Hati yang hidup, memandang pagi bak surgawi
Mewah, megah, cerah tiada cacat sama sekali
Sinar mentari mengguyur tumbuh-tumbuhan, bermandi-mandi
memantulkan bayang-bayangnya di jalan-jalan
Citit-cicit burung menggelitik telinga, “apa yang burung-burung itu lihat dan rasakan?”
“mungkin cicit itu ucapan salamnya pada ribuan malaikat
yang memenuhi pagi bumi”
“atau… tasbihnya pada Ilahi Yang Mendatangkan Pagi”
“atau juga.. cuit-cuit berarti jerit perit burung-burung
pada manusia-manusia yang ditemui: HEY! Sadarlah betapa megahnya pagi ini!
Karunia Tuhan yang sangat berarti! Tak tertandingi! Ruginya dirimu yang
dibutakan oleh kesibukan, ditulikan hiruk-pikuk pikiran, dipalingkan oleh
angan-angan dunia maya dan KAU yang masih mendengkur! Dihalangi oleh kepalsuan
mimpi sehingga tak kau peroleh nikmat yang sangat besar ini! Alangkah merugi!”
Lihatlah kabut yang berjalan menjauhi pegunungan, bak tirai
yang membelah langit! Mempersembahkan sebuah pertunjukkan menakjubkan bagi hati
yang menyadari.
Tidakkah juga kau temukan tawa riang anak-anak yang berjalan
kaki, saat menjemput masa depan yang masih menjadi misteri.
Sungguh, sungguh merugi,
Orang yang melewati begitu saja keajaiban ini
Pantas hatinya sempit jiwanya gelisah
Karena dalam harinya, tak ditemuinya pagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar