Pages

Selasa, 23 Oktober 2012

Tantangan Ilmu Bagi Diri

Tantangan ilmu adalah tantangan yang berat, membenarkan kembali letak-letak yang salah melalui bimbingan ilmu yang benar bukan perkara yang mudah. Justru melihat apa yang terjadi, saya merasa ini tantangan yang sangat berat. Tanggung jawab yang besar dan ujian yang tidak mudah. Membincangkan lagi permasalahan ilmu, masih menjadi hal yang tabu sekarang. Sedikit orang yang mengenal makna ilmu, dan kalaupun mengenal, sering kali apa yang dimaksud orang awam berbeda dengan apa yang dimaksudkan mereka yang sudah memahami lebih dulu. Menyamakan persepsi bukan hal yang mudah, menyeragamkan makna bukan seperti persoalan membalikkan telapak tangan. Di sinilah ujian itu bermula. Mungkin berawal dari sini, atau mungkin sebelum sampai ke sini. 

 

Lebih mengetahui daripada orang lain sungguh sebuah tanggung jawab yang kita mesti hati-hati terhadapnya. Akankah dari pengetahuan yang kita ketahui membuat diri kita merasa paling tahu, sehingga orang yang lebih tidak tahu dibandingkan kita harus mendapatkan pengetahuan itu hanya melalui kita. jika hasil dari ilmu itu bukan adab, mungkin merasa menjadi yang paling tahu bukan menjadi sebuah kesalahan, menggurui dan ingin dipuji menjadi hal yang sangat wajar dikarenakan kelebihtahuan kita dibanding yang lain. Tetapi adab dan akhlak akan merubah sikap kita terhadap ilmu. Adab lah yang menentukan akan bertambah tidaknya ilmu yang kita miliki. Dan akhlak akan menjadi ukuran sampai tidaknya ilmu pada diri kita. inilah yang saya bilang sebagai perkara yang perlu kehati-hatian, salah-salah, mencari banyak-banyak ilmu, melupakan kita kepada hakikat tujuan kita. melupakan kita pada makna ilmu, yang akhirnya menjauhkan kita dari beradab yang benar. tujuan menjadi blur karena niat pun sudah berubah. Tempat tidak lagi kita kenali dan akhirnya kegagalanlah yang kita dapatkan. Ini adalah ujian yang begitu berat. Tepatnya menjaga niat dan mempertahankan tujuan.

 

Tidak sedikit saya perhatikan banyak yang terjebak dalam tahapan ini. mereka yang merasa menjadi pendahulu, yang berada lebih dulu, yang menyadari lebih dulu dibandingkan yang lain berusaha menonjolkan dirinya dengan pengetahuan yang mereka miliki. Mengangkat topik yang justru lebih sering sulit dipahami agar ke-pendahuluan mereka diketahui oleh mereka yang baru menyadari dan masih lagi mengeja. Padahal adab mereka yang merasa sebagai pendahulu, tidaklah menunjukkan seperti apa yang mereka katakan. Apakah ini akibat ketergesa-gesaan? Apakah ilmu itu tidak sampai kepada diri mereka? bukankah seharusnya ilmu itu menghadirkan rasa malu dalam diri mereka, kepekaan yang membuat mereka semakin rendah diri dan merasa apa yang mereka ketahui selama ini belum banyak mereka amalkan? Atau berjumpanya mereka dengan para ilmuwan dan cendikiawan seharusnya melahirkan rasa begitu rendahnya ilmu mereka, begitu tidak ada apa-apanya apa yang mereka ketahui selama ini. jika rasa seperti itu tidak timbul apa yang salah? 

 

Berat sungguh berat dan tidak mudah. Sungguh tantangan yang begitu berarti bagi saya. Kehati-hatian terhadap ilmu yang telah dimiliki ternyata mesti kita berikan perhatian khusus karena dari sana pula kita bisa terperangkap, terjatuh dan akhirnya ternodai tujuan utama kita mencari ilmu. Yang kita kejar pada akhirnya popularitas, kesan intelek, sanjungan dan imej sebagai orang pandai. Sungguh berat ujian ini. dari perenungan apa yang saya lihat melalui peristiwa ini yang tidak jarang saya temui di dunia keilmuwan, saya menyadari bahwa hakikat tujuan itu tidak boleh terlepas sepanjang perjalanan perjuangan kita. harus selalu kita bawa dan munculkan kembali setiap kita hendak memilih sesuatu atau memutuskan sesuatu. ia harus melekat terus dalam diri kita, karena tujuan yang akan menyadarkan kita ketika kita tidak lagi berada dalam jalur yang benar. serta pemurnian niat. Karena itu perenungan perlu dilakukan, mengingat lagi untuk apa kita mencari ilmu, menghabiskan waktu, pikiran, tenaga, dan harta kita untuk sesuatu yang kita harapkan darinya kita memperoleh ilmu. Muhasabah setelah kita melakukan sesuatu dan banyak-banyak beristighfar dalam setiap apapun yang kita kerjakan, memohon dan berdoa selalu Allah senantiasa membimbing kita karena hanya pada Allah lah kita bersandar secara mutlak. Bukan kepada yang selainNya. Dari sana akan lahir sikap peka diri kita insyaAllah, kita menjadi mudah mendeteksi jika hadir penyakit-penyakit hati dan kita khawatir jika ia tidak segera dibersihkan akan menghalangi kita dari cahaya ilmu. Kita takut jika dibiarkannya penyakit hati, ia lama kelamaan terus menumpuk dan akhirnya menyulitkan kita memperoleh kefahaman, atau jikapun faham, bukan mendatangkan penerangan kepada kita malah mendatangkan kebingungan dan kegelisahan. Ini yang amat kita hindarkan. Dan janganlah sampai hal ini menghinggapi diri kita para penuntut ilmu.. jaga terus hati, bersihkan terus ia agar kondisinya selalu siap menerima pancaran sinar ilahi melalui ilmu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar