Pages

Rabu, 13 November 2019

Liaison Officer


Pengalamanku menjadi L.O kemarin adalah untuk kali yang pertama. Ingin rasanya kuceritakan hal menarik yang kurasakan semuanya, namun baru kubagi beberapa kepada orang-orang terdekatku saja. Bunda dan sahabat satu organisasiku. Di tempat ini ingin rasanya aku menceritakan lebih banyak dan panjang tanpa menyebut nama. Bukan apa, hari mungkin berlalu membawa peristiwa, tetapi pikiranku sulit berpindah darinya. Terlalu banyak hal istimewa yang mengisi waktu-waktuku dan mungkin sedikit menganggu. Karena itu aku berharap dengan menuliskannya, dapat redalah sedikit gairahku untuk mengenangnya.

Ingat betul bagaimana perasaanku ketika menghitung hari menuju acara besar yang akan kuhadiri sebagai salah seorang penyelenggara. Meski peranku tidak besar, tapi tetap saja aku tidak sabar. Ntahlah, aku rasa segalanya dipermudah, padahal 4 hari adalah waktu yang tidak sebentar. Aku begitu bersemangat!

Demi mempersiapkan diriku, aku menargetkan untuk menghabiskan beberapa tulisan para pembentang. Baik paper maupun buku. Sayangnya, yang benar-benar kulumat habis hanya dua orang. Mungkin diantara yang ingin sekali aku temui, Prof T dan Dr S. Aku ingin bertemu Prof T sejak lama dan aku menyukai tulisan Dr S ketika kali pertama temanku mengirimkan salah satu jurnalnya yang menarikku masuk melalui judulnya.

Karena dipadatkan oleh kerja, sampai hari H aku tidak bisa menambah bahan bacaanku. Seharusnya bahkan aku bisa membaca karya Prof T yang lain. Sudahlah, toh waktu untuk bertemu berarti semakin dekat.

Sehingga tibalah aku diantar kedua orang tuaku yang teramat setia. Mereka berdua selalu memiliki perangkat untuk memperbaiki keadaan sehingga tidak ada dalam sedetik pun aku tidak bersyukur memiliki mereka. daaan, tibalah tugas itu.

Lucunya, karena satu, dua, tiga dan lain hal, para pengurus acara tidak dapat menjalankan tugasnya sebagaimana yang direncanakan sejak awal. Aku merasa acara hampir gagal kecuali Allah memberi kekuatan dan menutupi segala kekurangan. Salah satunya dengan peran gandaku. Dalam satu pagi, tetaplah aku menjadi L.O Prof S dan Dr S sekaligus. Jujur, aku sudah tidak dapat menikmati perasaanku lagi waktu itu karena kepanikan yang hampir sama besar dengan rasa gembira. Kau tahu apa artinya?

Aku tau karena semua yang hampir keluar dari rencana, ditambah tugasku yang berganda-ganda, beberapa kali aku mengecewakan mereka. Beberapa kali aku tidak datang tepat waktu dan tidak hadir saat dibutuhkan. Kau tau betapa sedihnya itu? Terutama buatku yang perasa. Mungkin jika  tahu sejak awal, lebih baik memilih mundur daripada meninggalkan noda di hati ke dua orang yang begitu kujunjung tinggi. tidak dikenal sepertinya lebih baik.

Tetapi tentu saja aku tidak bisa menyerah. Menyerah sama saja menghendaki yang lebih buruk lagi. Jadilah aku sering bertingkah nekat. Misalnya, ketika Prof T meminta diantar untuk makan siang, aku meng-iyakan dalam 30 menit padahal kondisi saat itu tidak ada kendaraan yang bisa digunakan sekaligus supir yang bisa mengantar kami. Karena pasukan antar jemput kurang, 2 mobil belum datang, jadilah yang ada pun sudah punya antrian. Tentu saja aku panic luar biasa. harus bagaimana sebaiknya? Kalau sewa kendaraan umum online aku juga tidak tahu peta bandung dan aku tidak tahu harus membawa kemana. Aku sempat merasa begitu kacau karena menjanjikan hal yang tidak mampu aku buat. Meski demikian, aku tetap membangun komunikasi sehingga setidaknya Prof T tidak terlalu kecewa.

Syukurnya temanku yang siap mengantar sudah dekat, jadilah sambil menunggu kuberanikan diri datang kembali ke bilik Prof untuk menunggu sama-sama. Tak kusangka, bukan marah yang kuterima, melainkan kesediaan untuk berdiskusi banyak hal. Kami sama-sama menikmati (kau tahu, kau bisa merasakannya) sampai tak sadar waktu sudah hampir terlampau satu jam. Diskusi kami pun disudahi dengan ketukan pintu. Kau tau apa yang Prof T katakan? “kalau tak dihentikan, saya akan terus bincang”. Sungguh ini kuasa Allah.

Ini terjadi bukan hanya sekali. Menjanjikan sesuatu yang belum jelas. Seperti mengantar Prof T jalan-jalan dan pulang ke bandara. Hahaha, sekarang aku malah mau tertawa. Alangkah lucu jika kuingat-ingat masa menengangkan itu. ‘iya-kan dulu baru panic kemudian’. Jadilah sakit kepala aku mencari jalan keluar. Sebenarnya aku tau aku sedang diajak tawakal. Tak sampai hati aku mengatakan tidak.

Peristiwa lainnya lagi ialah saat aku berjanji mengajaknya jalan-jalan ke Tangkuban Perahu. Betapa panic saat itu aku mencari kendaraan dan supir yang siap. Sehinggalah sempat tertunda juga dari waktu yang dijanjikan, sudah gitu Prof T belum sempat sarapan karena habis menyisakan menu yang tidak disukainya. Meski demikian, percayalah, semua kekesalannya itu terbayar ketika sampai di sana. Kami disambut gumpalan-gumpalan awan yang indah. Cerah, tidak terik, dan sedikit mendung. Dapat kau bayangkan betapa indahnya? Aku juga merasa Prof T puas selain karena suasana pegunungan yang langka, juga karena mendapatkan barang-barang yang disukainya dengan harga yang murah. Tentu saja ini juga lahir dari tindakan nekat saat menawar, karena sesungguhnya aku tidak tahu harga semua benda-benda itu.

Prof T baru hendak cari makan ketika turun dari Gn. Tangkuban. Sesungguhnya aku tak tahu harus membawanya kemana dan jenis makanan yang enak ditengah padatnya mobil menuju Lembang. Namun yang kulakukan adalah terus berdoa di dalam hati. Berharap Allah pilihkan tempat terbaik. Dan benar saja, tiba2 mataku tertuju pada sebuah restoran padang yang nampak berbeda dari restoran-restoran yang sebelumnya kami lalui. Benar saja, Alhamdulillah. Prof T suka sekali dengan masakan itu ditambah jus alpukat yang ternyata tersedia dan menjadi incarannya. Allah.. Allah.. Allah… hanya itu yang bisa kuucap dalam hati.

Syukurnya lagi saat itu aku bawa uang lebih, karena diluar dugaanku, membawa tamu mancanegara harus mengorek kocek dalam-dalam. Sebab untuk masuk saja, aku harus mengeluarkan 670 rb… Alhamdulillah aku sedang dalam kondisi memegang uang institusi. Tadinya kupikir bawa uang 200-300 saja sudah cukup.

Dan yang terakhir ialah saat menjanjikan Prof untuk pergi ke pasar baru sekaligus mengantar ke Airport. Ini adalah puncaknya. Sebab pengendara yang tadi mengantar kami, tidak bisa pergi mengantar lagi karena harus ikut acara. Halah. Selamat datang kepanikan berikutnya. Udah gitu janjiku cuma setengah jam.

Tapi Alhamdulillah, jalan selalu ada. Dengan kepanikan yang berusaha kuredam, dapatlah kami plan yang sungguh cantik. Meski pada akhirnya Prof T menunggu dan datang duluan sebelum sempat dijemput, tetapi itu juga terbayar dengan didapatinya kain bagus yang memikat hati. FYI, pengendara mobil kami ini sebenarnya belum lancar betul. Jadilah di tanjakan selama keluar hotel, 3 kepala tidak putus berdoa dengan muka yang sangat pucat.

Cerita berakhir dengan indah, Alhamdulillah. Sampai bandara kami belum diperbolehkan check in. alhasil kami menunggu sambil minum kopi. Selama menunggu kami tukaran foto dan berbincang kembali. Saat itulah aku sempat menikmati karunia ini, mimpi apa bisa sedekat ini. meskipun, karena semangat yang sedikit keluar kontrol, aku sempat membuatnya agak marah karena menanyakan persoalan yang tidak didasarkan pikiran yang panjang. Mungkin beliau penat juga.

Sebelum masuk, Prof sempat risau, akankah tanaman yang dibelinya bisa masuk ke cabin pesawat. Aku terus saja meyakinkannya, hal yang sudah ku amalkan berkali-kali, yakin dulu baru pikir kemudian.hehe. Yang semula Prof minta kami menunggu sampai dirinya masuk ke boarding room, tiba-tiba ia kembali dan berubah fikiran, meminta kami pulang. Tadinya aku mau duduk di sana sampai jadwal take off pesawat Prof T, tetapi karena aku memikirkan temanku lainnya yang punya janji juga, akhirnya kami putuskanlah untuk pulang segera, setelah Prof mengizinkannya.

Sampai di hotel, baru beberapa lama memijakkan kaki, dan sempat foto 2 kali, sampailah pesan di WA kalau tanaman Prof tidak bisa dibawa masuk. Aku pun mencoba menghubungi Prof dan meminta petugas untuk menunggu. Aku harus ke sana sebelum pukul 7 malam untuk mengambil tanaman itu. Cerita ini hampir berakhir, karena akhirnya sambil hujan-hujanan dengan kawanku F, kami menerobos kemacetan kota menuju bandara mengendarai motor. Hahaha. Lucu memang jika dikenang.

Prof T memintaku merawat tanamannya agar aku selalu ingat padanya, yang kujawab “tanpa tanaman ini, saki akan sentiasa ingat kepada Prof!”

Kisah dengan Prof T selesai. Selanjutnya akan kuceritakan mengenai kisahku dengan Dr S. ini tidak kalah seru!

Sejak awal perjumaanku dengan Dr S tidaklah begitu baik, bagaimana tidak, begitu datang kunci kamar yang seharusnya kuberikan tidak ada. Hilang entah kemana. Disebabkan teman sekamarnya yang sudah mengambil lebih dulu tanpa registrasi. Awal yang kurang baik.

Udah gitu, permintaan lainnya pun tidak terpenuhi. Untuk sekamar sendiri, atau bahkan yang minimal pegang kunci sendiri. Kau tahu betapa sedihnya ketika seorang pelayan tidak dapat memenuhi permintaan tuannya? Tetapi syukurlah hal ini bisa diredam sedikit melalui kehadiran antar jemput yang kususun se-tepat waktu mungkin, meskipun beberapa kali kehilangan hanya dalam beberapa menit.

Dr S bagiku very wise. Ketika membaca papernya pun sudah terbayang-bayang seperti apa sosoknya. Sungguh suatu kehormatan bisa menjadi pelayannya meski hanya beberapa hari. Oleh karena menjadi L.O di dua tempat, jadi tidak jarang kebutuhan keduanya berbentrokan. Hal yang paling membuat bingung. Tetapi syukur karena Allah senantiasa memberi kemudahanNya.

Ada sekali waktu –tentu saja ini kenangan yang tidak akan kulupakan sepanjang hidupku. Karena kondisi tubuh yang sudah sangat lelah, dan fikiran yang juga letih, aku lupa jadwal diundur dan menjemput Dr S jauh sebelum pembentangannya. Beberapa kali aku berusaha mencoba mengumpulkan konstrasiku, tetapi beberapa kali juga aku gagal. Aku belum benar-benar memanfaatkan peluang bersamanya, fikirku. Sampai kejadian yang kecepatan menjemput itu.

Aku datang 2 jam sebelum pembentangan, alhasil niat menjemput dianggap hendak bertandang. Dr S yang baru selesai shalat, mengajakku masuk dan duduk di ruang tamunya. Perbincangan pun dimulai, mengalir, membasahi dan merembes ke pori-pori jiwaku rasanya. Ini yang aku tunggu, fikirku. Perbincangan meninggi dan memancing rasa haru dan sesak di dada. Kau tahu, di beberapa masa itu kami menangis bersama. Ketika tiba pada perkara hikmah dan kesungguhan. Allah…. Rasa terbayar semua rasa lelah dan letihku. Hilang semua rasa rugi tidak bisa hadir di setiap pembentangan. Hilang melayang dan berganti rasa yang begitu teduh, mendengar nasihat bahkan dendangan guru. Memanjakan telinga batinku.

Meski pada akhirnya aku tidak bisa berjumpa diakhir kepulangannya, memeluk dan memanjatkan doa secara langsung di telinganya, namun sempat kami berpapasan di jalan sebelum makan pagi. Dr S memberiku gulungan paper kumpulan karya guru-guru berhikmah. Sebagai kenang-kenangan darinya. Allah… nikmat sekali. Diingat dan dipersembahkan sesuatu oleh seorang guru mulia adalah tak tergambar rasanya.

Itulah yang ingin kuceritakan. Jika mengingat momen-momen bahagia, rasanya hendak diulang. Namun apabila mengingat momen-momen menegangkan dan mengecewakan, rasanya juga ingin diulang, untuk diperbaiki lagi tentunya. Adalah diantara kesempatan paling berharga dalam hidupku bisa melayani kedua tamu agung itu. Meski amanah ini pada akhirnya diemban karena tidak ada lagi orang, namun aku meyakini sejak awal memang Allah yang menyiapkannya. Semoga segala kelemahan dan kelalaianku tidak menjadikanNya kecewa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar