ir a principal |
Ir a lateral
Tantangan Ilmu Bagi Diri
Tantangan ilmu adalah tantangan yang berat, membenarkan
kembali letak-letak yang salah melalui bimbingan ilmu yang benar bukan perkara
yang mudah. Justru melihat apa yang terjadi, saya merasa ini tantangan yang
sangat berat. Tanggung jawab yang besar dan ujian yang tidak mudah.
Membincangkan lagi permasalahan ilmu, masih menjadi hal yang tabu sekarang. Sedikit
orang yang mengenal makna ilmu, dan kalaupun mengenal, sering kali apa yang
dimaksud orang awam berbeda dengan apa yang dimaksudkan mereka yang sudah
memahami lebih dulu. Menyamakan persepsi bukan hal yang mudah, menyeragamkan
makna bukan seperti persoalan membalikkan telapak tangan. Di sinilah ujian itu
bermula. Mungkin berawal dari sini, atau mungkin sebelum sampai ke sini.
Lebih mengetahui daripada orang lain sungguh sebuah tanggung
jawab yang kita mesti hati-hati terhadapnya. Akankah dari pengetahuan yang kita
ketahui membuat diri kita merasa paling tahu, sehingga orang yang lebih tidak
tahu dibandingkan kita harus mendapatkan pengetahuan itu hanya melalui kita.
jika hasil dari ilmu itu bukan adab, mungkin merasa menjadi yang paling tahu
bukan menjadi sebuah kesalahan, menggurui dan ingin dipuji menjadi hal yang
sangat wajar dikarenakan kelebihtahuan kita dibanding yang lain. Tetapi adab
dan akhlak akan merubah sikap kita terhadap ilmu. Adab lah yang menentukan akan
bertambah tidaknya ilmu yang kita miliki. Dan akhlak akan menjadi ukuran sampai
tidaknya ilmu pada diri kita. inilah yang saya bilang sebagai perkara yang
perlu kehati-hatian, salah-salah, mencari banyak-banyak ilmu, melupakan kita
kepada hakikat tujuan kita. melupakan kita pada makna ilmu, yang akhirnya
menjauhkan kita dari beradab yang benar. tujuan menjadi blur karena niat pun
sudah berubah. Tempat tidak lagi kita kenali dan akhirnya kegagalanlah yang
kita dapatkan. Ini adalah ujian yang begitu berat. Tepatnya menjaga niat dan
mempertahankan tujuan.
Tidak sedikit saya perhatikan banyak yang terjebak dalam
tahapan ini. mereka yang merasa menjadi pendahulu, yang berada lebih dulu, yang
menyadari lebih dulu dibandingkan yang lain berusaha menonjolkan dirinya dengan
pengetahuan yang mereka miliki. Mengangkat topik yang justru lebih sering sulit
dipahami agar ke-pendahuluan mereka diketahui oleh mereka yang baru menyadari
dan masih lagi mengeja. Padahal adab mereka yang merasa sebagai pendahulu, tidaklah
menunjukkan seperti apa yang mereka katakan. Apakah ini akibat
ketergesa-gesaan? Apakah ilmu itu tidak sampai kepada diri mereka? bukankah
seharusnya ilmu itu menghadirkan rasa malu dalam diri mereka, kepekaan yang
membuat mereka semakin rendah diri dan merasa apa yang mereka ketahui selama ini
belum banyak mereka amalkan? Atau berjumpanya mereka dengan para ilmuwan dan
cendikiawan seharusnya melahirkan rasa begitu rendahnya ilmu mereka, begitu
tidak ada apa-apanya apa yang mereka ketahui selama ini. jika rasa seperti itu
tidak timbul apa yang salah?
Berat sungguh berat dan tidak mudah. Sungguh tantangan yang
begitu berarti bagi saya. Kehati-hatian terhadap ilmu yang telah dimiliki
ternyata mesti kita berikan perhatian khusus karena dari sana pula kita bisa
terperangkap, terjatuh dan akhirnya ternodai tujuan utama kita mencari ilmu.
Yang kita kejar pada akhirnya popularitas, kesan intelek, sanjungan dan imej
sebagai orang pandai. Sungguh berat ujian ini. dari perenungan apa yang saya
lihat melalui peristiwa ini yang tidak jarang saya temui di dunia keilmuwan,
saya menyadari bahwa hakikat tujuan itu tidak boleh terlepas sepanjang
perjalanan perjuangan kita. harus selalu kita bawa dan munculkan kembali setiap
kita hendak memilih sesuatu atau memutuskan sesuatu. ia harus melekat terus
dalam diri kita, karena tujuan yang akan menyadarkan kita ketika kita tidak
lagi berada dalam jalur yang benar. serta pemurnian niat. Karena itu perenungan
perlu dilakukan, mengingat lagi untuk apa kita mencari ilmu, menghabiskan
waktu, pikiran, tenaga, dan harta kita untuk sesuatu yang kita harapkan darinya
kita memperoleh ilmu. Muhasabah setelah kita melakukan sesuatu dan
banyak-banyak beristighfar dalam setiap apapun yang kita kerjakan, memohon dan
berdoa selalu Allah senantiasa membimbing kita karena hanya pada Allah lah kita
bersandar secara mutlak. Bukan kepada yang selainNya. Dari sana akan lahir
sikap peka diri kita insyaAllah, kita menjadi mudah mendeteksi jika hadir
penyakit-penyakit hati dan kita khawatir jika ia tidak segera dibersihkan akan
menghalangi kita dari cahaya ilmu. Kita takut jika dibiarkannya penyakit hati,
ia lama kelamaan terus menumpuk dan akhirnya menyulitkan kita memperoleh
kefahaman, atau jikapun faham, bukan mendatangkan penerangan kepada kita malah
mendatangkan kebingungan dan kegelisahan. Ini yang amat kita hindarkan. Dan
janganlah sampai hal ini menghinggapi diri kita para penuntut ilmu.. jaga terus
hati, bersihkan terus ia agar kondisinya selalu siap menerima pancaran sinar
ilahi melalui ilmu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar