Ketika kita sedang terluka, baik itu luka pada tubuh kita
atau pada batin kita, kita benar-benar mendambakan kesembuhan. Hampir tidak
dapat menanggung rasa sakitnya. Luka diingat selalu, dan karenanya kita
mengingat doa-doa, setiap hari, bahkan setiap waktu. Memohon kesembuhan.
Namun apa yang terjadi ketika kesembuhan itu sudah berlalu?
Ya, berlalu. Sebab ketika terjadinya banyak dari kita yang tidak benar-benar
menyadarinya, seakan-akan ia sembuh begitu saja. Setelah terjadinya, kita lupa.
Ya! Lupa! Alangkah dahsyat lupanya manusia itu. Mereka bisa melupakan apa saja
bahkan untuk sesuatu yang sempat mereka ‘harapkan’ setiap hari. Mereka damba.
Ingini. Mintai. Dan, lupai.
Terkadang aku benar-benar heran akan potensi manusia yang
satu ini. dia bisa saja menggembirakan. Bagaimana kalau lupa tidak ada? Mungkin
kita tidak akan mungkin move on dari
luka kita. Meskipun luka itu sudah sembuh. Kita akan terus mengingat rasa
sakitnya, dan takjub dengan kesembuhannya yang begitu saja. mungkin ketakjuban
ini akan mengisi hari-hari kita dan mengisi penuh waktu kita. Sebab memang
seajaib itulah proses luka itu sembuh. Keajaiban yang mahabesar tetapi bisa
terkubur dalam sekejap waktu dalam memori otak kita. Alangkah. Terbuat dari apakah
lupa itu?
Akibat lupa yang akut, ada baiknya kiranya, setelah sebuah
luka sembuh baik luka yang menggores kulit kita, maupun batin kita. Kita rekam
baik-baik keadaannya ketika luka itu sedang menganga, tidak mengapa kita
sediakan waktu beberapa lama hanya untuk mengingatnya, mengingat bahwa kita
pernah merasa begitu perih dan begitu memohon agar luka itu sembuh. Agar kiranya
kita menyadari kembali bahwa kita pernah memperoleh sebuah keajaiban yang
mahahebat berupa kesembuhan. Ingat-ingatlah hai manusia, tidak perlu mencarinya
jauh-jauh, keajaiban itu nyatanya telah berkali-kali kita alami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar