Pengalamanku menjadi L.O kemarin adalah untuk kali yang
pertama. Ingin rasanya kuceritakan hal menarik yang kurasakan semuanya, namun
baru kubagi beberapa kepada orang-orang terdekatku saja. Bunda dan sahabat satu
organisasiku. Di tempat ini ingin rasanya aku menceritakan lebih banyak dan
panjang tanpa menyebut nama. Bukan apa, hari mungkin berlalu membawa peristiwa,
tetapi pikiranku sulit berpindah darinya. Terlalu banyak hal istimewa yang
mengisi waktu-waktuku dan mungkin sedikit menganggu. Karena itu aku berharap
dengan menuliskannya, dapat redalah sedikit gairahku untuk mengenangnya.
Ingat betul bagaimana perasaanku ketika menghitung hari
menuju acara besar yang akan kuhadiri sebagai salah seorang penyelenggara.
Meski peranku tidak besar, tapi tetap saja aku tidak sabar. Ntahlah, aku rasa
segalanya dipermudah, padahal 4 hari adalah waktu yang tidak sebentar. Aku
begitu bersemangat!
Demi mempersiapkan diriku, aku menargetkan untuk
menghabiskan beberapa tulisan para pembentang. Baik paper maupun buku.
Sayangnya, yang benar-benar kulumat habis hanya dua orang. Mungkin diantara
yang ingin sekali aku temui, Prof T dan Dr S. Aku ingin bertemu Prof T sejak
lama dan aku menyukai tulisan Dr S ketika kali pertama temanku mengirimkan salah
satu jurnalnya yang menarikku masuk melalui judulnya.
Karena dipadatkan oleh kerja, sampai hari H aku tidak bisa
menambah bahan bacaanku. Seharusnya bahkan aku bisa membaca karya Prof T yang
lain. Sudahlah, toh waktu untuk bertemu berarti semakin dekat.
Sehingga tibalah aku diantar kedua orang tuaku yang teramat
setia. Mereka berdua selalu memiliki perangkat untuk memperbaiki keadaan
sehingga tidak ada dalam sedetik pun aku tidak bersyukur memiliki mereka.
daaan, tibalah tugas itu.
Lucunya, karena satu, dua, tiga dan lain hal, para pengurus
acara tidak dapat menjalankan tugasnya sebagaimana yang direncanakan sejak
awal. Aku merasa acara hampir gagal kecuali Allah memberi kekuatan dan menutupi
segala kekurangan. Salah satunya dengan peran gandaku. Dalam satu pagi,
tetaplah aku menjadi L.O Prof S dan Dr S sekaligus. Jujur, aku sudah tidak
dapat menikmati perasaanku lagi waktu itu karena kepanikan yang hampir sama
besar dengan rasa gembira. Kau tahu apa artinya?
Aku tau karena semua yang hampir keluar dari rencana,
ditambah tugasku yang berganda-ganda, beberapa kali aku mengecewakan mereka.
Beberapa kali aku tidak datang tepat waktu dan tidak hadir saat dibutuhkan. Kau
tau betapa sedihnya itu? Terutama buatku yang perasa. Mungkin jika tahu sejak awal, lebih baik memilih mundur
daripada meninggalkan noda di hati ke dua orang yang begitu kujunjung tinggi.
tidak dikenal sepertinya lebih baik.
Tetapi tentu saja aku tidak bisa menyerah. Menyerah sama
saja menghendaki yang lebih buruk lagi. Jadilah aku sering bertingkah nekat.
Misalnya, ketika Prof T meminta diantar untuk makan siang, aku meng-iyakan
dalam 30 menit padahal kondisi saat itu tidak ada kendaraan yang bisa digunakan
sekaligus supir yang bisa mengantar kami. Karena pasukan antar jemput kurang, 2
mobil belum datang, jadilah yang ada pun sudah punya antrian. Tentu saja aku
panic luar biasa. harus bagaimana sebaiknya? Kalau sewa kendaraan umum online
aku juga tidak tahu peta bandung dan aku tidak tahu harus membawa kemana. Aku
sempat merasa begitu kacau karena menjanjikan hal yang tidak mampu aku buat.
Meski demikian, aku tetap membangun komunikasi sehingga setidaknya Prof T tidak
terlalu kecewa.
Syukurnya temanku yang siap mengantar sudah dekat, jadilah
sambil menunggu kuberanikan diri datang kembali ke bilik Prof untuk menunggu
sama-sama. Tak kusangka, bukan marah yang kuterima, melainkan kesediaan untuk
berdiskusi banyak hal. Kami sama-sama menikmati (kau tahu, kau bisa
merasakannya) sampai tak sadar waktu sudah hampir terlampau satu jam. Diskusi
kami pun disudahi dengan ketukan pintu. Kau tau apa yang Prof T katakan? “kalau
tak dihentikan, saya akan terus bincang”. Sungguh ini kuasa Allah.
Ini terjadi bukan hanya sekali. Menjanjikan sesuatu yang
belum jelas. Seperti mengantar Prof T jalan-jalan dan pulang ke bandara.
Hahaha, sekarang aku malah mau tertawa. Alangkah lucu jika kuingat-ingat masa
menengangkan itu. ‘iya-kan dulu baru panic kemudian’. Jadilah sakit kepala aku
mencari jalan keluar. Sebenarnya aku tau aku sedang diajak tawakal. Tak sampai
hati aku mengatakan tidak.
Peristiwa lainnya lagi ialah saat aku berjanji mengajaknya
jalan-jalan ke Tangkuban Perahu. Betapa panic saat itu aku mencari kendaraan
dan supir yang siap. Sehinggalah sempat tertunda juga dari waktu yang
dijanjikan, sudah gitu Prof T belum sempat sarapan karena habis menyisakan menu
yang tidak disukainya. Meski demikian, percayalah, semua kekesalannya itu
terbayar ketika sampai di sana. Kami disambut gumpalan-gumpalan awan yang
indah. Cerah, tidak terik, dan sedikit mendung. Dapat kau bayangkan betapa
indahnya? Aku juga merasa Prof T puas selain karena suasana pegunungan yang
langka, juga karena mendapatkan barang-barang yang disukainya dengan harga yang
murah. Tentu saja ini juga lahir dari tindakan nekat saat menawar, karena
sesungguhnya aku tidak tahu harga semua benda-benda itu.
Prof T baru hendak cari makan ketika turun dari Gn.
Tangkuban. Sesungguhnya aku tak tahu harus membawanya kemana dan jenis makanan yang
enak ditengah padatnya mobil menuju Lembang. Namun yang kulakukan adalah terus
berdoa di dalam hati. Berharap Allah pilihkan tempat terbaik. Dan benar saja,
tiba2 mataku tertuju pada sebuah restoran padang yang nampak berbeda dari restoran-restoran
yang sebelumnya kami lalui. Benar saja, Alhamdulillah. Prof T suka sekali
dengan masakan itu ditambah jus alpukat yang ternyata tersedia dan menjadi
incarannya. Allah.. Allah.. Allah… hanya itu yang bisa kuucap dalam hati.
Syukurnya lagi saat itu aku bawa uang lebih, karena diluar
dugaanku, membawa tamu mancanegara harus mengorek kocek dalam-dalam. Sebab
untuk masuk saja, aku harus mengeluarkan 670 rb… Alhamdulillah aku sedang dalam
kondisi memegang uang institusi. Tadinya kupikir bawa uang 200-300 saja sudah
cukup.
Dan yang terakhir ialah saat menjanjikan Prof untuk pergi ke
pasar baru sekaligus mengantar ke Airport. Ini adalah puncaknya. Sebab
pengendara yang tadi mengantar kami, tidak bisa pergi mengantar lagi karena
harus ikut acara. Halah. Selamat datang kepanikan berikutnya. Udah gitu janjiku
cuma setengah jam.
Tapi Alhamdulillah, jalan selalu ada. Dengan kepanikan yang
berusaha kuredam, dapatlah kami plan yang sungguh cantik. Meski pada akhirnya
Prof T menunggu dan datang duluan sebelum sempat dijemput, tetapi itu juga
terbayar dengan didapatinya kain bagus yang memikat hati. FYI, pengendara mobil
kami ini sebenarnya belum lancar betul. Jadilah di tanjakan selama keluar
hotel, 3 kepala tidak putus berdoa dengan muka yang sangat pucat.
Cerita berakhir dengan indah, Alhamdulillah. Sampai bandara
kami belum diperbolehkan check in. alhasil kami menunggu sambil minum kopi.
Selama menunggu kami tukaran foto dan berbincang kembali. Saat itulah aku
sempat menikmati karunia ini, mimpi apa bisa sedekat ini. meskipun, karena
semangat yang sedikit keluar kontrol, aku sempat membuatnya agak marah karena
menanyakan persoalan yang tidak didasarkan pikiran yang panjang. Mungkin beliau
penat juga.
Sebelum masuk, Prof sempat risau, akankah tanaman yang
dibelinya bisa masuk ke cabin pesawat. Aku terus saja meyakinkannya, hal yang
sudah ku amalkan berkali-kali, yakin dulu baru pikir kemudian.hehe. Yang semula
Prof minta kami menunggu sampai dirinya masuk ke boarding room, tiba-tiba ia
kembali dan berubah fikiran, meminta kami pulang. Tadinya aku mau duduk di sana
sampai jadwal take off pesawat Prof T, tetapi karena aku memikirkan temanku
lainnya yang punya janji juga, akhirnya kami putuskanlah untuk pulang segera,
setelah Prof mengizinkannya.
Sampai di hotel, baru beberapa lama memijakkan kaki, dan
sempat foto 2 kali, sampailah pesan di WA kalau tanaman Prof tidak bisa dibawa
masuk. Aku pun mencoba menghubungi Prof dan meminta petugas untuk menunggu. Aku
harus ke sana sebelum pukul 7 malam untuk mengambil tanaman itu. Cerita ini
hampir berakhir, karena akhirnya sambil hujan-hujanan dengan kawanku F, kami
menerobos kemacetan kota menuju bandara mengendarai motor. Hahaha. Lucu memang
jika dikenang.
Prof T memintaku merawat tanamannya agar aku selalu ingat
padanya, yang kujawab “tanpa tanaman ini, saki akan sentiasa ingat kepada
Prof!”
Kisah dengan Prof T selesai. Selanjutnya akan kuceritakan
mengenai kisahku dengan Dr S. ini tidak kalah seru!
Sejak awal perjumaanku dengan Dr S tidaklah begitu baik,
bagaimana tidak, begitu datang kunci kamar yang seharusnya kuberikan tidak ada.
Hilang entah kemana. Disebabkan teman sekamarnya yang sudah mengambil lebih
dulu tanpa registrasi. Awal yang kurang baik.
Udah gitu, permintaan lainnya pun tidak terpenuhi. Untuk sekamar
sendiri, atau bahkan yang minimal pegang kunci sendiri. Kau tahu betapa
sedihnya ketika seorang pelayan tidak dapat memenuhi permintaan tuannya? Tetapi
syukurlah hal ini bisa diredam sedikit melalui kehadiran antar jemput yang
kususun se-tepat waktu mungkin, meskipun beberapa kali kehilangan hanya dalam
beberapa menit.
Dr S bagiku very wise. Ketika membaca papernya pun sudah
terbayang-bayang seperti apa sosoknya. Sungguh suatu kehormatan bisa menjadi
pelayannya meski hanya beberapa hari. Oleh karena menjadi L.O di dua tempat,
jadi tidak jarang kebutuhan keduanya berbentrokan. Hal yang paling membuat
bingung. Tetapi syukur karena Allah senantiasa memberi kemudahanNya.
Ada sekali waktu –tentu saja ini kenangan yang tidak akan
kulupakan sepanjang hidupku. Karena kondisi tubuh yang sudah sangat lelah, dan
fikiran yang juga letih, aku lupa jadwal diundur dan menjemput Dr S jauh
sebelum pembentangannya. Beberapa kali aku berusaha mencoba mengumpulkan
konstrasiku, tetapi beberapa kali juga aku gagal. Aku belum benar-benar
memanfaatkan peluang bersamanya, fikirku. Sampai kejadian yang kecepatan menjemput
itu.
Aku datang 2 jam sebelum pembentangan, alhasil niat
menjemput dianggap hendak bertandang. Dr S yang baru selesai shalat, mengajakku
masuk dan duduk di ruang tamunya. Perbincangan pun dimulai, mengalir, membasahi
dan merembes ke pori-pori jiwaku rasanya. Ini
yang aku tunggu, fikirku. Perbincangan meninggi dan memancing rasa haru dan
sesak di dada. Kau tahu, di beberapa masa itu kami menangis bersama. Ketika tiba
pada perkara hikmah dan kesungguhan. Allah…. Rasa terbayar semua rasa lelah dan
letihku. Hilang semua rasa rugi tidak bisa hadir di setiap pembentangan. Hilang
melayang dan berganti rasa yang begitu teduh, mendengar nasihat bahkan
dendangan guru. Memanjakan telinga batinku.
Meski pada akhirnya aku tidak bisa berjumpa diakhir
kepulangannya, memeluk dan memanjatkan doa secara langsung di telinganya, namun
sempat kami berpapasan di jalan sebelum makan pagi. Dr S memberiku gulungan
paper kumpulan karya guru-guru berhikmah. Sebagai kenang-kenangan darinya.
Allah… nikmat sekali. Diingat dan dipersembahkan sesuatu oleh seorang guru mulia
adalah tak tergambar rasanya.
Itulah yang ingin kuceritakan. Jika mengingat momen-momen
bahagia, rasanya hendak diulang. Namun apabila mengingat momen-momen
menegangkan dan mengecewakan, rasanya juga ingin diulang, untuk diperbaiki lagi
tentunya. Adalah diantara kesempatan paling berharga dalam hidupku bisa
melayani kedua tamu agung itu. Meski amanah ini pada akhirnya diemban karena
tidak ada lagi orang, namun aku meyakini sejak awal memang Allah yang
menyiapkannya. Semoga segala kelemahan dan kelalaianku tidak menjadikanNya
kecewa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar