Mungkin perkiraanku saat usiaku sekitar 5
tahun. Saat bunda mengajakku dan adikku berkunjung ke sebuah tempat wisata yang
takkan pernah kulupakan. Tidak begitu jelas ingatanku ketika mengingatnya, yang
jelas kuingat adalah di sanalah awal mula aku punya keinginan mendaki gunung.
Cibodas. Meski yang terekam dalam memori otakku adalah dinginnya air sungai
tempat aku dan adikku merendam tubuh, peristiwa basahnya celana yang dibawa
sehingga mengharuskanku meminjam celana adikku yang bergambar lambang Batman
–celana favoritku waktu itu-, dan terowongan dinosaurus yang menjadi jalan
utama untuk masuk ke camping ground Cibodas.
Masih terekam dengan jelas juga ketika perhatianku tertuju pada barisan manusia
yang hampir semuanya menggendong ransel besar. Aku lupa bagaimana awal mulanya
hingga akhirnya aku bisa bertanya langsung kepada mereka untuk mengobati rasa
penasaranku, dan penjelasannya inilah, aku ulangi, penjelasannya inilah yang
akhirnya membuahkan dorongan besar bagiku untuk mendaki gunung. “di atas
gunung, ada salju” “bagaimana caranya sampai ke atas pak?” “ikutin aja buntut
dinosaurus ini”. Inilah kurang lebih percakapan singkat antara aku dan seorang
lelaki yang menjadi bagian dari rombongan bertas besar, atau hari ini aku
mengenalnya dengan sebutan ‘cariel’. Mungkin sejak saat itulah azam itu mulai
hadir. Sehingga melahirkan harapan-harapan yang terus menetap di sana.
Hasrat ini mulai terejawantahkan saat aku
duduk dikelas 6 SD, saat itu berbagai informasi sejak dini lagi kugali mengenai
gunung dan pendakian. Adakah tempat yang memungkinkan untuk menghantarkanku
sampai ke puncak gunung? Hingga timbul rencana demi rencana yang tak kunjung
terealisasi, ntah karena apa faktornya. Mungkin karena umur. Tidak berhenti
sampai di sana, seingatku kelas 6 SD itulah aku mengenal sebuah ekstrakulikuler
yang ‘berpotensi’ menyalurkan hasrat terpendamku itu. brigade life skill. Dari namanya pun sudah nampak maksud dari
ekskul (begitulah istilah ini disingkat) ini. Meski ada kekecewaan yang
teramat, begitu tau bahwa ekskul ini tidak akan memfasilitasi kami naik gunung,
karena memang tingkat SD dianggap terlalu dini untuk kelas pendakian gunung.
Rasa sedih itu disiasati dengan program ekskul yaitu mengadakan acara kemping
akhir tahun. Dan sedikit melegakan ketika tahu bahwa kemping akan berlokasi di
Cibodas. Inilah kali kedua aku menapak tanah itu lagi. Peristiwa kedua yang
tidak juga akan aku lupakan insyaAllah, adalah peristiwa yang terjadi saat
kemping. Saat malam tiba dan hujan lebat turun dengan sangat deras dan
memporak-porandakan tenda dan juga tawa kami, berganti tangisan, jeritan dan
ungsian di mushola dekat camping ground. Selanjutnya, aku tak ingat lagi,
selain saat dimana kupandang lekat-lekat jalanan mendaki tepat di pos
panyangcangan, pos terakhir sebelum sampai di air terjun cibereum. Seingatku,
tidak jauh dari pos itulah perjalanan akan terbagi menjadi dua, yang satu
menuju curug atau air terjun tempat kami
(peserta kemping) mengakhiri perjalanan kami. Dan satu lagi menuju trek
pendakian puncak gede yang akan melalui curug air panas. Timbul beragam
bayangan yang berkelebat, apakah jika aku memilih untuk meneruskan perjalanan
ke atas aku akan sampai ke puncak gunung? Apakah aku akan melihat segala yang
dilihat oleh para pendaki? Bagaimana rasanya sampai ke puncak? Benarkah di atas
sana ada salju? Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi sebuah misteri yang tak
terkuak meski itu sama sekali tidak meredam hasrat untuk menemukan semua jawabnya..
Hingga kulalui masa-masa yang sungguh
menjenuhkan dalam menunggu. 3 tahun. Ya, selama SMP aku tidak menemukan sama
sekali wadah yang bisa menampung hasrat yang masih menggebu itu. sebagai
alternatif, aku ambil ekskul basket. Dan ntah bagaimana aku bisa bertahan
memendam itu. meski terus kugali informasi mengenai dunia pendakian melalui buku-buku
yang sempat mampir di kamarku, ntah kupinjam dari perpustakaan, maupun dari
temanku. Salah satunya ialah buku 5CM itu, yang akhirnya dihibahkan kepadaku,
mungkin terpaksa dihibahkan karena tidak juga kunjung kembali kepada pemiliknya
oleh karena sipeminjam sangat menyukainya. Buku inilah yang semakin menyuburkan
apa yang sudah tertanam begitu lama.
Hingga sampailah aku kepada jenjang yang
begitu diidam-idamkan pelajar berseragam. Jenjang terakhir menikmati masa-masa berseragam.
SMA. Di sinilah, saat hasrat itu menemui penyalurannya, terbayarkan dengan cara
yang begitu apik dan indah., sebagai buah dari kesabaran dan pengendalian nafsu
yang cukup lama kulalui. Meski pada awalnya, penentangan justru datang dari
bundaku. Bunda yang selama sebelumnya terus mendengarkan mimpi-mimpiku,
mimpi-mimpi pendakian, mimpi berjumpa salju, mimpi menapak puncak. Mungkin
bunda kira, mimpi-mimpi itu akan kandas seiring berjalannya waktu, waktu yang
tidak mempertemukanku pada jalan memenuhi mimpi-mimpi itu. mungkin. Tapi
nyatanya Allah berkehendak lain. Sedikit memaksa dengan tetap dalam keridhoan
bunda, aku bergabung dengan tim pecinta alam di sekolahku. Tiada ada tujuan
lain. Hanya untuk naik gunung. Hanya yang tidak hanya jika itu yang menjadi
harapan tak tertunaikan hampir selama 10 tahun lamanya. Dan bunda yang kuyakini
dengan juga menahan sesuatu yang dikhawatirkannya bukan semata-mata karena
egonya, tetapi karena pengetahuannya, tetap memberiku kesempatan bahkan
berusaha terus mendukungku, sehingga kudapatkan izinnya saat pendakian
pertamaku. Gunung Gede. Mungkin kali ketiga menginjak tanahnya, tanah Cibodas.
Tetapi kali pertama terus menapak jalannya, bukan sampai panyangcangan, bukan
juga cibereum, bukan hanya air terjun panas.. tapi terus ke atas. Terus, berharap
menemukan jawaban atas setiap pertanyaan yang pernah singgah.
Hari itu Desember, tahun 2007 masehi.
Tanggalnya antara 25-27, masa-masa awal
aku duduk dibangku SMA dan tepat saat musim hujan. Inilah perjalanan pertamaku,
perjalanan pertama yang kusambut dengan begitu gembira. Hampir tanpa
kekhawatiran. Seperti bukan hendak berjumpa hutan belantara, dingin yang begitu
menusuk, kabut yang begitu pekat, jurang-jurang dalam dan lain yang hampir sama
sekali tidak kukhawatirkan, bahkan kupikirkan. Aku hanya menikmati satu rasa
asing dalam dadaku, yang sulit kugambarkan, saat pijakan kakiku menginjak tanah lembabnya, saat telingaku menikmati suara sunyinya, saat tubuhku menyentuh
atmosfernya, saat aku berada dalam tubuh kekarnya. Hingga teringat pesan ayahku
sebelum aku pergi mendaki “gunung itu makhluk Allah juga kak, jadi saat kakak
nanti menginjakkan kaki ke gunung, sampaikan salam padanya” dan benar, itulah
yang aku lakukan. Aku lakukan dengan ketidak percayaan dalam kenyataan yang
benar-benar kulalui. Mendaki. Tercerminlah sesuatu yang dirasa hati ini oleh
rekan-rekan seperjalananku. Berkali-kali dengan sadar dan tidak sadar, aku
terus mengatakan “sak, lo naik gunung. Ini gunung. Lo lagi daki gunung” hingga
mereka hanya bisa tersenyum sempit berusaha memaklumi bicara ‘ngawur’ku itu.
ya, dan ini menjadi energi yang kurasai sepanjang kaki ini masih bisa terus
mendaki. Aku begitu gembira hingga tanjakan-tanjakan curam hanya membuatku
semakin gembira. Rasa itu memberikanku energi besar. Bahkan energi ini yang
atas izin Allah tetap menjadi tenagaku melalui badai besar di alun-alun surya
kencana, meski kulihat satu persatu temanku roboh bergantian, jantung, ashma
dan bronhitis. Jarak pandang yang hanya mampu menembus tidak lebih dari 5 meter
oleh karena kabut yang teramat pekat. Dan angin yang berhembus seperti hendak
menerbangkan semua yang hendak menghalanginya, rasa dingin yang tidak lagi
dirasa karena anggota tubuh yang satu persatu mati rasa, dan hujan yang hanya
membuat perih mata. Benar-benar keadaan yang menyulitkan. Rupanya akhir tahun adalah ‘pesta badai’, yang
karenanya kami harus terus berdiam selama hampir 4 hari di atas gunung tanpa
bisa kemana-mana, tidur dalam keadaan basah sekujur tubuh, tak ada baju ganti
karena diutamakan untuk mereka yang sakit, dan makanan seadanya. Hingga datang
pertolongan dari ranger gunung yang alhamdulillah cukup membantu kami.
Satu gunung ke gunung lainnya, perjalanan dua
jam hingga 26 jam. Lintas kota, bahkan provinsi kulalui untuk sebuah pendakian.
Masa kuhabisi, uang kucari, tenaga kukerahi. Tanpa membawa sesuatu yang
seharusnya kubawa. Bukan senter, raint coat, nesting, headlamp, victorinox dan
lainnya. Ya... aku telah melupakan sesuatu. Sesuatu yang begitu penting. Jika
segalanya kulakukan hanya untuk mendaki gunung... lalu untuk apa aku mendaki
gunung? Ini yang terlupa dan tertinggal. Apa artinya jawaban tanpa sebuah
pertanyaan? Apakah itu akan menjadi sebuah makna?
Tujuan. Ya, aku melalui semuanya tanpa tujuan.
Sehingga jawaban itu tidak pernah menjawab pertanyaan sebenarnya. Kusadari ini
semua justru saat aku berhenti mendaki. Setidaknya tidak melakukan pendakian
dalam jangka waktu satu tahun cukuplah dibilang sebagai pemberhentian. Itu
karena aku mengalami fase yang menjadi sebuah titik balik dalam hidupku, fase yang
menyadarkanku bahwa ada tanya yang belum terjawab karena aku terlena dengan
jawaban-jawaban semu. Karena aku lupa berfikir mungkin. Dan betapa fatalnya ini
untukku. meskipun dalam kekecewaan ada syukur yang begitu besar karena sadar
aku telah melalaikannya. Seperti seorang yang berbuat salah menyadari
kesalahannya, meskipun ia pernah salah, tapi satu kesyukuran ia tahu bahwa ia
pernah salah. Bukankah akan banyak pelajaran dari kesalahan yang ia sadari itu?
begitu kiranya diriku.
Fase yang begitu berat, namun kutahu ini semua
cara untukku menebus kesalahan. Kesalahan atas segala kelalaianku, kesalahan
telah menyia-nyiakan waktu, kesalahan untuk tidak berfikir padahal aku mampu,
kesalahan karena tidak melihat padahal ia ada. Kesalahan yang menyingkap pandanganku,
menyadarkanku bahwa sebelumnya aku tidak melihat. Tidak benar-benar merasakan.
Jika kuceritakan akan terlalu sangat panjang, karena kisah ini harus selesai.
Jika tidak, aku telah menuliskan sesuatu yang sia-sia sebagai sarana pemenuhan
hawa nafsuku sendiri. Aku telah banyak membuang waktuku. Ya, jadi sebaiknya aku
jelaskan segala maksudnya itu.
Aku belajar melihat justru ketika sedang tidak
melihat, aku belajar mendaki justru saat tidak mendaki, aku menikmati meski
tidak mengalami. Meski itu semua pernah kulalui. Ini adalah jawaban mengapa aku
tidak atau mungkin belum lagi mendaki. Puncak itu bukan di sana, atau mungkin
bukan hanya di sana. Puncak-puncak yang kulalui hanyalah kendaraan mencapai
puncak sebenarnya. Itulah mungkin mengapa hampir selalunya para pendaki tidak
pernah merasa puas dengan pendakian yang dilaluinya, ia akan menagih
puncak-puncak berikutnya. Karena mungkin pertanyaan itu ada dalam dirinya,
tetapi dalam setiap pendakian ia terpendam dengan tujuan-tujuan lainnya.
Jadilah ia pergi dan pulang tanpa membawa sesuatu. Ia bisa begitu berdecak
melihat keindahan alam yang ia yakini ciptaan Tuhan, ia puji-puji Tuhan, ia
merasa bahagia dengannya. Tapi sungguh itu sama sekali tidak membekaskan
perubahan dalam dirinya. Karena ia tidak tahu itu semua untuk apa, untuk apa
Tuhan menciptakan itu semua. Ini adalah soal hati. Aku seperti disaksikan pada
sebuah perbandingan yang begitu mengejutkan.
Padahal ia berada pada situasi yang tidak
dialami setiap orang, ia melihat sesuatu yang bahkan mungkin tidak akan pernah
dilihat seseorang seumur hidupnya, ia merasakan berbagai rasa yang tidak
diberikan pada setiap orang, inderanya terpuaskan tetapi batinnya tidak. Karena
dia tak pernah tahu untuk apa itu semua. Ia tak mampu membaca pesan yang dilihat,
didengar dan dirasakannya. Ya, pesan. Ini yang menentukan puncak sebenarnya
itu. betapa ruginya orang-orang yang sudah berada pada posisi yang begitu
dekat, tetapi tidak mampu jua melihat. Sedangkan yang jauh begitu terhibur
hanya melalui susunan huruf dan kata yang dibacanya, tetapi ia sampai kepada
kenikmatan yang bahkan lebih dikarenakan hati yang hidup.
Betapa akhirnya keherananku terjawab, kenapa
seorang pendaki bisa mengingkari perintah Tuhannya (hal yang tak jarang kutemui
dulu), disaat ia menyaksikan keindahan ciptaanNya, bersamaan dengan dia tenggak
minuman memabukkan dengan alasan untuk menghangatkan tubuhnya? Kemana pujiannya
itu? ia tujukan pada siapa? Ia seruput lintingan haram sebagai perpaduan
harmoni alam katanya. Ia tinggalkan kewajiban menunaikan sholat, sebagai
kompensasi kelelahannya. Ia legalkan segala keinginannya, tidak peduli pada
kemurkaan Allah, padahal ia sedang berada di atas ciptaan Allah (gunung) yang
tak pernah berhenti bertasbih padaNya, mengingatNya dan memujiNya. Bisa-bisanya
ia merasa aman dan segalanya baik-baik saja, padahal ia diberikan kesempatan
yang tidak semua orang mampu merasakannya dan seharusnya menghasilkan kualitas
yang lebih baik daripada yang tidak berkesempatan mengalaminya. Sungguh. Yang
salah bukan pada mata, karena mata sama melihat, tetapi mata hati. Sejauh
apapun perjalanan yang ditempuh seseorang, jika tanpa tujuan utama ia tidak
akan pernah mendapatkannya. Setinggi apapun puncak yang ditapakinya jika tidak
untuk menambah keimanan, itu tidak akan berarti apa-apa untuknya. Kesan itu
akan menempel sebentar selanjutnya hanya menjadi sebuah nostalgia tak bermakna.
Ia akan kembali kepada kehidupannya yang justru jauh dari Tuhan. Matanya
terbuka tetapi mata hatinya tertutup. Naudzubillah.
Sedangkan di sisi lain, dibelahan bumi
lainnya, di tanah-tanah tandus dan datar bahkan mungkin jauh di kedalamannya
lagi, disebuah ruangan sempit nan pengap, gelap dan sepi. Seorang mampu
merasakan jauh diluar apa yang dialami oleh tubuhnya. Merasai kenikmatan karena
keyakinannya bahwa keterasingan, kesendirian hanya membuatnya semakin dekat
dengan penciptanya, kepedihannya dijadikan ajang mencari perhatian Allah, dan
karenanya ia menikmatinya. Bahkan mungkin jauh lebih menikmati daripada yang
menyaksikan keindahan cipatanNya yang lain tetapi hatinya tak mampu membaca
semua maksudnya. Ia berhenti disana. Tanpa menangkap maksud disebaliknya, tanpa
menjadikannya sebuah bacaan yang harus ia pahami. Ia tidak mampu mendaki
ketempat yang lebih tinggi meskipun semakin tinggi tanah yang didaki. Sedangkan
orang dalam jeruji besi tadi, hukuman yang didapat karena justru meyakini
kekuasaan dan kebesaran Allah Ta’ala, mampu menembusi bukan saja puncak-puncak
gunung yang mampu dipijak manusia, malah jauh lagi di atas itu..
menembusinya... menerobosnya.. sehingga hampir menjadi penglihatan yang
sebenarnya. Tak lagi yang dilihatnya kegelapan, kesempitan, dan kesendiriannya
ketika ia meyakini bahwa kehidupan dunia adalah lebih singkat daripada pergantian
siang dan malam, lebih kecil daripada tetesan air yang jatuh dari jari-jari
tangan dibanding luasnya samudera yang memenuhi bumi. Melalui firman-firman
Allah yang termaktub dalam kitab yang selalu dibacanya, direnungkannya,
dipelajarinya, dihapalkannya ia bisa ‘hidup’ diluar jerujinya, ia bisa menikmati
kesengsaraannya. Baginya itu cukup meskipun ia tak pernah sampai pada
puncak-puncak tertinggi di bumi. Jika itu sebuah sarana, mengapa tidak memilih
cara yang lebih cepat sampai pada tujuan sejati?
Lalu... aku bertanya.. benarkah apa yang telah
kuhabisi menghantarkanku pada ketidaksia-siaan? Benarkan aku telah memandang
dengan pandangan yang benar? Benarkan aku telah diizinkanNya terus berjalan
menuju tujuan sejati melalui segala tanda yang diperlihatkanNya?
Sungguh yang salah bukan pada mata, karena
mata sama melihat. Tetapi mata hati, sampaikah kita pada apa yang seharusnya
kita lihat dan yakini? Allahu a’lam bish Shawab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar