Pages

Sabtu, 22 Desember 2012

Kerja Ikhlas

 

 

Melihat sepak terjang teman-teman saya dalam dunia dakwah membuat saya ingin melipat muka, mereka luar biasa, dan saya merasa tidak ada apa-apanya. Saya tidak berniat membanding-bandingkan tetapi perbandingan yang sangat kontras membuat perbandingan itu reflek muncul sendiri. Saya lihat banyak dari mereka yang sungguh luar biasa pergerakannya, setiap hari keluar rumah untuk dakwah, untuk mengisi kajian, atau untuk menuntut ilmu. Waktu jarang mereka habiskan berleha-leha di rumah. Jangankan berleha-leha, jam tidur saja minim. Televisi dan hiburan lainnya hampir tidak pernah mereka sentuh. Konsentrasi mereka sudah tersita untuk dakwah. tidak ada ruang untuk hal-hal yang tidak penting. berbeda sekali dengan saya. Melihat dan mendengar semua hal itu membuat diri saya malu berat. Saya merasa saya belum berjuang, jika tolak ukur berjuang adalah seperti mereka. dan saya? Masih sempat saya berbuat hal-hal yang tidak dibuat oleh kawan-kawan saya itu. Saya merasa tenaga saya masih banyak sekali terkungkung dalam diri, akal saya belum lumer dan terkuras dan diri saya belum lelah dan merasakan kepahitan perjuangan yang begitu menguras tenaga. Saya merenung mengapa saya begini? Apakah ini pilihan saya? Saya merasa tidak. dalam perenungan panjang saya mendapatkan suatu pengajaran penting untuk diri saya.

 

Perjuangan bukanlah diukur dari seberapa sering kita keluar rumah, bukan diukur dari sering tidaknya kita menonton tv dan menyelami dunia maya. Walaupun dalam beberapa kondisi pengorbanan semua itu bisa menjadi bagian dari perjuangan, tetapi itu tidak mutlak. Yang saya sadari dalam lamunan panjang saya adalah bahwa ridho Allah ada dimana-mana dan ternyata ladang dakwah itu tidak perlu kita cari jauh-jauh. Saya berusaha membantu ibu saya dalam pekerjaan rumah adalah dalam rangka mencari ridho Allah. Mencuci pakaian, mencuci piring, melipat baju dan membantu bunda memasak adalah ladang dakwah yang tidak boleh disepelekan. Saya pun menyadari juga, saya menonton tv seringkali untuk menemani nenek saya. Meskipun dengan begitu saya harus memaksakan diri menonton acara yang tidak saya sukai, tetapi karena sudah niat ingin menghibur nenek, saya menceburkan diri dan pada akhirnya suka juga dengan acara tersebut. tetapi hal positif yang saya dapat dari rasa bersalah dan malu karena tidak berjuang layaknya kawan saya itu, saya jadi memaksimalkan ibadah amaliyah saya, saya fikir, jika berjuang seperti kawan saya itu saya tidak bisa, atau sy tidak punya kesempatan seperti mereka, jadi saya harus maksimal dalam hal yang lain. Kalau tidak apa yang hendak menyelamatkan saya kelak.. 

 

Ya, hikmah besar yang saya yakini, bahwa sering kali kita mengukur perjuangan itu dari apa yang mampu tertangkap mata, dari pergerakan secara fisik, dari sesuatu yang menghasilkan keringat. Padahal kalau kita meyakini bahwa Allah Maha Melihat, kita tidak perlu khawatir dengan usaha yang kita lakukan. Kita tidak perlu risau tidak ada yang melihat “perjuangan” kita, kita tidak perlu merasa rugi tidak dianggap pahlawan dan pejuang oleh orang lain. Karena sejatinya apapun yang kita lakukan nilainya adalah dari keikhlasan diri kita, urusan kita dengan Allah. Biarpun kita berhadapan dengan orang banyak, niat itu haruslah yang utama. Karena itu kita tidak boleh melewati apa yang seharunya mendatangkan ridho Allah lebih dulu. Allah akan ridho jika kita mengerjakan kewajiban dari yang paling utama dulu, tidak menzolimi diri, keuarga dan orang-orang terdekat. Ini yang akan mendatangkan kesenangan Allah sebelum mengharapkan kesenangan dari yang lain. Karena itu hal-hal kecil yang mungkin tidak terlihat, yang seharusnya kita tunaikannya terlebih dahulu bisa jadi disepelekan orang lain tetapi itu mendatangkan ridho Allah. Disinilah pentingnya lebih menyadari peran kita, mengatur prioritas kita, dan berusaha maksimal dalam bersikap adil. Jadi kesimpulan dari perenungan saya ialah, untuk menjadi seorang pejuang yang diridhoi Allah, tunaikanlah sesuatu yang utama terlebih dahulu, meskipun ianya kecil, meskipun sepele, tetapi jika Allah ridho, bisa saja dengan hanya melakukan itu banyak hal tak terduga menghampiri kita. bekerja untuk manusia itu mungkin enaknya karena terlihat dan kalau memuaskan, mendapat pujian dan ketenaran, tetapi bekerja dengan Allah, akan mendatangkan ketenangan, kebahagiaan dan bonusnya mungkin saja materi, pujian dan lain-lainnya. Tetapi jika sudah ikhlas, dilihat atau tidak dilihat manusia tidak akan mempengaruhi kualitas kerja kita, mendapatkan balasan materi atau tidak, tidak akan mengubah prinsip kita.. karena kita yakin hanya dengan mengharap ridho Allah lah kita dapat memperoleh kebahagiaan hakiki dalam jiwa kita.

 

Jadi, maksimalkanlah waktu dengan terus melakukan hal yang membuat Allah senang, itu saja. jika hadir sebuah pilihan, pilih yang mana yang lebih membuat Allah senang. Itu saja. yakinlah, jika sudah kita tunaikan hal-hal yang utama tanpa menzolimi diri dan orang-orang terdekat kita, Allah akan hantarkan kita pada lingkup yang lebih besar dan besar lagi, sehingga dari usaha-usaha kecil yang kita lakukan itulah latihan diri kita untuk menyandang tanggung jawab dan jabatan yang lebih besar berdasarkan kepantasan kita dimata Allah <3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar