Pages

Minggu, 26 April 2026

Pelajaran Hidup dari Bawah Pohon Randu


 -Kalau sudah waktunya, pasti kembali-

Alhamdulillah, bisa kembali lagi ke sini. tempat dimana waktu seakan berhenti, dan luka terobati (dengan izin Dia Yangmaha Menyembuhkan tentunya). Padatnya pekerjaan hari-hari kemarin, perasaan yang terlukai karena perbuatan orang lain membuat tempat ini hiburan berharga buatku. Tempat yang indah, sejuk, ramah, tak jauh dari rumah. setiap kali datang ke sini, seperti berada di alam berbeda.

Setiap ke sini, aku dan sahabatku selalu menyempatkan duduk di bawah pohon randu, menanti terbit matahari. di hadapan kami, terpampang jelas dan megah gunung Galunggung yang kekar dan gagah. seakan memamerkan kabut dan keindahannya pada kami yang teramat kecil. Mahabesar Allah.

Sebelum esok hari, kami sempat menikmati pemandangan sore hari ketika matahari terbenam. Masya Allah, indah tak terkira. jingga, siluet dan lampu-lampu kota yang berada di bawah kami, mempercantik pergantian sore ke malam hari. Ntah bagaimana harus kusampaikan rasa syukur ini.


-pohon rezeki bukan pada pekerjaan dan suami, pohon rezeki ada pada Allah-

satu lagi yang berharga setiap kedatanganku ke sana. pelajaran, petuah dan nasihat dari mamah, ibu sahabatku. betapa beruntung dan bersyukur diriku bisa mendapat pelajaran kehidupan yang belum tentu bisa kudapatkan di gelar pendidikan tertinggi sekalipun! aku berusaha mengosongkan diriku agar nasihat dan masukan itu meresap masuk ke relung batinku. terkadang disertai rasa sakit, karena bersamanya kelemahanku menampakkan dirinya. tetapi itulah kenyataan! siapa lagi yang bisa menasihatiku dengan cara seperti itu? tidak ada, bahkan diriku sendiri.

nasihat dan pelajaran ini tak kudapat langsung dari beliau, melainkan melalui anaknya, sahabatku sendiri yang berbeda 7 tahun lebih muda. selama mendengarkan masukan dan kritikannya -tentang apapun yang menyangkut perjuangan dan kehidupan-, aku merasa bersyukur. Mahabaik Allah yang memberi petunjuk dan pelajaran melalui dia dan ibunya, di kala tidak seorang pun disekelilingku memberikan hal demikian. 

Allah 'mendidikku' melalui ujian hidup dan banyak 'mengajari'ku perihal menjalani kehidupan melalui tutur dan laku ibu sahabatku. kelemahanku, egoku, dan catatan-catatanku untuk masa depan banyak kudapatkan melalui beliau. sungguh teramat berharga meski aku tahu, menjadikannya bekal dan mengamalkannya adalah hal lain. ia adalah kesulitan yang berbeda. tetapi setidaknya, Allah masih memberikanku rezeki untuk mengetahuinya dan kembali belajar! 

Syukur pada Allah, atas semua kemurahan dan kemudahan dan segala yang ditakdirkan-Nya. perjalanan ini singkat, tetapi selalu membekas. rasanya seperti baru saja pulang setelah perjalanan panjang. alhamduliLLah. semoga bekal ini bisa kugenggam baik-baik, menjadi bagian dari kompas hidupku, di dunia dan menerangi kehidupanku di akhirat kelak. pada akhirnya. sekian.


Ciamis, di bulan kelahiranku. diusia 34 tahunku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar