Pages

Rabu, 27 Mei 2026

Lagi-lagi, untuk adikku.


Tangguh

Takkan kau menjadi besar kecuali seseorang menjatuhkanmu (bahkan dihadapan banyak orang) dan kau tidak melawan, karena kau tau perlawananmu hanya akan membuat bencana baru dan kau mengerti perlawanan sejati hanya antar kau dengan nafsumu. Kadang kau harus menyerah berkali-kali bukan karena tak bisa menang, tetapi kau tak mau memasuki arena yang hanya akan memenangkan egomu.

Dik, hidup tidak menawarkanmu suka cita terus menerus. Kadang lebih banyak luka, dan kadang juga kecewa berganti-ganti. Kau akan dipaksa untuk Tangguh berkali-kali. Mungkin hari ini, esok lagi, esoknya esok lagi, esoknya esok esok lagi, tetapi percayalah takkan pernah selamanya! Roda hidup akan berputar, dan setiap rasa sakit akan berakhir.

Bersabarlah ketika kau berada di bawah dan tak satu pun melirikmu, kekuatanmu bukan dari lirikan mereka tetapi dari keyakinanmu sendiri. Biarkan orang memandangmu rendah, meremehkanmu, menyepelekan dan mengecilkanmu. Itu semua bagus untuk mendidik jiwamu yang terlalu angkuh. Rasakan dan nikmati itu meski rasa sakitnya seperti wajah yang terseret aspal - hebat sekali. Jangan buru-buru berdiri dan menampakkan kebesaran dirimu meski nyatanya itu kau miliki. Hadapi dan jalani setiap rasa sakitnya, didiklah jiwamu untuk berdiri lebih dulu.

Jadikan hiburan itu bukan dari luar dirimu, tetapi lahir dari keyakinan dan hakikat keagungan jiwamu, tidak peduli berapa yang meninggalkanmu. Selama kau bersama kebenaran, egomu kau tanggalkan, Allah ada bersamamu menjadi saksi setiap rasa sakitmu. Dia tidak akan membiarkan hamba-Nya yang besar di hadapan-Nya, hamba yang dikasihi-Nya merasa sakit dan terluka terlalu lama.

-

Hidup adalah pil pahit yang tak langsung kau telan, tetapi menetap lama dalam kerongkongan. Kadang tak kau ketahui kapan ia enyah dan menghilang, hingga kau mengerti  bahwa rasa manis bukanlah rasa yang kau tunggu di kerongkonganmu, melainkan kesembuhan yang kau rasakan dari pil pahit yang berhasil larut dan mengobatimu.

 

 

 

Senin, 25 Mei 2026

Memulai dan Berhenti di Angka 9

 Sangat banyak yang ingin kuceritakan. Aku sampaikan melalui kata-kata. Tapi kenapa ia lalu cepat berubah dan berganti-ganti, sebelum penaku menyentuh kertas putih. Pikiran yang berganti-ganti, kewajiban yang harus kutuntasi, pesan pesan yang harus kutanggapi, membuatku menunda setiap kali hasrat untuk menulis itu menghampiri. Sehingga dengan mudah ia lenyap dan pergi.

Ingin sekali rasanya memulai hari di jam 9 pagi dan mengakhirinya di jam 9 malam. Urusan dunia. Di luar jam itu aku bisa melakukan hal lain, terutama untuk menulis. Ah tetapi hasrat menulis itu sering kali datang di waktu yang tak bisa kuprediksi. Kadang di sela-sela pekerjaannku, kadang disaat aku makan, di jalan, atau bahkan di kamar mandi. Kalau tidak buru butu dituangkan, tumpah sendiri ntah kemana.

Minggu, 26 April 2026

Pelajaran Hidup dari Bawah Pohon Randu


 -Kalau sudah waktunya, pasti kembali-

Alhamdulillah, bisa kembali lagi ke sini. tempat dimana waktu seakan berhenti, dan luka terobati (dengan izin Dia Yangmaha Menyembuhkan tentunya). Padatnya pekerjaan hari-hari kemarin, perasaan yang terlukai karena perbuatan orang lain membuat tempat ini hiburan berharga buatku. Tempat yang indah, sejuk, ramah, tak jauh dari rumah. setiap kali datang ke sini, seperti berada di alam berbeda.

Setiap ke sini, aku dan sahabatku selalu menyempatkan duduk di bawah pohon randu, menanti terbit matahari. di hadapan kami, terpampang jelas dan megah gunung Galunggung yang kekar dan gagah. seakan memamerkan kabut dan keindahannya pada kami yang teramat kecil. Mahabesar Allah.

Sebelum esok hari, kami sempat menikmati pemandangan sore hari ketika matahari terbenam. Masya Allah, indah tak terkira. jingga, siluet dan lampu-lampu kota yang berada di bawah kami, mempercantik pergantian sore ke malam hari. Ntah bagaimana harus kusampaikan rasa syukur ini.


-pohon rezeki bukan pada pekerjaan dan suami, pohon rezeki ada pada Allah-

satu lagi yang berharga setiap kedatanganku ke sana. pelajaran, petuah dan nasihat dari mamah, ibu sahabatku. betapa beruntung dan bersyukur diriku bisa mendapat pelajaran kehidupan yang belum tentu bisa kudapatkan di gelar pendidikan tertinggi sekalipun! aku berusaha mengosongkan diriku agar nasihat dan masukan itu meresap masuk ke relung batinku. terkadang disertai rasa sakit, karena bersamanya kelemahanku menampakkan dirinya. tetapi itulah kenyataan! siapa lagi yang bisa menasihatiku dengan cara seperti itu? tidak ada, bahkan diriku sendiri.

nasihat dan pelajaran ini tak kudapat langsung dari beliau, melainkan melalui anaknya, sahabatku sendiri yang berbeda 7 tahun lebih muda. selama mendengarkan masukan dan kritikannya -tentang apapun yang menyangkut perjuangan dan kehidupan-, aku merasa bersyukur. Mahabaik Allah yang memberi petunjuk dan pelajaran melalui dia dan ibunya, di kala tidak seorang pun disekelilingku memberikan hal demikian. 

Allah 'mendidikku' melalui ujian hidup dan banyak 'mengajari'ku perihal menjalani kehidupan melalui tutur dan laku ibu sahabatku. kelemahanku, egoku, dan catatan-catatanku untuk masa depan banyak kudapatkan melalui beliau. sungguh teramat berharga meski aku tahu, menjadikannya bekal dan mengamalkannya adalah hal lain. ia adalah kesulitan yang berbeda. tetapi setidaknya, Allah masih memberikanku rezeki untuk mengetahuinya dan kembali belajar! 

Syukur pada Allah, atas semua kemurahan dan kemudahan dan segala yang ditakdirkan-Nya. perjalanan ini singkat, tetapi selalu membekas. rasanya seperti baru saja pulang setelah perjalanan panjang. alhamduliLLah. semoga bekal ini bisa kugenggam baik-baik, menjadi bagian dari kompas hidupku, di dunia dan menerangi kehidupanku di akhirat kelak. pada akhirnya. sekian.


Ciamis, di bulan kelahiranku. diusia 34 tahunku.

Sabtu, 20 Desember 2025

Surat untuk Adikku

 Aku baru tahu kalau hidup bisa sepahit ini, dek

Merasakan kepahitan yang paling menyakitkan membuat kita tidak peduli dengan kepahitan lainnya yang belum terjadi. Bukankah ini seharusnya membuat kita lebih berani menghadapi kepahitan-kepahitan lainnya yang mungkin akan kita temui? 

Dek, besok jadwal kita latihan aikido. Baru aja mau kk daftarin, kamu udah ga bisa ikut. Bukan hanya itu, ini seharusnya juga menjadi hari ke-5 kita mengaji Ihya kan? . Biasanya kamu yang membangunkanku dan mengisi pagi kita dengan ilmu yang membuat matamu berbinar. Diskusi yang seharusnya berhenti di menit 30, sering berlanjut sampai lebih dari satu jam. Sampai sebelum kamu jalan pagi, yang kamu lakukan setiap hari. 

Hari Jum'at kemarin baru aja kamu berjanji akan membantu membersihkan rumah, pekarangan dan kamar eyang. Tanpaku minta. Aku kaget namun bersyukur. Betapa berbedanya kamu dengan kamu di 3 bulan lalu. 

Hari ini juga harusnya jadi hari pertama kita latihan bahasa Inggris kan? "Sampe kalau WA juga harus bahasa Inggris ya kak" Katamu kemarin. Ya, baru aja kemarin kita sepakati ini. 

Kita juga belum sempat mengirim paket pakaian yang udah dengan susah payah kita sortir untuk Aceh... Kamu yang berusaha keras mencari jalan agar paket seberat 20 kg ini bisa terkirim. Tapi semuanya berubah dengan cepat di hari kemarin... Mudah betul segala sesuatu diambil dari kita ya dek.. 

Aku baru aja merasa seperti menemukan teman baru, yang selama ini ada tapi begitu jauh. Kau tahu, ketika kau datang dan memintaku mendekat untuk meneduhkan hatimu yang dingin, aku merasa aku siap kehilangan banyak hal.. Waktuku, uang, pikiran, teman.. Selama aku bisa menemanimu, menjagamu dan menumbuhkan rasa percaya dirimu kembali. Aku bersedia menjadi teman yang baik untukmu. 

Hingga tangis malam itu pecah dan keadaan berubah. Menjadi sesuatu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya, meski kau pernah bilang memang hanya tinggal menunggu waktu.. 

De, meski demikian. Aku bersyukur. 

Ujian kita tidaklah seberat mereka... bunda dan ayah masih membersamai kita dan dengan tegap mengiringi langkah kita menghadapi semuanya. Menelan pil pahit ini bersama-sama dengan meminta pertolongan dari Zat Yang Maha Baik. 

Kejadian hari kemarin membuatku mengingat kembali... Kamu milikNya dek, bukan milik kami. Pada akhirnya kita akan kembali dengan cara yang Dia kehendaki. Kita jalani ini dengan penuh kepasrahan dan keberserahan total, menghadapi segala kemungkinan di masa depan yang bisa jadi lebih indah, atau bahkan lebih buruk daripada ini. 

Gantungkan kuat-kuat hatimu pada-Nya dek. Dia yang akan membuatmu kuat dan siap menghadapi berbagai kemungkinan terburuk untuk sesuatu yang lebih baik di masa depan.. Jadi jangan takut ya, mari kita hadapi ini bersama-sama. Meski akan kita temui bagian paling pahit dari ini semua 

Kamis, 04 Desember 2025

Puisi untuk Adikku

 There is a hope

Tak peduli seberapa banyak yang menyangsikan kesungguhanmu, meski telah cacat berkali-kali, aku tahu

Tapi binar matamu menyatakan hal lain, bahwa kau mampu, aku tahu

Ribuan orang menjatuhkanmu tetapi Tuhan meridhoi usahamu, seharusnya itu cukup.

Meyalakan api dalam sekam jiwamu yang terlalu dingin untuk disinggahi. Bahkan untuk dirimu sendiri.

Dalam hitam gelapnya, setidaknya ada bara yang mulai dihidupkan lagi.. meski redup setidaknya ia dapat menghangatkan dirimu dalam kerinduan yang memanggil jiwamu untuk mendekat,

Meski ini menyakitkan tetapi mungkin dari sini kau temukan kembali gairah yang terkubur, menerangi hal yang tak tampak disekitarmu.. cahaya kebenaran yang sebenarnya dekat, orang-orang yang menyayangimu tanpa tapi, kehidupan yang nyaman meski tak kau syukuri..

ketika seruan dan ajakan kebenaran kau anggap printah yang memilukan.. larangan dan hukuman kau anggap kungkungan bagi jiwamu yang ingin bebas. Padahal yang ingin bebas hanyalah nafsumu, sedangkan jiwamu selalu ingin pulang, kembali ke tempatnya yang tenang..

Aku tak tahu sampai kapan api dalam dirimu akan bertahan, tetap menghangatkan dirimu melawan dingin dan gelapnya dunia yg dicipta oleh nafsumu sendiri.. 

Wahai adikku, peperanganmu milikmu sendiri, orang lain datang dan pergi, mengisi mengajak membantu dan berharap, tetapi pada akhirnya pilihan ada padamu. Untuk maju atau kembali, untuk mengikuti atau bertahan. 

Kami hanya berharap jiwamu memiliki cukup bekal untuk bertahan, bahkan melawan saat dalam kesendirian.. saat tidak seorangpun menyaksikan perlawanan itu, Tuhan ada bersama jiwamu yang menghendaki kebaikan dan ketenangan sejati. Jika ia kalah, kau takkan pernah benar-benar beruntung. Kau hanya berputar-putar dalam permainan nafsmu sendiri. Sadarilah itu, dan berjuanglah sekali lagi. lebih keras lagi.

Ketahuilah juga wahai adikku, tak peduli berapapun yang hilang dari kami.. kepercayaan, waktu dan materi.. kami tak peduli, selama kami tak kehilanganmu. 

Tetapi kami tahu, kau bukan milik kami. Kami hanyalah makhluk yang serba tidak tahu. Kami hanya berusaha menjalankan yang kami tahu, dalam kebingungan yang juga kami hadapi dengan susah payah.. kekecewaan yang kami simpan dan lipat rapat demi mengumpulkan kembali keping harapan.

Kita sama-sama terluka parah, tetapi yang ku tahu, tugas kita hanya berusaha sesuai peran dan kapasitas kita untuk saling menyembuhkan. Lukamu luka kami, mari sama-sama kita obati...

Jikapun ini tidak berhasil, dan peluru hanya terus bersarang dalam luka yang nampak semakin mengering... kami serahkan sepenuh-penuhnya pada Allah Yang Mahakuasa, sebab pada akhirnya kita akan menghadap-Nya masing-masing kan?

Namun ketahuilah wahai adikku, jika kita berhasil melewati semua kesakitan ini... tidak ada lagi kesakitan setelah ini. Hanya hari ini dan hanya di kehidupan ini. Untuk selanjutnya kita nikmati kebersamaan kita di alam yang lebih kekal dan jauh lebih baik dari ini.

Minggu, 05 Oktober 2025

Kepada Temanmu yang Belum Menjadi Apa-apa

Mengapa sungguh khawatir kepada temanmu yang berbelas bahkan berpuluh tahun bagimu belum menjadi apa-apa? Bukankah hidupnya dipenuhi dengan hal-hal baik? Bukankah ia telah berjuang-bertahan sekian lama untuk menjadi orang baik? Tidakkah itu cukup untukmu? 

Siapa yang kau jadikan panutan sehingga kau memandangnya rendah, tidak berkemajuan, tidak berkembang, diam, kurang berperan, 

Kau lihat saja sekarang, seseorang yang mengabdi pada institusi, pesuruh kelas rendah yang tidak punya visi selain mengerjakan pekerjaan sederhana setiap hari, pekerjaan yang sama yang tak berkemajuan dan tak jelas jenjang karirnya saja, bisa diangkat setelah sepuluh berbelas bahkan puluhan tahun kerja dengan kerjaan yang itu-itu saja, 

apatah lagi kawanmu itu yang berusaha terus mengabdi pada Rabb-Nya, berusaha setia pada gurunya, berkhidmat pada komunitasnya... tidakkah suatu saat Allah akan mengangkat derajatnya juga? mengapa kekhawatiranmu justru memalingkanmu dari kemungkinan ini, duhai saudara seimannya...