Pages

Selasa, 31 Desember 2013

Teruntukmu, sahabatku.




Aku sudah membaca uraian kata-kata yang kamu rangkaikan untukku. meski mungkin kamu tidak pernah mengetahui bahwa aku telah membacanya, dan memang tidak perlu tau. Itu amat berlebihan, dan hanya membuatku merasa melayang-layang dan hilang kendali, padahal aku amat jauh dari apa yang kamu kesani. Hanya kamu tidak mengetahuinya, dan mungkin memang tidak perlu tau.

Kau tau, banyak perkara di dunia ini yang lebih baik untuk orang lain tidak mengetahuinya, aku banyak belajar tentang ini. Kita tidak pernah benar-benar tau keadaan seseorang, bahkan ketika orang itu bercerita dengan sejujur-jujurnya. Inilah mengapa, bergantung kepada manusia adalah cerita yang menyedihkan dan akan berujung pada kekecewaan, sebagaimana kecewamu padaku, aku tahu itu. Tetapi kecewa itu lebih baik, karena berarti ada yang lebih baik dari itu, yang tidak mengecewakan kita. Itu tentu bisa kita jawab sendiri. Hanya memang ini begitu sulit.

Seberharga apapun aku dimatamu, maupun kamu di mataku, wujudkan itu sebagai sebuah doa. Itu yang lebih membantu daripada ungkapan yang tidak sewajarnya, sedangkan Allah tahu kehinaan kita. Aku malu, sungguh aku malu.

Kita harus yakin dengan keMaha Adilan Allah, bersamaan dengan keyakinan kita akan keberadaan dan kehadiranNya. Karena itu yang mendatangkan rasa tenang dalam diri kita. Jika tidak, kita akan merasa menderita seorang diri, merasa orang lain lebih beruntung daripada diri kita, lebih nyaman hidupnya, padahal seperti yang kubilang tadi, kita tidak pernah betul-betul tau keadaan orang lain bahkan yang dalam sepenglihatan kita hidupnya lebih beruntung.

Belajarlah untuk menyimpan segala keperitan hidup dari orang lain, meski itu sulit dan amat menguji. Tapi aku yakin, kita bisa melakukan itu, karena Allah memberikan keupayaan untuk kita melakukannya. Sepahit dan sesakit apapun cobalah telan seorang diri. Karena orang lain tidak akan pernah benar-benar mengerti, kita paksa untuk mereka mengerti, semakin kita akan kecewa. 

Orang-orang yang (mungkin) menganggap hidup kita baik-baik saja, itu karena mereka tidak mengetahui yang sesungguhnya. Sedangkan jika kita berusaha menjelaskannya, berarti kita mengorbankan aib banyak orang. Biarlah orang melihat banyaknya kelebihan, sedang kekurangan kita pendam seorang diri saja, rasa sakitnya jadikan usaha meraih perhatian Allah, biarkan Allah menjadi satu-satunya saksi. Bukankah ketika kita berhasil melakukannya, itu sebuah kenikmatan yang besar? Bahkan ketika kita berhasil melakukannya, Allah juga yang memberikan karunia dan segala kemudahan itu, kita harus bersyukur lagi, bahkan ketika kita bisa terus bersyukur, itu kenikmatan lagi. Bagaimana cara kita bisa benar-benar bersyukur, ketika kita bisa bersyukur adalah juga bentuk karunia yang Ia beri?

Kalau kita sudah bisa berlaku demikian, pandangan kita terhadap orang lain akan berubah. Jika kita lihat orang lain bisa tersenyum bahagia, kita akan melihat itu adalah karena ia bisa menutupi masalahnya dan menutupi aib orang-orang yang ada dalam permasalahannya. Jika kita lihat hidup orang lain jauh lebih beruntung daripada diri kita, itu adalah karena dia menjalani hidupnya dengan tegar, berusaha terus bangkit dari keterpurukannya, dari kesedihannya, itu adalah seni dia dalam menikmati masalah. Kita akan terus berhusnudzon pada orang lain, yang berarti kita juga berhusnudzo padaNya. Karena tidaklah Allah memberikan ujian diluar kemampuan seorang hamba. KeMaha Adilannya membuatNya lebih mengetahui kesanggupan orang lain, bukan kita yang hanya berhenti pada prasangka dan penglihatan zahir semata. Sedangkan kezahiran adalah harga yang begitu murah untuk bisa membayar sebuah realitas. Terkadang, Ia tidak atau bahkan tidak sama sekali menunjukkan apa yang sebenarnya dialami batinnya. Itulah mengapa husnudzon akan menjauhkan kita dari iri, dengki, dan penyakit hati lain. Allah Maha Adil sahabat, tidak perlu kita mendikte apa lagi membandingkan masalah kita dengan orang lain. Manusia adalah makhluk yang serba tidak tahu, bagaimana ia (manusia) bisa bilang bahwa yang ini lebih baik dan yang itu lebih buruk??

Kehilangan. 

Sahabat, dimanapun dan kapanpun, kehilangan itu pasti berat. Kenapa berat? Karena kita merasa telah memiliki. Seperti seorang yang mengontrak di sebuah rumah. Jika ia sadar bahwa suatu hari ia akan pindah karena rumah itu bukan miliknya, dia tidak akan membeli barang-barang mewah yang susah diangkut meskipun ia sangat ingin. Ia akan membeli dan mengisi rumah itu dengan barang yang mudah diangkut dengan jumlah yang tidak berlebihan. Itu karena ia menyadari suatu hari ia akan pindah dari rumah itu sehingga ia berlaku sebagaimana mestinya. Jika ada orang yang menghabiskan uangnya untuk barang-barang yang gak perlu sehingga menumpuk di rumahnya, itu berarti dia lupa bahwa itu bukan rumahnya. Dan dia akan ingat itu ketika ia harus pindah, mungkin saat itu ia akan serba kebingungan karena tidak semua barangnya bisa dibawa, itu karena ia berlaku tidak sebagaimana mestinya pada rumah yang bukan milik dia itu.

Jadi, ingatilah bahwa apapun yang kita ‘miliki’ saat ini juga bukan milik kita, sikapi apapun dan siapapun itu seolah-olah ia akan diambil Sang Pemilik suatu saat. Memang akan berat melakukannya, membuat orang tidak selalu bergantung pada kita adalah perbuatan yang hampir tidak tega dilakukan. Tapi biarlah prasangka manusia menjadi ajang mencari perhatian Tuhan. Sedangkan Allah tahu apa yang berada dalam dada kita, dan kita hanya bergantung dengan itu, karena (sebenarnya) itu cukup.

Terbiasa kehilangan membuat kita menyadari betul fana-nya kehidupan. Jika tidak, mungkin kita akan merasa dunia ini bak surga. Allah berusaha mengingatkan kita dengan kehilangan itu. bersedihlah jika kita tidak pernah merasa kehilangan, bagaimana jika nanti Allah cabut sehingga semuanya hilang dari kita (bukankah ini hanya perkara waktu saja?), pantaslah ada orang yang hingga gila dan menghabisi diri ketika dideranya. Ini karena orang tersebut tidak berlaku sebagaimana mestinya, ia lupa, dan kealpaan menghantarkannya pada perasaan memiliki segalanya.

Sahabat, berusahalah kita menjalani hidup ini dengan kesungguhan, cuma ini kesempatan kita. Jangan sampai ketika bangun nanti kita menyesali segalanya. Bukankah sakit dalam mimpi itu akan hilang ketika kita terbangun, sedangkan penyesalan dalam mimpi akan terus kita rasakan meskipun kita sudah bangun? Hidup ini mimpi, dan mimpi itu punya akhir. Mengarungi kehidupan sendiri atau bersama sejatinya sama saja. Kita harus mempertanggung jawabkan semuanya seorang diri.

Teruntukmu sahabatku, jangan merasa sendiri. Meski bukan raga, doaku insyaaAllah senantiasa mengiringi. Dan itu yang lebih kamu perlukan daripada ragaku yang semu ini.

Allahu a’lam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar