Menjadi seorang murid (saya lebih senang menggunakan kata
murid daripada mahasiswa) yang memiliki kesempatan belajar dan menuntut ilmu adalah
hal yang sangat membahagiakan bagi saya, bisa mengikuti berbagai pelajaran
setiap hari dengan seorang pembimbing yang bersedia menjelaskan dan menjawab
berbagai persoalan mengenai pelajaran tersebut adalah satu keberkahan dalam
hidup saya. Ya, itulah kesan saya menjadi seorang murid dari Sekolah Tinggi Agama Islam di sebuah daerah tempat dimana saya tinggal.
Sayangnya, hal luar biasa seperti yang saya rasakan ini tidak juga dirasai oleh
semua murid dalam sekolah yang sama. Walaupun saya baru mengetahuinya dari
segelintir orang saja, tapi saya yakin ini mewakili dari mayoritas yang ada.
Sebenarnya sedih, pelajaran yang saya anggap menarik
khususnya yang berkaitan langsung dengan agama dianggap sebagian besar
kawan-kawan saya menjenuhkan, boring dan biking ngantuk. Padahal hampir setiap
mata kuliah itu, saya merasa hidup karena tertantang mengaitkan satu sama lain materi/ informasi dengan kondisi kekinian dan latar belakang pemikiran yang saat ini menjadi
corak yang mewarnai budaya dan peradaban dunia.
Salah kalau saya mengatakan seperti ini untuk pelajaran-pelajaran umum seperti
ekonomi, bahasa, sains dll, mungkin saja keberminatan ditentukan dari bakat dan
potensi seseorang, artinya jika ia lemah disalah satu dan condong disalah
satunya, itu masih boleh ditoleransi. Tetapi jika pelajaran yang menyangkut
dasar-dasar agama, akidah, dan pandangan hidup, seseorang tidak berminat
mengetahuinya, mengkajinya atau bahkan hanya memperhatikannya, ini sebuah tanda
tanya besar bagi saya, ada yang salah dan harus dibenarkan.
Jujur dari lubuk hati yang sangat dalam, saya sedih. Ntah
apa yang menghinggapi pikiran-pikiran kita, ntah apa yang mengisinya selama 24
jam sehari dan 7 hari seminggu. Agama yang memuat asal usul diri, tujuan diri
diciptakan, mau kemana ia selepas kehidupan dan hal-hal penting lainnya yang
seharusnya dibutuhkan setiap manusia bahkan melebihi sebagaimana ia membutuhkan makanan, malah
tidak dianggap penting, tidak diinginketahui dan tidak mendatangkan kegairahan
dalam diri.
Sistem pendidikan kita yang sekuler, tambah memperparah
keadaan. Bukan hanya memadamkan gairah manusia untuk memperoleh pemahaman
agama, tetapi membuat manusia merasa ‘cukup’ dan bahkan ‘baik’ dengan
penafsirah hidup yang serba matrealistik itu, dibuat baik-baik saja dengan
kebahagiaan yang semu itu, dan terus dihibur dengan iming-iming keindahan
duniawi padahal kekeringan hati selalu dibawa kemana-mana dan kegelisahan terus
berusaha diredam dalam-dalam. Sungguh menyedihkan.
Saya miris melihat teman-teman saya kuliah seperti tanpa
tujuan, tujuan yang saya maksudkan adalah tujuan hakiki. Tujuan final yang akan
menentukan untung dan rugi kehidupan mereka. padahal begitu banyak materi yang
dikeluarkan, waktu yang dikorbankan, jarak yang membebankan, dan tenaga yang dikerahkan. Tetapi, mereka datang dengan tujuan yang tertinggal. Pulangpun
membawa sesuatu yang tidak mereka temukan maknanya, mereka biarkan menggantung
tetapi menempel dalam pikiran mereka, dibawa kemanapun mereka pergi.
Bagaimana saya hendak menyadarkan mereka. Seperti kertas kosong,
apapun yang disampaikan ‘pembimbing’, mereka terima bulat-bulat. Tidak ada
kemauan untuk mengonfirmasi, tidak ada i’tikad untuk memastikan lagi dan
merujuk narasumber ataupun otoritas yang sesuai dengan bidang-bidang yang
dipelajari. Padahal fikiran mereka sedang didikte, maukah kita dikontrol oleh
sesuatu yang belum jelas kebenarannya? Yang kelak akan menjadi bagian dari
keyakinan kita?
Sekarang kaitkan
dengan sistem pendidikan sekuler ala Barat. Dimanapun hampir dimerata dunia,
pendidikan yang berlebel ‘Islami’maupun yang tidak. Bayangkan jika tujuan kita dididik tidak jelas, lalu kita menyerahkan
diri untuk dididik oleh orang yang tidak jelas (juga) asal-usulnya, dan kita
mau menerima begitu saja didikan itu yang nantinya akan menjadi bagian dari
keyakinan kita, penentu pilihan-pilihan kita dan tanggung jawab kita di dunia
dan akhirat. Tanpa mau konfirmasi, tanpa mau mencarinya melalui sumber-sumber
yang jelas, tanpa mahu mendalaminya, sedangkan ia akan melekat dalam diri kita.
lalu kita terima itu semua begitu saja. bisa dibayangkan apa yang akan terjadi?
Lalu apa upaya pembenaran yang saya harapkan?
Dengan situasi sistem pendidikan sekuler yang begitu
dahyatnya membombardir pemikiran kita, me-reka ulang apa yang selama ini sudah susah payah
dibangun, dan mem-blur-kan kita pada hakikat tujuan hidup kita, saya rasa tidak
mungkin bisa kita melaluinya tanpa kesiapan. Jika mengangkat
permasalahan-permasalaham krusial mengenai kondisi pemikiran yang terjadi hari
ini merupakan sebuah kekhawatiran, karena ketidaksiapan yang dilihat dari usia, kematangan
dll. Saat ditingkat perguruan tinggi, sekularisme tidak memandang bulu untuk
bisa diterima paham dan konsepnya. Yang siap dan tidak siap, yang mengenal dan
tidak mengenal. Sekularisasi mendobrak segala tembok yang ada, berbagai cara
digunakan agar paham ini mampu diterima oleh kebanyakan orang yang sudah
mengenalnya bahkan yang tidak mengenalnya, yang secara sadar dibuat
menyetujuinya maupun yang tidak sadar. Dan cara yang efektif adalah melalui
sistem pendidikan, dimana banyak orang yang menyandarkan kebenaran melalui apa
yang mereka terima dari pendidikan tinggi. Dan bahkan membangun
pondasi paham dan keyakinannya pada jenjang ini. adakah masih kita khawatirkan
kesiapan mereka setelah melihat apa yang menunggu mereka pada jenjang
berikutnya?? Memberitahukan kenyataan seringkali terasa pahit dan menyakitkan,
tetapi mendiamkan dan menganggap bahwa semua baik-baik saja sedangkan satu
bencana besar sebenarnya sedang menunggu di depan adalah hal yang jauh lebih
mengerikan.
Ya, kesiapan itu haruslah dipersiapkan. Mereka harus
memiliki bekalan untuk menghadapi satu jenjang yang sangat menantang. Harus
terpasang satu penyaring dan konsep besar dalam alam pikiran mereka. kesadaran
mereka harus dibangun dan kegelisahan mereka harus diaktifkan. Dengan itulah
mereka akan selalu merasa ‘awas’ dalam keseharian mereka. Dengan penyaring itu,
segala hal akan mereka saring sebelum masuk dan menambah konsep dalam alam
pikiran mereka, konsep yang telah jelas akan memudahkan mereka mengelompokkan
informasi-informasi yang sampai pada alam pikiran mereka. dan konsep dasar itu
harus final. Bukan terputus sehingga masih mereka raba konsep baku yang mutlak
ada itu. yang lain diluar itu, yang mereka terima apapun itu, harus ada sambung
kait dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran mereka, sehingga sifatnya hanya
melengkapi dan mengembangkannya saja.
Bagi saya usaha real adalah membuka kelas atau diskursus
selama satu tahun sebelum seseorang masuk ke jenjang perguruan tinggi.
Memanglah ini tidak akan mudah direalisasikan, akan banyak hambatan, alasan,
rintangan, gugatan, ketidaksetujuan bahkan cemoohan yang akan menghampiri
seiring gagasan ini berusaha direalisasikan. Tapi bagi saya, ini usaha yang
paling real. Apa yang akan kita hadapi di tingkat perguruan tinggi ini bukan
hal sepele, bukan hal yang akan berdampak pada dunia fana ini saja, melainkan
justru akan menentukan bagaimana kehidupan kita nanti di alam yang kekal.
Akhirat. Penguatan akidah mestilah dengan menjelaskan kembali konsep bangunan akidah
dalam konteks zaman yang semakin berat ini. mengenali siapa musuh kita
sebenarnya. Dan bersama-sama berjuang dengan jalan menempati tempatan kita
masing-masing dalam menjaga dan membela DyinuLLah ini. karena ini merupakan
kewajiban bagi setiap individu, dan kelak inilah yang akan mempengaruhi
bagaimana nasib kita nanti di yaumil akhir... wallahu a`lam bisshowab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar