Pages

Rabu, 18 Mei 2022

Tuma'ninaH

tulisan ini berangkat dari renunganku tentang mampukah aku menghisab hidupku sendiri sebelum yaumul hisab nanti?

perkara yang tidak lepas dari pandanganku adalah perkara dunia yang bergerak dengan aneh di mata fikiran dan batinku. tentang betapa banyaknya pilihan yang terbentang di hadapan kita khususnya di era modern ini dimana kononnya manusia merasa semakin maju dan bebas. tetapi benarkah demikian?

jika kapasitas kita terbatas, apa gunanya pilihan yang tidak terbatas? semakin banyak pilihan bukankah kita semakin kebingungan karena pada akhirnya tidak semua pilihan bisa kita pilih. lantas dimana kebebasan jika melalui pilihan yang banyak, kita semakin jauh memperoleh kemungkinan memperoleh pilihan terbaik? pernahkah kau berfikir hal yang sama juga sepertiku, jika demikian bukankah tidak memiliki pilihan adalah juga satu bentuk kebebasan? 

kau tahu, banyaknya pilihan membuat kita merasa bisa mengerjakan beberapa hal sekaligus. kita menjadi manusia yang pembosan dan sibuk. padahal kapasitas kita terbatas, tetapi kita merasa bisa melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan. ini tentang tuma'ninah yang sulit sekali kita peroleh hari ini. padahal kita diajarkan untuk mengerjakan pekerjaan satu per satu. menyelesaikan satu urusan sebelum mengerjakan urusan lainnya. tetapi di era serba cepat dan mudah ini, hal ini begitu sulit kita lakukan. dalam waktu bersamaan kita bisa mengerjakan beberapa hal sekaligus dengan dunia dalam genggaman tangan dan jemari kita. kita menjadi orang yang menyukai peralihan dan pembaruan, dan kurang menikmati proses dan ke-lama-an. mengapa berkonsentrasi atau menyelesaikan satu pekerjaan saja terasa begitu sulit? apa karena jiwa kita sudah berubah?

kita kurang menyukai hal yang sederhana, dan selalu menginginkan lebih. kita senang mendapat respon dan bosan dengan kemenyendirian. apakah kau juga demikian?

syukurnya aku tidak. lebih tepatnya aku memilih untuk berusaha tidak. aku masih mencari kesendirian dari fikiranku yang diramaikan sosial media. aku mengambil jeda dari pesan-pesan yang masuk ke dalam whatsappku, tidak semua dapat kurespon dengan cepat. jika limit waktuku sudah habis, alarmku berbunyi dan harus kuhentikan, meski beberapa pesan sudah masuk ke dalam isi kepalaku. aku masih menjaga alarm-alarm ini alhamduliLlah. aku takut jika ia tidak dapat berbunyi lagi karena terlalu lama kubiarkan. aku masih menikmati kesendirianku, menulis dengan pena, menyapu lantai tanpa pekerjaan lainnya, mencuci pakaian -meski kadang sangat memboringkan-, mencuci piring dan menikmati wangi sabun dan busa yang banyak ^^, menunggu masih menjadi momen yang istimewa bagiku meski kadang-kadang membosankan. tetapi setidaknya aku masih dapat menikmatinya. 

ya, jika kita masih bisa menikmati pergerakan pergerakan dan bacaan-bacaan dalam sholat kita, semoga itu pertanda bahwa hati kita belum terlalu jauh dari kelalaian. semoga Allah menjaganya sampai akhir hayat, bahkan meningkatkan khusu'nya. aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar