“tidak pernah ada apa-apa, saki”
“tidak! Aku melihat buku-buku itu hidup, memamerkan pemikiran-pemikiran
besar di dalamnya”
“tapi itu hanya kumpulan buku-buku lama yang sudah kadaluwarsa”
“mereka terlalu hidup, sebab pemikiran mereka melintasi zamannya dan
bahkan zaman kita”
“lalu apa yang kamu kerjakan seharian dibalik meja?”
“aku berfikir, aku membaca, aku merancang dan aku mengerjakan pekerjaan
yang tidak aku suka”
“kenapa tidak suka?”
“sebab pekerjaan itu mengalihkan pikiranku dari buku-buku”
“pekerjaan apa itu?”
“administrasi”
“kenapa dikerjakan”
“kewajiban,”
“ah, kau hanya pura-pura sibuk”
“mungkin di matamu. Sebab di mataku setiap detik terlalu berarti.”
“tapi kulihat kau masih sempat membaca buku,”
“mengapa kau pandang itu tidak lebih berarti dari memegang gawai dan
menatap layar komputer?”
“ya, sebab mungkin itu berhubungan dengan pekerjaan mereka,”
“….”
“ya, setidaknya waktu luangmu masih lebih banyak,”
“hanya dugaanmu jangan bilang kau benar-benar tahu. Waktuku sangat
sedikit, tugasku terlalu banyak.”
“apa tugasmu?”
“membuat orang lain merasakan kenikmatan yang aku rasakan,”
“apa itu?”
“apa itu apa?”
“kenikmatan apa?”
“kenikmatan menyelami dunia dibalik buku-buku, dunia di dalam
kepala-kepala manusia.”
“untuk apa?”
“untuk bertahan hidup, uang tak selalu menyelamatkanmu,”
“aku benar-benar tak mengerti,”
“manusia rusak karena pandangannya, penglihatan pikiran--penglihatan
batinnya. Buku-buku bisa menyembuhkan itu”
“bagaimana caranya?”
“ya, pandangan yang baik akan menenangkan dan menyelamatkan mereka pada
situasi apapun yang mereka hadapi. Saat tak satupun yang mereka miliki.”
“bukan itu, bagaimana caranya agar mereka bisa berfikir seperti itu?”
“itulah yang kupikirkan setiap hari”
“hasilnya?”
“hasil apa yang kau harapkan?,”
“yaa, misalnya kau sanggup mendatangkan sejuta buku, menghasilkan
laboratorium computer, dll”
“aku lebih berharap bisa membesarkan pemikiran meski hanya seorang,
sebab bisa jadi itu menyelamatkan hidupnya,”
“bagimu itu suatu pekerjaan besar?”
“besarnya pekerjaan karena kecilnya penghargaan, padahal sebenarnya
pekerjaan itu benar-benar penting”
“kenapa tidak mengajar saja? Itukan penting”
“itulah bukti kecilnya penghargaan”
“maksudmu?”
“mengajar yang tanpa tandatangan dan absensi, adalah bukan mengajar?,”
“ya bukan begitu, maksudku jadi guru atau dosen sekalian,”
“di sini aku bisa mengajar kapan saja, meski tanpa jabatan”
“kapan biasanya kau mengajar?”
“setiap ada yang datang dan bertanya kepadaku atau dengan sengaja
meminta untuk diajarkan”
“kau selalu punya waktu untuk itu?”
“selalu, tak kenal waktu. Kecuali jika aku sedang mengerjakan sesuatu
yang tak kusuka,”
“kenapa tidak memilih?”
“sebab dua-duanya kewajiban, yang satu untuk mendidik orang lain, yang
satu untuk mendidik diriku sendiri”
“mendidik diri sendiri?”
“ya, mengerjakan sesuatu yang tak kau suka adalah sebuah didikan untuk
dirimu sendiri”
“kau tidak menyadari bahwa orang-orang bertanya-tanya soal dirimu?”
“aku tak peduli, tugasku hanya mengerjakan tugasku,”
“bagaimana jika orang-orang tak mau menerimamu?”
“karena aku tak punya gelar dan juga jabatan?”
“iya, sebab kau bukan siapa-siapa,”
“aku ingin membuktikan bahwa ilmu lah yang meninggikan seseorang, bukan
gelar dan jabatannya,”
“bagaimana jika orang-orang malah merendahkanmu?”
“aku akan mencari orang-orang yang membutuhkan sesuatu yang terlalu
berharga untuk mereka yang betul-betul mencari”
“kalau tidak ada orang-orang seperti itu?”
“mungkin aku akan menghabiskan waktuku untuk membaca, menulis, merajut,
memasak dan belajar dengan seorang tua di ujung gang sana”
“ternyata benar…”
“apanya?”
“kau memang sudah gila”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar