Aku mencari hikmah dari mereka yang kecewa
Namun senyumannya menunjukkan yang sebaliknya,
Aku mencari hikmah dari ia yang kebingungan luar biasa
Namun masih dapat mengatur napas dan nada bicaranya.
Aku mencari hikmah dari mereka yang terabaikan,
Namun berbesar hati memaklumi dan menyemangati.
Aku mencari hikmah dari mereka yang kelelahan,
Namun masih dapat menyapa dengan semangat tinggi.
Aku mencari hikmah dari ia yang merasa bersalah,
Namun berusaha membayar dengan kehadirannya.
Aku mencari hikmah dari orang-orang besar
Yang dilayani dengan jenis pelayanan begitu kecil,
Namun tak habis lisannya mengucap terima kasih.
Aku mencari hikmah dari harta yang dengan ringan ditebar,
Oleh orang yang menyaksikan sejelas-jelasnya aneka keterbatasan.
Aku mencari hikmah dari ia yang begitu khusu’ menikmati
Meski di sekelilingnya terhadap bopeng dan duri,
Aku mencari hikmah dari mereka yang tahu segalanya,
Namun pura-pura tidak tahu di depan orang-orang yang tak tahu
Aku mencari hikmah dari ia yang berbeda,
Namun diam saja meski disamakan dengan yang lainnya.
Aku mencari hikmah dari ia yang menelan pahit seorang diri,
Karena pandangannya yang lebih jelas lagi jeli
Namun berbesar hati seakan ia taka da apa.
Hari pertama saat sampai rumah lagi, malam hari setelah mengerjakan shalat Isya, tanpa direncana inilah ayat yang kubaca:
يُؤْتِي
الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا
كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
“Allah
menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang
dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan
hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman
Allah).” (QS. Al-Baqarah [2]: 269).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar