Pages

Sabtu, 20 Desember 2025

Surat untuk Adikku

 Aku baru tahu kalau hidup bisa sepahit ini, dek

Merasakan kepahitan yang paling menyakitkan membuat kita tidak peduli dengan kepahitan lainnya yang belum terjadi. Bukankah ini seharusnya membuat kita lebih berani menghadapi kepahitan-kepahitan lainnya yang mungkin akan kita temui? 

Dek, besok jadwal kita latihan aikido. Baru aja mau kk daftarin, kamu udah ga bisa ikut. Bukan hanya itu, ini seharusnya juga menjadi hari ke-5 kita mengaji Ihya kan? . Biasanya kamu yang membangunkanku dan mengisi pagi kita dengan ilmu yang membuat matamu berbinar. Diskusi yang seharusnya berhenti di menit 30, sering berlanjut sampai lebih dari satu jam. Sampai sebelum kamu jalan pagi, yang kamu lakukan setiap hari. 

Hari Jum'at kemarin baru aja kamu berjanji akan membantu membersihkan rumah, pekarangan dan kamar eyang. Tanpaku minta. Aku kaget namun bersyukur. Betapa berbedanya kamu dengan kamu di 3 bulan lalu. 

Hari ini juga harusnya jadi hari pertama kita latihan bahasa Inggris kan? "Sampe kalau WA juga harus bahasa Inggris ya kak" Katamu kemarin. Ya, baru aja kemarin kita sepakati ini. 

Kita juga belum sempat mengirim paket pakaian yang udah dengan susah payah kita sortir untuk Aceh... Kamu yang berusaha keras mencari jalan agar paket seberat 20 kg ini bisa terkirim. Tapi semuanya berubah dengan cepat di hari kemarin... Mudah betul segala sesuatu diambil dari kita ya dek.. 

Aku baru aja merasa seperti menemukan teman baru, yang selama ini ada tapi begitu jauh. Kau tahu, ketika kau datang dan memintaku mendekat untuk meneduhkan hatimu yang dingin, aku merasa aku siap kehilangan banyak hal.. Waktuku, uang, pikiran, teman.. Selama aku bisa menemanimu, menjagamu dan menumbuhkan rasa percaya dirimu kembali. Aku bersedia menjadi teman yang baik untukmu. 

Hingga tangis malam itu pecah dan keadaan berubah. Menjadi sesuatu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya, meski kau pernah bilang memang hanya tinggal menunggu waktu.. 

De, meski demikian. Aku bersyukur. 

Ujian kita tidaklah seberat mereka... bunda dan ayah masih membersamai kita dan dengan tegap mengiringi langkah kita menghadapi semuanya. Menelan pil pahit ini bersama-sama dengan meminta pertolongan dari Zat Yang Maha Baik. 

Kejadian hari kemarin membuatku mengingat kembali... Kamu milikNya dek, bukan milik kami. Pada akhirnya kita akan kembali dengan cara yang Dia kehendaki. Kita jalani ini dengan penuh kepasrahan dan keberserahan total, menghadapi segala kemungkinan di masa depan yang bisa jadi lebih indah, atau bahkan lebih buruk daripada ini. 

Gantungkan kuat-kuat hatimu pada-Nya dek. Dia yang akan membuatmu kuat dan siap menghadapi berbagai kemungkinan terburuk untuk sesuatu yang lebih baik di masa depan.. Jadi jangan takut ya, mari kita hadapi ini bersama-sama. Meski akan kita temui bagian paling pahit dari ini semua 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar