Pages

Sabtu, 22 Desember 2012

Mungkin, dengan ini sedikit lebih baik.

Menjadi seorang murid (saya lebih senang menggunakan kata murid daripada mahasiswa) yang memiliki kesempatan belajar dan menuntut ilmu adalah hal yang sangat membahagiakan bagi saya, bisa mengikuti berbagai pelajaran setiap hari dengan seorang pembimbing yang bersedia menjelaskan dan menjawab berbagai persoalan mengenai pelajaran tersebut adalah satu keberkahan dalam hidup saya. Ya, itulah kesan saya menjadi seorang murid dari Sekolah Tinggi Agama Islam di sebuah daerah tempat dimana saya tinggal.

Sayangnya, hal luar biasa seperti yang saya rasakan ini tidak juga dirasai oleh semua murid dalam sekolah yang sama. Walaupun saya baru mengetahuinya dari segelintir orang saja, tapi saya yakin ini mewakili dari mayoritas yang ada.

Sebenarnya sedih, pelajaran yang saya anggap menarik khususnya yang berkaitan langsung dengan agama dianggap sebagian besar kawan-kawan saya menjenuhkan, boring dan biking ngantuk. Padahal hampir setiap mata kuliah itu, saya merasa hidup karena tertantang mengaitkan satu sama lain materi/ informasi dengan kondisi kekinian dan latar belakang pemikiran yang saat ini menjadi corak yang mewarnai budaya dan peradaban dunia.

Salah kalau saya mengatakan seperti  ini untuk pelajaran-pelajaran umum seperti ekonomi, bahasa, sains dll, mungkin saja keberminatan ditentukan dari bakat dan potensi seseorang, artinya jika ia lemah disalah satu dan condong disalah satunya, itu masih boleh ditoleransi. Tetapi jika pelajaran yang menyangkut dasar-dasar agama, akidah, dan pandangan hidup, seseorang tidak berminat mengetahuinya, mengkajinya atau bahkan hanya memperhatikannya, ini sebuah tanda tanya besar bagi saya, ada yang salah dan harus dibenarkan.

Jujur dari lubuk hati yang sangat dalam, saya sedih. Ntah apa yang menghinggapi pikiran-pikiran kita, ntah apa yang mengisinya selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Agama yang memuat asal usul diri, tujuan diri diciptakan, mau kemana ia selepas kehidupan dan hal-hal penting lainnya yang seharusnya dibutuhkan setiap manusia bahkan melebihi sebagaimana ia membutuhkan makanan, malah tidak dianggap penting, tidak diinginketahui dan tidak mendatangkan kegairahan dalam diri.

Sistem pendidikan kita yang sekuler, tambah memperparah keadaan. Bukan hanya memadamkan gairah manusia untuk memperoleh pemahaman agama, tetapi membuat manusia merasa ‘cukup’ dan bahkan ‘baik’ dengan penafsirah hidup yang serba matrealistik itu, dibuat baik-baik saja dengan kebahagiaan yang semu itu, dan terus dihibur dengan iming-iming keindahan duniawi padahal kekeringan hati selalu dibawa kemana-mana dan kegelisahan terus berusaha diredam dalam-dalam. Sungguh menyedihkan.

Saya miris melihat teman-teman saya kuliah seperti tanpa tujuan, tujuan yang saya maksudkan adalah tujuan hakiki. Tujuan final yang akan menentukan untung dan rugi kehidupan mereka. padahal begitu banyak materi yang dikeluarkan, waktu yang dikorbankan, jarak yang membebankan, dan tenaga yang dikerahkan. Tetapi, mereka datang dengan tujuan yang tertinggal. Pulangpun membawa sesuatu yang tidak mereka temukan maknanya, mereka biarkan menggantung tetapi menempel dalam pikiran mereka, dibawa kemanapun mereka pergi.

Bagaimana saya hendak menyadarkan mereka. Seperti kertas kosong, apapun yang disampaikan ‘pembimbing’, mereka terima bulat-bulat. Tidak ada kemauan untuk mengonfirmasi, tidak ada i’tikad untuk memastikan lagi dan merujuk narasumber ataupun otoritas yang sesuai dengan bidang-bidang yang dipelajari. Padahal fikiran mereka sedang didikte, maukah kita dikontrol oleh sesuatu yang belum jelas kebenarannya? Yang kelak akan menjadi bagian dari keyakinan kita?

 Sekarang kaitkan dengan sistem pendidikan sekuler ala Barat. Dimanapun hampir dimerata dunia, pendidikan yang berlebel ‘Islami’maupun yang tidak. Bayangkan jika tujuan kita dididik tidak jelas, lalu kita menyerahkan diri untuk dididik oleh orang yang tidak jelas (juga) asal-usulnya, dan kita mau menerima begitu saja didikan itu yang nantinya akan menjadi bagian dari keyakinan kita, penentu pilihan-pilihan kita dan tanggung jawab kita di dunia dan akhirat. Tanpa mau konfirmasi, tanpa mau mencarinya melalui sumber-sumber yang jelas, tanpa mahu mendalaminya, sedangkan ia akan melekat dalam diri kita. lalu kita terima itu semua begitu saja. bisa dibayangkan apa yang akan terjadi?

Lalu apa upaya pembenaran yang saya harapkan?

Dengan situasi sistem pendidikan sekuler yang begitu dahyatnya membombardir pemikiran kita, me-reka ulang apa yang selama ini sudah susah payah dibangun, dan mem-blur-kan kita pada hakikat tujuan hidup kita, saya rasa tidak mungkin bisa kita melaluinya tanpa kesiapan. Jika mengangkat permasalahan-permasalaham krusial mengenai kondisi pemikiran yang terjadi hari ini merupakan sebuah kekhawatiran, karena ketidaksiapan yang dilihat dari usia, kematangan dll. Saat ditingkat perguruan tinggi, sekularisme tidak memandang bulu untuk bisa diterima paham dan konsepnya. Yang siap dan tidak siap, yang mengenal dan tidak mengenal. Sekularisasi mendobrak segala tembok yang ada, berbagai cara digunakan agar paham ini mampu diterima oleh kebanyakan orang yang sudah mengenalnya bahkan yang tidak mengenalnya, yang secara sadar dibuat menyetujuinya maupun yang tidak sadar. Dan cara yang efektif adalah melalui sistem pendidikan, dimana banyak orang yang menyandarkan kebenaran melalui apa yang mereka terima dari pendidikan tinggi. Dan bahkan membangun pondasi paham dan keyakinannya pada jenjang ini. adakah masih kita khawatirkan kesiapan mereka setelah melihat apa yang menunggu mereka pada jenjang berikutnya?? Memberitahukan kenyataan seringkali terasa pahit dan menyakitkan, tetapi mendiamkan dan menganggap bahwa semua baik-baik saja sedangkan satu bencana besar sebenarnya sedang menunggu di depan adalah hal yang jauh lebih mengerikan.

Ya, kesiapan itu haruslah dipersiapkan. Mereka harus memiliki bekalan untuk menghadapi satu jenjang yang sangat menantang. Harus terpasang satu penyaring dan konsep besar dalam alam pikiran mereka. kesadaran mereka harus dibangun dan kegelisahan mereka harus diaktifkan. Dengan itulah mereka akan selalu merasa ‘awas’ dalam keseharian mereka. Dengan penyaring itu, segala hal akan mereka saring sebelum masuk dan menambah konsep dalam alam pikiran mereka, konsep yang telah jelas akan memudahkan mereka mengelompokkan informasi-informasi yang sampai pada alam pikiran mereka. dan konsep dasar itu harus final. Bukan terputus sehingga masih mereka raba konsep baku yang mutlak ada itu. yang lain diluar itu, yang mereka terima apapun itu, harus ada sambung kait dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran mereka, sehingga sifatnya hanya melengkapi dan mengembangkannya saja.

Bagi saya usaha real adalah membuka kelas atau diskursus selama satu tahun sebelum seseorang masuk ke jenjang perguruan tinggi. Memanglah ini tidak akan mudah direalisasikan, akan banyak hambatan, alasan, rintangan, gugatan, ketidaksetujuan bahkan cemoohan yang akan menghampiri seiring gagasan ini berusaha direalisasikan. Tapi bagi saya, ini usaha yang paling real. Apa yang akan kita hadapi di tingkat perguruan tinggi ini bukan hal sepele, bukan hal yang akan berdampak pada dunia fana ini saja, melainkan justru akan menentukan bagaimana kehidupan kita nanti di alam yang kekal. Akhirat. Penguatan akidah mestilah dengan menjelaskan kembali konsep bangunan akidah dalam konteks zaman yang semakin berat ini. mengenali siapa musuh kita sebenarnya. Dan bersama-sama berjuang dengan jalan menempati tempatan kita masing-masing dalam menjaga dan membela DyinuLLah ini. karena ini merupakan kewajiban bagi setiap individu, dan kelak inilah yang akan mempengaruhi bagaimana nasib kita nanti di yaumil akhir... wallahu a`lam bisshowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar