ir a principal |
Ir a lateral
Kerja Ikhlas
Melihat sepak terjang teman-teman saya dalam
dunia dakwah membuat saya ingin melipat muka, mereka luar biasa, dan saya
merasa tidak ada apa-apanya. Saya tidak berniat membanding-bandingkan tetapi
perbandingan yang sangat kontras membuat perbandingan itu reflek muncul sendiri.
Saya lihat banyak dari mereka yang sungguh luar biasa pergerakannya, setiap
hari keluar rumah untuk dakwah, untuk mengisi kajian, atau untuk menuntut ilmu.
Waktu jarang mereka habiskan berleha-leha di rumah. Jangankan berleha-leha, jam
tidur saja minim. Televisi dan hiburan lainnya hampir tidak pernah mereka
sentuh. Konsentrasi mereka sudah tersita untuk dakwah. tidak ada ruang untuk
hal-hal yang tidak penting. berbeda sekali dengan saya. Melihat dan mendengar
semua hal itu membuat diri saya malu berat. Saya merasa saya belum berjuang, jika
tolak ukur berjuang adalah seperti mereka. dan saya? Masih sempat saya berbuat
hal-hal yang tidak dibuat oleh kawan-kawan saya itu. Saya merasa tenaga saya
masih banyak sekali terkungkung dalam diri, akal saya belum lumer dan terkuras
dan diri saya belum lelah dan merasakan kepahitan perjuangan yang begitu
menguras tenaga. Saya merenung mengapa saya begini? Apakah ini pilihan saya?
Saya merasa tidak. dalam perenungan panjang saya mendapatkan suatu pengajaran
penting untuk diri saya.
Perjuangan bukanlah diukur dari seberapa
sering kita keluar rumah, bukan diukur dari sering tidaknya kita menonton tv
dan menyelami dunia maya. Walaupun dalam beberapa kondisi pengorbanan semua itu
bisa menjadi bagian dari perjuangan, tetapi itu tidak mutlak. Yang saya sadari
dalam lamunan panjang saya adalah bahwa ridho Allah ada dimana-mana dan
ternyata ladang dakwah itu tidak perlu kita cari jauh-jauh. Saya berusaha
membantu ibu saya dalam pekerjaan rumah adalah dalam rangka mencari ridho Allah.
Mencuci pakaian, mencuci piring, melipat baju dan membantu bunda memasak adalah
ladang dakwah yang tidak boleh disepelekan. Saya pun menyadari juga, saya
menonton tv seringkali untuk menemani nenek saya. Meskipun dengan begitu saya harus
memaksakan diri menonton acara yang tidak saya sukai, tetapi karena sudah niat
ingin menghibur nenek, saya menceburkan diri dan pada akhirnya suka juga dengan
acara tersebut. tetapi hal positif yang saya dapat dari rasa bersalah dan malu
karena tidak berjuang layaknya kawan saya itu, saya jadi memaksimalkan ibadah
amaliyah saya, saya fikir, jika berjuang seperti kawan saya itu saya tidak
bisa, atau sy tidak punya kesempatan seperti mereka, jadi saya harus maksimal dalam hal yang
lain. Kalau tidak apa yang hendak menyelamatkan saya kelak..
Ya, hikmah besar yang saya yakini, bahwa
sering kali kita mengukur perjuangan itu dari apa yang mampu tertangkap mata,
dari pergerakan secara fisik, dari sesuatu yang menghasilkan keringat. Padahal
kalau kita meyakini bahwa Allah Maha Melihat, kita tidak perlu khawatir dengan
usaha yang kita lakukan. Kita tidak perlu risau tidak ada yang melihat
“perjuangan” kita, kita tidak perlu merasa rugi tidak dianggap pahlawan dan
pejuang oleh orang lain. Karena sejatinya apapun yang kita lakukan nilainya
adalah dari keikhlasan diri kita, urusan kita dengan Allah. Biarpun kita
berhadapan dengan orang banyak, niat itu haruslah yang utama. Karena itu kita
tidak boleh melewati apa yang seharunya mendatangkan ridho Allah lebih dulu. Allah
akan ridho jika kita mengerjakan kewajiban dari yang paling utama dulu, tidak
menzolimi diri, keuarga dan orang-orang terdekat. Ini yang akan mendatangkan ‘kesenangan’ Allah sebelum
mengharapkan kesenangan dari yang lain. Karena itu hal-hal kecil yang mungkin
tidak terlihat, yang seharusnya kita tunaikannya terlebih dahulu bisa jadi
disepelekan orang lain tetapi itu mendatangkan ridho Allah. Disinilah
pentingnya lebih menyadari peran kita, mengatur prioritas kita, dan berusaha
maksimal dalam bersikap adil. Jadi kesimpulan dari perenungan saya ialah, untuk
menjadi seorang pejuang yang diridhoi Allah, tunaikanlah sesuatu yang utama
terlebih dahulu, meskipun ianya kecil, meskipun sepele, tetapi jika Allah
ridho, bisa saja dengan hanya melakukan itu banyak hal tak terduga menghampiri
kita. bekerja untuk manusia itu mungkin enaknya karena terlihat dan kalau
memuaskan, mendapat pujian dan ketenaran, tetapi bekerja dengan Allah, akan
mendatangkan ketenangan, kebahagiaan dan bonusnya mungkin saja materi, pujian
dan lain-lainnya. Tetapi jika sudah ikhlas, dilihat atau tidak dilihat manusia
tidak akan mempengaruhi kualitas kerja kita, mendapatkan balasan materi atau tidak,
tidak akan mengubah prinsip kita.. karena kita yakin hanya dengan mengharap
ridho Allah lah kita dapat memperoleh kebahagiaan hakiki dalam jiwa kita.
Jadi, maksimalkanlah waktu dengan terus
melakukan hal yang membuat Allah senang, itu saja. jika hadir sebuah pilihan,
pilih yang mana yang lebih membuat Allah senang. Itu saja. yakinlah, jika sudah
kita tunaikan hal-hal yang utama tanpa menzolimi diri dan orang-orang terdekat
kita, Allah akan hantarkan kita pada lingkup yang lebih besar dan besar lagi,
sehingga dari usaha-usaha kecil yang kita lakukan itulah latihan diri kita
untuk menyandang tanggung jawab dan jabatan yang lebih besar berdasarkan
kepantasan kita dimata Allah <3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar