Pages

Sabtu, 23 Februari 2013

17 Februari 2013 (Harus Bagaimana Kukatakan?)



Hingga hati ini pilu mengingatnya
Dan telinga ini lelah mendengarnya
Aku masih tak bergeming dalam posisi dudukku
Kukendurkan hati dan kubuat banyak toleransi

Harus bagaimana kukatakan?
Tentang semua derita yang kuketahui
Yang membuat dahiku selalu basah dibuatnya
Yang membuat dadaku sesak mengakuinya
Itu berat buat kita semua, bukan aku tidak tahu

Nyatalah semuanya tanpa harus kubicara
Menunggu apa lagi sedangkan semua sudah begitu nampak dimuka?
Apakah kekalutan hati yang menutupi kalian
Ataukah besarnya harapan karena kita telah begitu malang

Dengan siapa sesak ini hendak kubagi
Bagaimana membuat kalian mengerti?
Bahkan saat sikap tubuhku ini menunjukkan kegusarannya
Macam musuh kau lihat aku

Bukan aku merasa lebih baik dari kalian
Bukan pula dari mereka yang kalian banggakan
Ketahuilah ini bagian dari usahaku
Menyempurnakan diri memihak pada kebenaran

Meski berat kutahu langkah kalian itu
Beribu keringat sudah jatuh ke medan juang
Dan kalian nantikan sinar harapan itu terbit cemerlang
Menyongsong langkah terakhir lelah yang bukan kepalang

Telah lupakah kalian apa itu kemenangan?
Ketika dihadapan ada kesenangan yang lebih nampak dipandang.
Belumlah saatnya berhenti kawan,
Mungkin kemenangan adalah ketika selamanya kita berjuang.

Aku menangisi nasib kita
Dan kelemahanku atas diriku yang nista
Apa yang hendak kuperbuat
Ketika gerak gerikku kau pandang salah semua

Kita ini bukan dua kubu yang bertemu untuk saling unjuk kekuatan
Kita hamba yang lemah yang sama berharap pertolonganNya
Lalu untuk apa kita saling berselisih
Ketika tugas kita adalah saling mengingatkan?

Hendak bagaimana kukatakan?
setiap berada disisimu tiada kebenaran yang kau dapat dariku.
Sampai malam kutangisi kisah kita ini
Tetapi kelemahan diriku tak mampu menyampaikannya

Tuhan tahu dan aku hanya bergantung dengan itu
Tidak perlu lagi ia keluar dari mulut hinaku
Ataukah sampai terngiang jeritanku ini
Aku sudah hampir tak perduli

Aku bukan takut dengan sepi
Takda gentar hati ini menyongsongnya
Aku hanya takut menyakiti
Jika bibirku ini menyampaikannya dengan emosi

Masih kubungkam semua sesak yang menumpuk
Mungkin menjadi bom waktu yang semakin gemuk
Entah sampai kapan aku pun tak tahu
Sungguh aku takut menyakitimu

Akhirnya aku berpesan,
Dengan angin malam yang begitu lemah menyampaikan
Ntah dalam keadaan apa dirimu saat ini
Sedikit harap menunggu pesanku itu,
Meski tak harus menunggu pagi untuk mendapat jawab harapku itu

Kita sadarilah tujuan semula
Lihatlah jalan benar yang mengarah padanya
Beban kita begitu berat
Melangkahlah sampai tak sanggup

Kalaulah ia berhenti saat berundur
Menunggu persimpangan jalan yang mengubah semuanya
Yakinlah dalam hati kita
Allah tidak pernah tidur untuk menjadi saksinya

Jangan bersedih kawan
Meski bayaran yang begitu besar
Habis semua menebus langkah kita
Sungguh ia perbekalan yang begitu mulia
Jika Rabb selalu mengiringi deru nafas kita

Biarlah kawan
Biar berpisah raga sebentar
Teguhkan langkahmu kawan, majulah karena kebenaran
Perayaan hanya di tempat dimana langkah kita menuju
Janji Allah adalah tenaga yang takkan pernah surut
Perjumpaan denganNya adalah peneguh langkah yang kekal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar