Pages

Senin, 08 Agustus 2016

Raihana yang Sabar

Sudah sejak 3 hari yang lalu, Raihana begitu bersemangat membayangkan perjalanan yang akan kami lakukan bersama: mendaki puncak gunung galunggung. Tentu saja, agenda ini menjadi semacam bara semangat yang mengiringinya selama melalui hari demi hari, sebab ini merupakan pengalaman pertama bagi Raihana mendaki gunung galunggung.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pagi-pagi betul Raihana sudah bangun, lalu seperti biasanya kami menyiapkan secangkir termos kopi susu dan sebungkus tissue berisi kue-kue kering untuk berdua kami nikmati bersama di saung pinggiran sawah. Dan sepagi itu pula bunda dan kholah (panggilan untuk bibi alias ibu dari Raihana) sudah sibuk di dapur menyiapkan menu ‘botram’ kita. “jangan terlalu siang ya, kita kan mau berangkat pagi” pesan bunda.

Kami pun tidak menghabiskan waktu begitu lama di saung, sambil menghabiskan secangkir termos kopi berdua, kami pandangi kabut yang mulai tersingkap menyisakan pemandangan pegunungan dibalik hamparan sawah yang menandakan hari nampak akan cerah. Secerah hati Raihana.
Sepulangnya, segera kami bergabung di dapur untuk membantu menyiapkan menu spesial ala bunda dan kholah.. nasi TO (tutug oncom), ayam goreng, ikan asin, balado jengkol, lalap, sambal, dan mie goreng. Tidak lupa juga kami bawa setermos besar air panas untuk menyeduh kopi dan susu. Ah, pikiran Hana (panggilan Raihana) sudah sampai saja di atas puncak galunggung. Tengah duduk memandangi kawah sambil menyeruput kopi susu.

Tetapi rupanya untuk sampai ke situ tidak lah mulus, sesiapnya kami di detik-detik sebelum keberangkatan, eyang mengeluh sakit perut dan sudah beberapa kali buang-buang air. Menyadari hal itu, akhirnya kami mengurungkan keberangkatan. “nasi nya kan masih bisa dimakan” kata bunda mencoba melegakan hati kami. Tetapi tidak lama, terjadilah keajaiban, eyang bilang akan meneruskan perjalanan karena setelah diberi minyak kayu putih, perut eyang Alhamdulillah tidak terasa sakit lagi. Waah senyum Raihana langsung mengembang sebesar yang ia mampu :D
Setelah semua perlengkapan masuk, termasuk tikar dan beberapa tas gemblok yang menyimpan baju ganti, kami pun berangkat menggunakan mobil kholah. Karena tidak cukup, kedua adikku memilih untuk mengendarai motor. Perjalanan semula yang kami agendakan akan dimulai pukul 8 pagi, ngaret menjadi pukul 09.30. Hari nampak sangat cerah, secerah hati Raihana yang sebentar lagi akan dapat mewujudkan bayang-bayangnya itu.

Sampailah kami di pintu gerbang objek wisata gunung galunggung. Selain pendakian ke puncak, pilihan kedua di tempat ini ialah berendam di kolam alami air panas, dan mendaki ke curug (air terjun) yang jaraknya cukup jauh dengan kondisi hutan yang cukup lebat. Sudah nampak trek mendaki menuju parkiran mobil yang jaraknya cukup jauh. Dari parkiran, kami tinggal melanjutkan perjalanan dengan menaiki sekitar 620an anak tangga untuk sampai ke puncak gunung. Dengan mengucap bismillah, ayah tancap gas menaiki trek yang cukup terjal dan licin tersebut. Terlihat berbondong-bondong motor dan mobil bak terbuka mengapit mobil kami, karena sekolah masih libur jadilah tempat-tempat yang menjadi objek wisata dipadati pengunjung. Tapi doa kami tak putus memohon agar Allah memudahkan perjalanan kami ini, dan dengan izin Allah kami mendapatkan tempat parkir yang strategis karena dekat warung dan anak tangga yang menuju ke puncak. Padahal sudah ada beberapa orang yang memperingatkan bahwa tidak ada tepat parkir karena sudah penuh. Beberapa mobil pun sampai terpaksa parkir di jalan karena tidak mau mengambil resiko apabila parkiran di dalam ternyata penuh.

Sesampainya di atas hujan turun sangat lebat, meneruskan gerimis yang kami rasakan mulai turun saat mobil kami mendaki menuju lahan parkir. Sejak di pintu masuk pun, awan sudah nampak mengelabu dan kabut turun sangat pekat. Tetapi tidak ada yang tidak mungkin, maka kami terus memanjatkan doa. Sambil menunggu hujan reda, kami menduduki sebuah warung sambil menyantap gorengan hangat dan lepeut. Sengaja kami tidak memesan makanan yang agak berat seperti mie rebus,meskipun nafsu perut seperti membutuhkannya. Kami pun menahan-nahan untuk tidak mmbeli kopi karena semuanya sudah lengkap kami bawa dari rumah. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menikmatinya.

Raihana, yang tidak membawa kopi susu kesukaannya, memutuskan untuk membeli kopi saset tetapi tidak sambil menyeduhnya. “diseduh disini aja na, nanti kakak bantuin minumnya sedikit” kataku, “nggak ah kak, maunya nanti minum bareng-bareng”. Kami menunggu cukup lama, harap-harap cemas kami menanti sinar matahari. Tetapi perkataan penjual di warung yang kami tumpangi cukup menghantarkan rasa pesimis, si ibu bilang kalau sudah tiga hari ini hujan sejak sore hari sampai malam. “hujan nu kieu mah awet” ujar si ibu. Tetapi tak putus harapan, kami pun terus berikhtiyar dengan doa. “ini masih siang Na, masih mungkin kok terang lagi. Hana kan musafir, doanya diijabah. Hana jangan berenti doa terus” kataku pada Hana. “Ya Allah, mudah-mudahan hujannya segera berhenti” doa Raihana yang segera kuamini. Kira-kira 15 menit dari doa Raihana dan mungkin dari doa-doa pengunjung lainnya, hujan pun mulai reda, dan berhenti. Kabut mulai tersingkap dan langit mulai cerah. “Alhamdulillah, doa Raihana dikabulin Na!” kataku menyemangati Raihana.

Segera saja kami atur persiapan menuju puncak. tapi pendakian tidak bisa segera kami mulai karena kedua adikku belum juga sampai. Mereka terjebak hujan di pintu masuk dan belum bisa melanjutkan perjalanan karena tidak membawa jas hujan. Akhirnya kami putuskan untuk mendaki duluan sedangkan bunda dan eyang menunggu di mushola. Belum sampai menapak satu tangga, hujan turun kembali. Raihana mulai khawatir benar-benar tidak bisa mewujudkan angannya itu, menapak puncak galunggung. Kekhawatirannya ini ia utarakan dalam rencananya “gimana kalau Raihana sama kakak aja dulu yang naik, nanti umi abi nyusul sama wa ayah, bang Syauqi sama bang Adin” usulnya. “jangan Na, lebih baik kita bareng-bareng aja, lagi pula takut hujannya makin lebat.” Singkat cerita usul ayah lah yang disetujui, “kita sholat terlebih dahulu, dan berdoa semoga hujannya berhenti.”
Selesai sholat, hujan pun semakin lebat. Ayah memutuskan untuk menjemput kedua adikku yang lain yang masih meneduh di pintu masuk. Tetapi sebelum mobil meluncur, rupanya kedua adikku itu sudah ada di warung tempat kami tadi meneduh. Baju yang basah sudah berganti dengan baju ganti yang tadi dibawa. Melihat keadaan mereka berdua, ditambah kondisi cuaca yang diselimuti hujan lebat, bunda pun memberi keputusan, “kayaknya ga bisa naik ke atas, kita ke bawah aja yuk. Ke air panas, tapi kita makan dulu cari tempat buat ngegelar tiker”. Saran bunda pun dengan agak berat hati kami setujui, terutama Raihana yang wajahnya mulai cemberut, masih belum percaya kalau benar-benar gak akan bisa naik.

“yah, Raihana masih berharap kak, bisa naik ke atas” kata Raihana saat kami menuju mobil. “tenang Na, insyaAllah nanti kita kesini lagi. Kita masih punya utang sama galunggung nih” kataku menyemangati Raihana. Dan tidak lama kemudian, terbitlah kembali senyumannya membayangkan akan berendam di kolam air panas. Sambil menghadap jendela belakang, kami memandangi jalanan terjal menuruni kaki gunung, kepulan kabut menambah indahnya pemandangan yang dihiasi dengan bayang-bayang tutug oncom dan lalap yang menunggu kami.

Sampai di bawah, mobil pun berbelok ke kiri, menuju kolam air panas. Baru masuk beberapa meter, sudah nampak antrian panjang mobil. Ayah pun memberi saran untuk menunggu kedua adikku yang mengendarai motor masuk lebih dulu untuk memantau keadaan. Saat-saat menunggu ini, Raihana menatapku sambil berkata “ini hiburan terakhir Raihana, kalau sampai gak jadi juga, habislah kita”. Dan benar saja, tidak lama kedua adikku kembali untuk melaporkan betapa padatnya perjalanan masuk ke kolam air panas, beberapa mobil malah tidak bisa masuk dan parkiran luber sampai ke ujung jalan. Sebelum terlalu jauh, ayah memutuskan untuk keluar dari kemacetan. “Na, ini berarti Allah punya sesuatu buat Raihana yang lebih bagus lagi, yang lebih indah.. tapi Allah mau lihat Raihana dulu, sabar gak kalau dikasih ujian begini. Kalau Hana sabar, tinggal nunggu nanti apa hadiah Allah buat Raihana”

“lagipula, tempat itu nomor dua, yang penting kan kita tetep bisa jalan bareng-bareng.” Kataku mencoba menghibur Raihana. “kita cari tempat di Cihaurbeuti aja, asal ada tempat buat makan, kita gelar tiker dan ngebotram di sana” kata bunda. Mungkin saat itu rasa sedih Raihana sedikit terobati, dan kembali lagi dengan harapannya. Karena tidak lama kemudian kami sudah asyik bercanda dan ntah berapa menit kemudian kami tertidur.

Saat tidur, terdengar sayup-sayup suara bunda, “kayaknya hujannya merata, jadi di cihaur juga akan sama aja.. apa kita pulang aja ya?” yang selanjutnya di-iya-kan oleh seluruh penumpang dalam mobil, kecuali aku dan Raihana tentunya yang sejak tadi sudah terpejam.

Ntah berapa lama waktu yang kami tempuh selama perjalanan, aku terbangun saat mobil memasuki gang rumah. Hujan masih turun cukup lebat. Agak sedikit khawatir saat terbangun, Raihana akan kecewa berat. Angan-angannya sejak tadi pagi bahkan sejak beberapa hari yang lalu sama sekali tidak tercapai. Dengan kesiapan, aku pun membangunkan Raihana. “Na, udah sampai nih.. ayok bangun yuk” dan tidak lama Raihana terbangun. Alhamdulillah, keajaiban selanjutnya, tidak ada sepatah rasa kesal pun yang keluar dari bibir Raihana. Malah kami sama-sama mengucap alhamdulillah saat sampai di depan pagar rumah, sambil dengan semangat menurunkan barang-barang karena rasanya perut kami sudah teramat sangat lapar. Benar saja, saat masuk rumah dan melihat jam dinding, waktu menunjukkan pukul 15.00. Perut yang sudah sejak pagi tadi belum diisi nasi, merongrong minta diisi. Alhasil itulah yang menjadi penantian kami, menghapus penantian-penantian lainnya. mungkin Raihana pun berpikir hal yang sama. Yang lain boleh saja tidak terlaksana, tapi urusan perut menjadi jauh lebih penting untuk dipenuhi.

Selesai memakan masakan bunda dan kholah di rumah yang teduh dan hangat, kami pun sudah tenggelam dengan obrolan dan candaan. Disela-sela kenikmatan makanan kami, bunda memecah keheningan yang ditimbulkan rasa lapar “itulah manusia, hanya bisa berencana. Lihat aja kita udah siapin semuanya, tapi gak bisa melawan takdir Allah kalau kita akan makan di rumah juga.. tapi yang penting kita itu udah ikhtiyar, ketetapan Allah ini yang terbaik” ini membuka celetukan-celetukan lainnya “kalau lapar gini, ga peduli deh mau makan dimana, makan apa aja jadi enak banget, apalagi udah laper bgini” “makannya sambil bayangin lagi di puncak gunung aja” dan tawa-tawa yang terdengar seperti semakin menghangatkan suasana kami.

“wah Raihana nanti pulang punya cerita buat tugas sekolah, ‘ngebotram di rumah’..” kata adin yang datang bersama syauqi dengan kondisi yang basah kuyup (lagi). Mendengar hal itu, ayah pun menimpali “judulnya ini aja, ‘menghirup udara segar di gunung galunggung’..” dan kami pun tertawa. Meskipun mungkin Raihana telah melupakan rasa sedih dan kekecewaannya, tetapi Allah tidak akan lupa membalas keshabaran setiap hambaNya… kita tunggu saja apa buah kesabaran yang akan Allah berikan untuk Raihana yang sabar J


Tidak ada komentar:

Posting Komentar