Pages

Jumat, 10 April 2020

Luka dan Lupa



Ketika kita sedang terluka, baik itu luka pada tubuh kita atau pada batin kita, kita benar-benar mendambakan kesembuhan. Hampir tidak dapat menanggung rasa sakitnya. Luka diingat selalu, dan karenanya kita mengingat doa-doa, setiap hari, bahkan setiap waktu. Memohon kesembuhan.

Namun apa yang terjadi ketika kesembuhan itu sudah berlalu? Ya, berlalu. Sebab ketika terjadinya banyak dari kita yang tidak benar-benar menyadarinya, seakan-akan ia sembuh begitu saja. Setelah terjadinya, kita lupa. Ya! Lupa! Alangkah dahsyat lupanya manusia itu. Mereka bisa melupakan apa saja bahkan untuk sesuatu yang sempat mereka ‘harapkan’ setiap hari. Mereka damba. Ingini. Mintai. Dan, lupai.

Terkadang aku benar-benar heran akan potensi manusia yang satu ini. dia bisa saja menggembirakan. Bagaimana kalau lupa tidak ada? Mungkin kita tidak akan mungkin move on dari luka kita. Meskipun luka itu sudah sembuh. Kita akan terus mengingat rasa sakitnya, dan takjub dengan kesembuhannya yang begitu saja. mungkin ketakjuban ini akan mengisi hari-hari kita dan mengisi penuh waktu kita. Sebab memang seajaib itulah proses luka itu sembuh. Keajaiban yang mahabesar tetapi bisa terkubur dalam sekejap waktu dalam memori otak kita. Alangkah. Terbuat dari apakah lupa itu?

Akibat lupa yang akut, ada baiknya kiranya, setelah sebuah luka sembuh baik luka yang menggores kulit kita, maupun batin kita. Kita rekam baik-baik keadaannya ketika luka itu sedang menganga, tidak mengapa kita sediakan waktu beberapa lama hanya untuk mengingatnya, mengingat bahwa kita pernah merasa begitu perih dan begitu memohon agar luka itu sembuh. Agar kiranya kita menyadari kembali bahwa kita pernah memperoleh sebuah keajaiban yang mahahebat berupa kesembuhan. Ingat-ingatlah hai manusia, tidak perlu mencarinya jauh-jauh, keajaiban itu nyatanya telah berkali-kali kita alami.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar