Pages

Kamis, 14 Maret 2013

7 Maret 2013 (Setitik Cahaya di Lorong yang Gelap)



Lorong gelap yang begitu panjang bagai tak berujung kini mulai mendapatkan cahaya, meski masih redup tetapi paling tidak cukup menambah teguh keyakinan bahwa kita berada dalam jalan yang benar. Dan semua adalah wujud dari doa yang setiap hari tak pernah bosan dipanjatkan.
Meski ini bukan berarti perjalanan tinggal beberapa langkah lagi, atau bukan berarti tujuan sudah dekat. Sebab yang ada baru setitik cahaya yang redup, tetapi cahaya tetaplah cahaya, dengan warnanya yang lain dan selalu bersifat menerangi.

Aku yang begitu heran dengan keadaan sekelilingku, asing.
Tiada yang mengenalku ataupun membuatku ingin memperkenalkan diri.
Toh tidak akan ada yang bisa mengerti bahasaku.
Meski berpijak di atas tanah yang sama,
Meski bercanda dalam ruang yang sama,
Meski tertawa dalam gurauan yang sama,
Tetapi kita bagai berada di dunia berbeda.

Setiap hari aku mencari teman,
Berharap suatu hari kukantemukan teman yang kunanti,
Timbul tenggelam harapanku,
Tak juga kunjung kutemukan yang kunantikan itu.

Hingga aku berkaca melalui padi-padi yang mulai menguning menunggu musim panen
Melalui air yang mengalir diselokan-selokan curam dengan pasrah dan tak berdaya
Melalui gunung yang selalu bersembunyi malu dibalik kabut dan langit pagi hari
Apakah aku telah salah?
Adakah yang kunantikan sejatinya tidak pernah ada?
Lalu aku masih belum mendapat jawaban,
Hingga kulihat padi-padi itu merasa bosan kupandangi
Tetapi gunung mulai berani memunculkan diri

Perlahan serpihan mulai kukumpulkan,
Berharap menjadi arah jalan atas langkahku yang begitu pelan.
Kepingan harapan kurawati,
Berharap suatu saat semua akan menjadi berarti.

Tetapi hampir jenuh aku menunggunya,
Tapak yang kutinggalkan menjadi kian mengabur
Kuteguhkan diri, berusaha menganggap semua baik-baik saja
Tetapi hati tak mampu membohongi,
Merindukan dunia yang kukagumi
Berjumpa dengan teman-teman yang kurindui

Tidak ada komentar:

Posting Komentar