aku mengenalnya dengan sebutan ‘cariel’. Mungkin sejak saat itulah azam itu mulai hadir. Sehingga melahirkan harapan-harapan yang terus menetap di sana.

Hasrat ini mulai terejawantahkan saat aku duduk dikelas 6 SD, saat itu berbagai informasi sejak dini lagi kugali mengenai gunung dan pendakian. Adakah tempat yang memungkinkan untuk menghantarkanku sampai ke puncak gunung? Hingga timbul rencana demi rencana yang tak kunjung terealisasi, ntah karena apa faktornya. Mungkin karena umur. Tidak berhenti sampai di sana, seingatku kelas 6 SD itulah aku mengenal sebuah ekstrakulikuler yang ‘berpotensi’ menyalurkan hasrat terpendamku itu. brigade life skill. Dari namanya pun sudah nampak maksud dari ekskul (begitulah istilah ini disingkat) ini. Meski ada kekecewaan yang teramat, begitu tau bahwa ekskul ini tidak akan memfasilitasi kami naik gunung, karena memang tingkat SD dianggap terlalu dini untuk kelas pendakian gunung. Rasa sedih itu disiasati dengan program ekskul yaitu mengadakan acara kemping akhir tahun. Dan sedikit melegakan ketika tahu bahwa kemping akan berlokasi di Cibodas. Inilah kali kedua aku menapak tanah itu lagi. Peristiwa kedua yang tidak juga akan aku lupakan insyaAllah, adalah peristiwa yang terjadi saat kemping. Saat malam tiba dan hujan lebat turun dengan sangat deras dan memporak-porandakan tenda dan juga tawa kami, berganti tangisan, jeritan dan ungsian di mushola dekat camping ground. Selanjutnya, aku tak ingat lagi, selain saat dimana kupandang lekat-lekat jalanan mendaki tepat di pos panyangcangan, pos terakhir sebelum sampai di air terjun cibereum. Seingatku, tidak jauh dari pos itulah perjalanan akan terbagi menjadi dua, yang satu menuju curug atau  air terjun tempat kami (peserta kemping) mengakhiri perjalanan kami. Dan satu lagi menuju trek pendakian puncak gede yang akan melalui curug air panas. Timbul beragam bayangan yang berkelebat, apakah jika aku memilih untuk meneruskan perjalanan ke atas aku akan sampai ke puncak gunung? Apakah aku akan melihat segala yang dilihat oleh para pendaki? Bagaimana rasanya sampai ke puncak? Benarkah di atas sana ada salju? Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi sebuah misteri yang tak terkuak meski itu sama sekali tidak meredam hasrat untuk menemukan semua jawabnya..

Hingga kulalui masa-masa yang sungguh menjenuhkan dalam menunggu. 3 tahun. Ya, selama SMP aku tidak menemukan sama sekali wadah yang bisa menampung hasrat yang masih menggebu itu. sebagai alternatif, aku ambil ekskul basket. Dan ntah bagaimana aku bisa bertahan memendam itu. meski terus kugali informasi mengenai dunia pendakian melalui buku-buku yang sempat mampir di kamarku, ntah kupinjam dari perpustakaan, maupun dari temanku. Salah satunya ialah buku 5CM itu, yang akhirnya dihibahkan kepadaku, mungkin terpaksa dihibahkan karena tidak juga kunjung kembali kepada pemiliknya oleh karena sipeminjam sangat menyukainya. Buku inilah yang semakin menyuburkan apa yang sudah tertanam begitu lama.


Hingga sampailah aku kepada jenjang yang begitu diidam-idamkan pelajar berseragam. Jenjang terakhir menikmati masa-masa berseragam. SMA. Di sinilah, saat hasrat itu menemui penyalurannya, terbayarkan dengan cara yang begitu apik dan indah., sebagai buah dari kesabaran dan pengendalian nafsu yang cukup lama kulalui. Meski pada awalnya, penentangan justru datang dari bundaku. Bunda yang selama sebelumnya terus mendengarkan mimpi-mimpiku, mimpi-mimpi pendakian, mimpi berjumpa salju, mimpi menapak puncak. Mungkin bunda kira, mimpi-mimpi itu akan kandas seiring berjalannya waktu, waktu yang tidak mempertemukanku pada jalan memenuhi mimpi-mimpi itu. mungkin. Tapi nyatanya Allah berkehendak lain. Sedikit memaksa dengan tetap dalam keridhoan bunda, aku bergabung dengan tim pecinta alam di sekolahku. Tiada ada tujuan lain. Hanya untuk naik gunung. Hanya yang tidak hanya jika itu yang menjadi harapan tak tertunaikan hampir selama 10 tahun lamanya. Dan bunda yang kuyakini dengan juga menahan sesuatu yang dikhawatirkannya bukan semata-mata karena egonya, tetapi karena pengetahuannya, tetap memberiku kesempatan bahkan berusaha terus mendukungku, sehingga kudapatkan izinnya saat pendakian pertamaku. Gunung Gede. Mungkin kali ketiga menginjak tanahnya, tanah Cibodas. Tetapi kali pertama terus menapak jalannya, bukan sampai panyangcangan, bukan juga cibereum, bukan hanya air terjun panas.. tapi terus ke atas. Terus, berharap menemukan jawaban atas setiap pertanyaan yang pernah singgah.

Hari itu Desember, tahun 2007 masehi. Tanggalnya antara 25-27,  masa-masa awal aku duduk dibangku SMA dan tepat saat musim hujan. Inilah perjalanan pertamaku, perjalanan pertama yang kusambut dengan begitu gembira. Hampir tanpa kekhawatiran. Seperti bukan hendak berjumpa hutan belantara, dingin yang begitu menusuk, kabut yang begitu pekat, jurang-jurang dalam dan lain yang hampir sama sekali tidak kukhawatirkan, bahkan kupikirkan. Aku hanya menikmati satu rasa asing dalam dadaku, yang sulit kugambarkan, saat pijakan kakiku menginjak tanah lembabnya, saat telingaku menikmati suara sunyinya, saat tubuhku menyentuh atmosfernya, saat aku berada dalam tubuh kekarnya. Hingga teringat pesan ayahku sebelum aku pergi mendaki “gunung itu makhluk Allah juga kak, jadi saat kakak nanti menginjakkan kaki ke gunung, sampaikan salam padanya” dan benar, itulah yang aku lakukan. Aku lakukan dengan ketidak percayaan dalam kenyataan yang benar-benar kulalui. Mendaki. Tercerminlah sesuatu yang dirasa hati ini oleh rekan-rekan seperjalananku. Berkali-kali dengan sadar dan tidak sadar, aku terus mengatakan “sak, lo naik gunung. Ini gunung. Lo lagi daki gunung” hingga mereka hanya bisa tersenyum sempit berusaha memaklumi bicara ‘ngawur’ku itu. ya, dan ini menjadi energi yang kurasai sepanjang kaki ini masih bisa terus mendaki. Aku begitu gembira hingga tanjakan-tanjakan curam hanya membuatku semakin gembira. Rasa itu memberikanku energi besar. Bahkan energi ini yang atas izin Allah tetap menjadi tenagaku melalui badai besar di alun-alun surya kencana, meski kulihat satu persatu temanku roboh bergantian, jantung, ashma dan bronhitis. Jarak pandang yang hanya mampu menembus tidak lebih dari 5 meter oleh karena kabut yang teramat pekat. Dan angin yang berhembus seperti hendak menerbangkan semua yang hendak menghalanginya, rasa dingin yang tidak lagi dirasa karena anggota tubuh yang satu persatu mati rasa, dan hujan yang hanya membuat perih mata. Benar-benar keadaan yang menyulitkan. Rupanya  akhir tahun adalah ‘pesta badai’, yang karenanya kami harus terus berdiam selama hampir 4 hari di atas gunung tanpa bisa kemana-mana, tidur dalam keadaan basah sekujur tubuh, tak ada baju ganti karena diutamakan untuk mereka yang sakit, dan makanan seadanya. Hingga datang pertolongan dari ranger gunung yang alhamdulillah cukup membantu kami.

Satu gunung ke gunung lainnya, perjalanan dua jam hingga 26 jam. Lintas kota, bahkan provinsi kulalui untuk sebuah pendakian. Masa kuhabisi, uang kucari, tenaga kukerahi. Tanpa membawa sesuatu yang seharusnya kubawa. Bukan senter, raint coat, nesting, headlamp, victorinox dan lainnya. Ya... aku telah melupakan sesuatu. Sesuatu yang begitu penting. Jika segalanya kulakukan hanya untuk mendaki gunung... lalu untuk apa aku mendaki gunung? Ini yang terlupa dan tertinggal. Apa artinya jawaban tanpa sebuah pertanyaan? Apakah itu akan menjadi sebuah makna?

Tujuan. Ya, aku melalui semuanya tanpa tujuan. Sehingga jawaban itu tidak pernah menjawab pertanyaan sebenarnya. Kusadari ini semua justru saat aku berhenti mendaki. Setidaknya tidak melakukan pendakian dalam jangka waktu satu tahun cukuplah dibilang sebagai pemberhentian. Itu karena aku mengalami fase yang menjadi sebuah titik balik dalam hidupku, fase yang menyadarkanku bahwa ada tanya yang belum terjawab karena aku terlena dengan jawaban-jawaban semu. Karena aku lupa berfikir mungkin. Dan betapa fatalnya ini untukku. meskipun dalam kekecewaan ada syukur yang begitu besar karena sadar aku telah melalaikannya. Seperti seorang yang berbuat salah menyadari kesalahannya, meskipun ia pernah salah, tapi satu kesyukuran ia tahu bahwa ia pernah salah. Bukankah akan banyak pelajaran dari kesalahan yang ia sadari itu? begitu kiranya diriku.

Fase yang begitu berat, namun kutahu ini semua cara untukku menebus kesalahan. Kesalahan atas segala kelalaianku, kesalahan telah menyia-nyiakan waktu, kesalahan untuk tidak berfikir padahal aku mampu, kesalahan karena tidak melihat padahal ia ada. Kesalahan yang menyingkap pandanganku, menyadarkanku bahwa sebelumnya aku tidak melihat. Tidak benar-benar merasakan. Jika kuceritakan akan terlalu sangat panjang, karena kisah ini harus selesai. Jika tidak, aku telah menuliskan sesuatu yang sia-sia sebagai sarana pemenuhan hawa nafsuku sendiri. Aku telah banyak membuang waktuku. Ya, jadi sebaiknya aku jelaskan segala maksudnya itu.

Aku belajar melihat justru ketika sedang tidak melihat, aku belajar mendaki justru saat tidak mendaki, aku menikmati meski tidak mengalami. Meski itu semua pernah kulalui. Ini adalah jawaban mengapa aku tidak atau mungkin belum lagi mendaki. Puncak itu bukan di sana, atau mungkin bukan hanya di sana. Puncak-puncak yang kulalui hanyalah kendaraan mencapai puncak sebenarnya. Itulah mungkin mengapa hampir selalunya para pendaki tidak pernah merasa puas dengan pendakian yang dilaluinya, ia akan menagih puncak-puncak berikutnya. Karena mungkin pertanyaan itu ada dalam dirinya, tetapi dalam setiap pendakian ia terpendam dengan tujuan-tujuan lainnya. Jadilah ia pergi dan pulang tanpa membawa sesuatu. Ia bisa begitu berdecak melihat keindahan alam yang ia yakini ciptaan Tuhan, ia puji-puji Tuhan, ia merasa bahagia dengannya. Tapi sungguh itu sama sekali tidak membekaskan perubahan dalam dirinya. Karena ia tidak tahu itu semua untuk apa, untuk apa Tuhan menciptakan itu semua. Ini adalah soal hati. Aku seperti disaksikan pada sebuah perbandingan yang begitu mengejutkan.

Padahal ia berada pada situasi yang tidak dialami setiap orang, ia melihat sesuatu yang bahkan mungkin tidak akan pernah dilihat seseorang seumur hidupnya, ia merasakan berbagai rasa yang tidak diberikan pada setiap orang, inderanya terpuaskan tetapi batinnya tidak. Karena dia tak pernah tahu untuk apa itu semua. Ia tak mampu membaca pesan yang dilihat, didengar dan dirasakannya. Ya, pesan. Ini yang menentukan puncak sebenarnya itu. betapa ruginya orang-orang yang sudah berada pada posisi yang begitu dekat, tetapi tidak mampu jua melihat. Sedangkan yang jauh begitu terhibur hanya melalui susunan huruf dan kata yang dibacanya, tetapi ia sampai kepada kenikmatan yang bahkan lebih dikarenakan hati yang hidup.

Betapa akhirnya keherananku terjawab, kenapa seorang pendaki bisa mengingkari perintah Tuhannya (hal yang tak jarang kutemui dulu), disaat ia menyaksikan keindahan ciptaanNya, bersamaan dengan dia tenggak minuman memabukkan dengan alasan untuk menghangatkan tubuhnya? Kemana pujiannya itu? ia tujukan pada siapa? Ia seruput lintingan haram sebagai perpaduan harmoni alam katanya. Ia tinggalkan kewajiban menunaikan sholat, sebagai kompensasi kelelahannya. Ia legalkan segala keinginannya, tidak peduli pada kemurkaan Allah, padahal ia sedang berada di atas ciptaan Allah (gunung) yang tak pernah berhenti bertasbih padaNya, mengingatNya dan memujiNya. Bisa-bisanya ia merasa aman dan segalanya baik-baik saja, padahal ia diberikan kesempatan yang tidak semua orang mampu merasakannya dan seharusnya menghasilkan kualitas yang lebih baik daripada yang tidak berkesempatan mengalaminya. Sungguh. Yang salah bukan pada mata, karena mata sama melihat, tetapi mata hati. Sejauh apapun perjalanan yang ditempuh seseorang, jika tanpa tujuan utama ia tidak akan pernah mendapatkannya. Setinggi apapun puncak yang ditapakinya jika tidak untuk menambah keimanan, itu tidak akan berarti apa-apa untuknya. Kesan itu akan menempel sebentar selanjutnya hanya menjadi sebuah nostalgia tak bermakna. Ia akan kembali kepada kehidupannya yang justru jauh dari Tuhan. Matanya terbuka tetapi mata hatinya tertutup. Naudzubillah.

Sedangkan di sisi lain, dibelahan bumi lainnya, di tanah-tanah tandus dan datar bahkan mungkin jauh di kedalamannya lagi, disebuah ruangan sempit nan pengap, gelap dan sepi. Seorang mampu merasakan jauh diluar apa yang dialami oleh tubuhnya. Merasai kenikmatan karena keyakinannya bahwa keterasingan, kesendirian hanya membuatnya semakin dekat dengan penciptanya, kepedihannya dijadikan ajang mencari perhatian Allah, dan karenanya ia menikmatinya. Bahkan mungkin jauh lebih menikmati daripada yang menyaksikan keindahan cipatanNya yang lain tetapi hatinya tak mampu membaca semua maksudnya. Ia berhenti disana. Tanpa menangkap maksud disebaliknya, tanpa menjadikannya sebuah bacaan yang harus ia pahami. Ia tidak mampu mendaki ketempat yang lebih tinggi meskipun semakin tinggi tanah yang didaki. Sedangkan orang dalam jeruji besi tadi, hukuman yang didapat karena justru meyakini kekuasaan dan kebesaran Allah Ta’ala, mampu menembusi bukan saja puncak-puncak gunung yang mampu dipijak manusia, malah jauh lagi di atas itu.. menembusinya... menerobosnya.. sehingga hampir menjadi penglihatan yang sebenarnya. Tak lagi yang dilihatnya kegelapan, kesempitan, dan kesendiriannya ketika ia meyakini bahwa kehidupan dunia adalah lebih singkat daripada pergantian siang dan malam, lebih kecil daripada tetesan air yang jatuh dari jari-jari tangan dibanding luasnya samudera yang memenuhi bumi. Melalui firman-firman Allah yang termaktub dalam kitab yang selalu dibacanya, direnungkannya, dipelajarinya, dihapalkannya ia bisa ‘hidup’ diluar jerujinya, ia bisa menikmati kesengsaraannya. Baginya itu cukup meskipun ia tak pernah sampai pada puncak-puncak tertinggi di bumi. Jika itu sebuah sarana, mengapa tidak memilih cara yang lebih cepat sampai pada tujuan sejati?

Lalu... aku bertanya.. benarkah apa yang telah kuhabisi menghantarkanku pada ketidaksia-siaan? Benarkan aku telah memandang dengan pandangan yang benar? Benarkan aku telah diizinkanNya terus berjalan menuju tujuan sejati melalui segala tanda yang diperlihatkanNya?
Sungguh yang salah bukan pada mata, karena mata sama melihat. Tetapi mata hati, sampaikah kita pada apa yang seharusnya kita lihat dan yakini? Allahu a’lam bish Shawab   

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar