Pages

Senin, 05 Agustus 2019

Ingat dan Lupa


Ingat dan Lupa

(oleh sebab kebaikan orang lain) Seseorang bisa saja mengatakan bahwa ia akan seterusnya mengingat jasa baik orang itu dan bahkan akan melakukan apa saja untuk membahagiakan orang yang sudah berbuat baik padanya. Tetapi dalam hitungan minggu (jika ini terdengar berlebihan kita ganti saja dengan “bulan”) seseorang bisa melupakan hal itu sama sekali, taraf kelupaannya bahkan bisa sampai seakan-akan keinginan itu tidak pernah ada –atau peristiwa itu tidak pernah terjadi / tekadnya surut dan semangatnya meluap. Sedemikian labilnya kah hati manusia?

Memang lupa itu sifat dasar manusia, makanya ia disebut insan dari kata nasiya yang artinya lupa. Tetapi terkadang aku tak habis pikir, tingkat kelupaan manusia bisa sampai separah itu. Dan terus terang, aku pun mengalami.

Tetapi aku meyakini bahwa lupa ini bisa diobati, atau mungkin lebih tepat dihindari. Salah satunya dengan cara terus mengingat. Selain berdo’a tentunya, sebab Allah lah yang mengizinkan seseorang untuk mengingat. Contohnya, banyak perkara yang seringkali kita ingat tiba-tiba. Padahal mungkin kita tidak sedang berusaha mengingatnya, atau bahkan tengah mengerjakan suatu hal yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan apa yang tiba-tiba kita ingat itu. Dapatkah kau jawab bahwa ‘ingat’ itu adalah berkat usaha kita sendiri? Mungkin memang ada teori psikologi atau teori mengingat sesuatu karena terdapat benda-benda atau hal-hal di sekitar kita yang masuk ke alam bawah sadar dan memanggil sebuah ingatan yang tertimbun jauh dalam memori kita. Tetapi apakah kita yang menghendakinya? Tidakkah dalam usaha mengingat ini saja, sudah nampak oleh kita tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Perkara terus mengingat ini bukanlah perkara mudah. Sebab banyak sekali gangguan di luar sana yang akan mempengaruhi pikiran kita. Percayakah, semakin banyak hal yang masuk melalui indera kita, semakin kita mudah lupa? Aku jadi teringat (biidznillah), perkataan Sh. Mohamad Aslam yang menyarankan untuk jangan terlalu sering membuat anak puas dengan kenikmatan indera mereka. Sebab kenikmatan indera sifatnya akan menagih terus menerus sehingga menutup pintu hati. Dan begitu juga sebaliknya, lebih sering menutup pintu indera akan membuka pintu hati. Tetapi membuka pintu hati ini bukan perkara mudah bahkan untuk orang dewasa, sebab jalannya adalah banyak-banyak berpuasa dari kenikmatan indera.

Era sekarang sifat lupa manusia semakin akut tampaknya. Oleh karena hampir setiap orang memiliki pemuas indera dalam genggaman mereka yang bisa diakses beberapa menit sekali, sekehendak dan semau mereka. Betapa banyak informasi masuk, tak beraturan, mengalihkan pikiran dari satu topik ke topik yang lain, satu gambar ke ratusan gambar yang lain, audio, video dll yang bisa didapat selama mereka mau, ya, bayarannya hanya kemauan, mudah bukan?. Akibatnya? Kelupaan adalah hal yang harus kita terima dan memaklumi orang yang tidak membalas pesan kita, menjawab kabar kita, menanggapi tulisan kita. Sebab semua sejajar di hadapan media sosial, sesuatu lebih penting daripada yang lain tergantung mana yang ingin kita tanggapi lebih dulu. Pada titik ini, bisa saja kita tidak menyadari bahwa hawa nafsu memperoleh jalan paling luas dan lapang dari waktu yang paling minimal (per beberapa menit sekali), dan tindakan yang paling ringan (cuma jari, apa bahayanya?).

Kalau dipikpir-pikir, berapa banyak sih kapasitas memori otak dan telepon genggam kita hanya untuk memastikan bahwa hanya soal waktu (yang pendek) semua akhirnya menjadi sampah yang memenuhi memori keduanya. Alhasil lahirlah segala sesuatu yang serba pendek, memori pendek (mudah ingat dan lebih mudah lupa), sumbu pendek, waktu pendek, sabar pendek, semangat pendek.

Kita memang makhluk pelupa, dan media sosial memperparah serta mempercepat lupa kita.

bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar