Kau tau, banyak perkara di dunia ini yang lebih baik untuk
orang lain tidak mengetahuinya, aku banyak belajar tentang ini. Kita tidak
pernah benar-benar tau keadaan seseorang, bahkan ketika orang itu bercerita
dengan sejujur-jujurnya. Inilah mengapa, bergantung kepada manusia adalah
cerita yang menyedihkan dan akan berujung pada kekecewaan, sebagaimana kecewamu
padaku, aku tahu itu. Tetapi kecewa itu lebih baik, karena berarti ada yang
lebih baik dari itu, yang tidak mengecewakan kita. Itu tentu bisa kita jawab
sendiri. Hanya memang ini begitu sulit.
Seberharga apapun aku dimatamu, maupun kamu di mataku,
wujudkan itu sebagai sebuah doa. Itu yang lebih membantu daripada ungkapan yang
tidak sewajarnya, sedangkan Allah tahu kehinaan kita. Aku malu, sungguh aku
malu.
Kita harus yakin dengan keMaha Adilan Allah, bersamaan
dengan keyakinan kita akan keberadaan dan kehadiranNya. Karena itu yang
mendatangkan rasa tenang dalam diri kita. Jika tidak, kita akan merasa
menderita seorang diri, merasa orang lain lebih beruntung daripada diri kita,
lebih nyaman hidupnya, padahal seperti yang kubilang tadi, kita tidak pernah
betul-betul tau keadaan orang lain bahkan yang dalam sepenglihatan kita
hidupnya lebih beruntung.
Belajarlah untuk menyimpan segala keperitan hidup dari orang
lain, meski itu sulit dan amat menguji. Tapi aku yakin, kita bisa melakukan
itu, karena Allah memberikan keupayaan untuk kita melakukannya. Sepahit dan
sesakit apapun cobalah telan seorang diri. Karena orang lain tidak akan pernah
benar-benar mengerti, kita paksa untuk mereka mengerti, semakin kita akan
kecewa.
Orang-orang yang (mungkin) menganggap hidup kita baik-baik saja, itu
karena mereka tidak mengetahui yang sesungguhnya. Sedangkan jika kita berusaha
menjelaskannya, berarti kita mengorbankan aib banyak orang. Biarlah orang
melihat banyaknya kelebihan, sedang kekurangan kita pendam seorang diri saja, rasa
sakitnya jadikan usaha meraih perhatian Allah, biarkan Allah menjadi
satu-satunya saksi. Bukankah ketika kita berhasil melakukannya, itu sebuah
kenikmatan yang besar? Bahkan ketika kita berhasil melakukannya, Allah juga
yang memberikan karunia dan segala kemudahan itu, kita harus bersyukur lagi,
bahkan ketika kita bisa terus bersyukur, itu kenikmatan lagi. Bagaimana cara
kita bisa benar-benar bersyukur, ketika kita bisa bersyukur adalah juga bentuk
karunia yang Ia beri?
Kalau kita sudah bisa berlaku demikian, pandangan kita
terhadap orang lain akan berubah. Jika kita lihat orang lain bisa tersenyum
bahagia, kita akan melihat itu adalah karena ia bisa menutupi masalahnya dan
menutupi aib orang-orang yang ada dalam permasalahannya. Jika kita lihat hidup
orang lain jauh lebih beruntung daripada diri kita, itu adalah karena dia
menjalani hidupnya dengan tegar, berusaha terus bangkit dari keterpurukannya,
dari kesedihannya, itu adalah seni dia dalam menikmati masalah. Kita akan terus
berhusnudzon pada orang lain, yang berarti kita juga berhusnudzo padaNya. Karena
tidaklah Allah memberikan ujian diluar kemampuan seorang hamba. KeMaha Adilannya
membuatNya lebih mengetahui kesanggupan orang lain, bukan kita yang hanya
berhenti pada prasangka dan penglihatan zahir semata. Sedangkan kezahiran adalah
harga yang begitu murah untuk bisa membayar sebuah realitas. Terkadang, Ia tidak
atau bahkan tidak sama sekali menunjukkan apa yang sebenarnya dialami batinnya.
Itulah mengapa husnudzon akan menjauhkan kita dari iri, dengki, dan penyakit
hati lain. Allah Maha Adil sahabat, tidak perlu kita mendikte apa lagi
membandingkan masalah kita dengan orang lain. Manusia adalah makhluk yang serba
tidak tahu, bagaimana ia (manusia) bisa bilang bahwa yang ini lebih baik dan
yang itu lebih buruk??
Kehilangan.
Sahabat, dimanapun dan kapanpun, kehilangan itu pasti berat.
Kenapa berat? Karena kita merasa telah memiliki. Seperti seorang yang
mengontrak di sebuah rumah. Jika ia sadar bahwa suatu hari ia akan pindah
karena rumah itu bukan miliknya, dia tidak akan membeli barang-barang mewah
yang susah diangkut meskipun ia sangat ingin. Ia akan membeli dan mengisi rumah
itu dengan barang yang mudah diangkut dengan jumlah yang tidak berlebihan. Itu karena
ia menyadari suatu hari ia akan pindah dari rumah itu sehingga ia berlaku
sebagaimana mestinya. Jika ada orang yang menghabiskan uangnya untuk
barang-barang yang gak perlu sehingga menumpuk di rumahnya, itu berarti dia
lupa bahwa itu bukan rumahnya. Dan dia akan ingat itu ketika ia harus pindah,
mungkin saat itu ia akan serba kebingungan karena tidak semua barangnya bisa
dibawa, itu karena ia berlaku tidak sebagaimana mestinya pada rumah yang bukan
milik dia itu.
Jadi, ingatilah bahwa apapun yang kita ‘miliki’ saat ini
juga bukan milik kita, sikapi apapun dan siapapun itu seolah-olah ia akan
diambil Sang Pemilik suatu saat. Memang akan berat melakukannya, membuat orang
tidak selalu bergantung pada kita adalah perbuatan yang hampir tidak tega
dilakukan. Tapi biarlah prasangka manusia menjadi ajang mencari perhatian
Tuhan. Sedangkan Allah tahu apa yang berada dalam dada kita, dan kita hanya
bergantung dengan itu, karena (sebenarnya) itu cukup.
Terbiasa kehilangan membuat kita menyadari betul fana-nya
kehidupan. Jika tidak, mungkin kita akan merasa dunia ini bak surga. Allah berusaha
mengingatkan kita dengan kehilangan itu. bersedihlah jika kita tidak pernah
merasa kehilangan, bagaimana jika nanti Allah cabut sehingga semuanya hilang
dari kita (bukankah ini hanya perkara waktu saja?), pantaslah ada orang yang
hingga gila dan menghabisi diri ketika dideranya. Ini karena orang tersebut
tidak berlaku sebagaimana mestinya, ia lupa, dan kealpaan menghantarkannya pada
perasaan memiliki segalanya.
Sahabat, berusahalah kita menjalani hidup ini dengan
kesungguhan, cuma ini kesempatan kita. Jangan sampai ketika bangun nanti kita
menyesali segalanya. Bukankah sakit dalam mimpi itu akan hilang ketika kita
terbangun, sedangkan penyesalan dalam mimpi akan terus kita rasakan meskipun
kita sudah bangun? Hidup ini mimpi, dan mimpi itu punya akhir. Mengarungi kehidupan
sendiri atau bersama sejatinya sama saja. Kita harus mempertanggung jawabkan
semuanya seorang diri.
Teruntukmu sahabatku, jangan merasa sendiri. Meski bukan raga, doaku
insyaaAllah senantiasa mengiringi. Dan itu yang lebih kamu perlukan daripada
ragaku yang semu ini.
Allahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar