Ingat dan Lupa
(oleh sebab kebaikan orang lain) Seseorang bisa saja
mengatakan bahwa ia akan seterusnya mengingat jasa baik orang itu dan bahkan
akan melakukan apa saja untuk membahagiakan orang yang sudah berbuat baik
padanya. Tetapi dalam hitungan minggu (jika ini terdengar berlebihan kita ganti
saja dengan “bulan”) seseorang bisa melupakan hal itu sama sekali, taraf kelupaannya
bahkan bisa sampai seakan-akan keinginan itu tidak pernah ada –atau peristiwa
itu tidak pernah terjadi / tekadnya surut dan semangatnya meluap. Sedemikian labilnya
kah hati manusia?
Memang lupa itu sifat dasar manusia, makanya ia disebut insan dari kata nasiya yang artinya lupa. Tetapi terkadang aku tak habis pikir,
tingkat kelupaan manusia bisa sampai separah itu. Dan terus terang, aku pun
mengalami.
Tetapi aku meyakini bahwa lupa ini bisa diobati, atau
mungkin lebih tepat dihindari. Salah satunya dengan cara terus mengingat. Selain berdo’a tentunya, sebab Allah lah yang
mengizinkan seseorang untuk mengingat. Contohnya, banyak perkara yang
seringkali kita ingat tiba-tiba. Padahal mungkin kita tidak sedang berusaha
mengingatnya, atau bahkan tengah mengerjakan suatu hal yang tidak ada
hubungannya sama sekali dengan apa yang tiba-tiba kita ingat itu. Dapatkah kau
jawab bahwa ‘ingat’ itu adalah berkat usaha kita sendiri? Mungkin memang ada
teori psikologi atau teori mengingat sesuatu karena terdapat benda-benda atau
hal-hal di sekitar kita yang masuk ke alam bawah sadar dan memanggil sebuah
ingatan yang tertimbun jauh dalam memori kita. Tetapi apakah kita yang
menghendakinya? Tidakkah dalam usaha mengingat ini saja, sudah nampak oleh kita
tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala?
Perkara terus
mengingat ini bukanlah perkara mudah. Sebab banyak sekali gangguan di luar
sana yang akan mempengaruhi pikiran kita. Percayakah, semakin banyak hal yang
masuk melalui indera kita, semakin kita mudah lupa? Aku jadi teringat
(biidznillah), perkataan Sh. Mohamad Aslam yang menyarankan untuk jangan
terlalu sering membuat anak puas dengan kenikmatan indera mereka. Sebab kenikmatan
indera sifatnya akan menagih terus menerus sehingga menutup pintu hati. Dan begitu
juga sebaliknya, lebih sering menutup pintu indera akan membuka pintu hati. Tetapi
membuka pintu hati ini bukan perkara mudah bahkan untuk orang dewasa, sebab
jalannya adalah banyak-banyak berpuasa dari kenikmatan indera.
Era sekarang sifat lupa manusia semakin akut tampaknya. Oleh
karena hampir setiap orang memiliki pemuas indera dalam genggaman mereka yang
bisa diakses beberapa menit sekali, sekehendak dan semau mereka. Betapa banyak
informasi masuk, tak beraturan, mengalihkan pikiran dari satu topik ke topik
yang lain, satu gambar ke ratusan gambar yang lain, audio, video dll yang bisa
didapat selama mereka mau, ya, bayarannya hanya kemauan, mudah bukan?. Akibatnya?
Kelupaan adalah hal yang harus kita terima dan memaklumi orang yang tidak
membalas pesan kita, menjawab kabar kita, menanggapi tulisan kita. Sebab semua
sejajar di hadapan media sosial, sesuatu lebih penting daripada yang lain tergantung
mana yang ingin kita tanggapi lebih dulu. Pada titik ini, bisa saja kita tidak
menyadari bahwa hawa nafsu memperoleh jalan paling luas dan lapang dari waktu
yang paling minimal (per beberapa menit sekali), dan tindakan yang paling
ringan (cuma jari, apa bahayanya?).
Kalau dipikpir-pikir, berapa banyak sih kapasitas memori otak dan telepon genggam kita hanya untuk
memastikan bahwa hanya soal waktu (yang pendek) semua akhirnya menjadi sampah
yang memenuhi memori keduanya. Alhasil lahirlah segala sesuatu yang serba
pendek, memori pendek (mudah ingat dan lebih mudah lupa), sumbu pendek, waktu
pendek, sabar pendek, semangat pendek.
Kita memang makhluk pelupa, dan media sosial memperparah
serta mempercepat lupa kita.
bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar