Pages

Selasa, 24 Mei 2022

Tentang Sahabat

tulisan ini bukan berisi lirik lagu Peterpan "Tentang Sahabat". melainkan tentang renungan baruku tentang sahabat. renungan yang datang justru dikala aku merasa ditinggalkan, dan karena perasaan yang sempat begitu nelangsa, tadinya aku berfikir untuk menulis sesuatu yang lain. tentang bagaimana "sakitnya" ditinggalkan itu. tapi setelah kufikit-fikir lagi, buat apa? bukankah tulisan seperti itu tujuannya tidak lain dari bentuk mengasihani diri sendiri? memuaskan rasa pedihku sendiri dan mencoba mencari alasan untuk tidak terlihat bersalah, bahkan terlihat sebagai korban. 

akhirnya kufikir-fikir kembali, kenapa beberapa waktu ini aku merasa ditinggalkan --atau berpisah mungkin lebih tepat-- dengan teman2 yang dekat denganku selama bertahun-tahun? adakah aku memiliki kepribadian yang sangat mengkhawatirkan sekaligus memprihatinkan untuk dijadikan teman dekat? kepribadian yang tidak kusadari selama ini mengganggu beberapa temanku yang lain? ya, bisa jadi. jika ada hal yang tidak disukai dari diriku dan itu tidak nampak dalam pandangan batinku sendiri, mungkin karena diriku terlalu angkuh, astaghfiruLlah. mengetahui ini hatiku menjadi semakin sedih. 

hikmah tentang perjalanan persahabatan itu banyak dan mungkin sebagian besarnya belum terkuak. untuk seseorang yang terlalu banyak distraksi dan sulit fokus seperti aku di tengah kelalaianku sendiri, hikmah-hikmah tersebut mungkin masih tersembunyi. hanya, aku terfikir sesuatu. tentang renungan baruku tentang sahabat itu. persahabatan itu tentang bagaimana kelemahan dan kelebihan seseorang saling berinteraksi dengan seseorang lainnya. kau tahu, ketika kau memiliki seorang atau dua orang atau bahkan lebih yang hingga saat ini berada bersamamu, berarti mereka memiliki jiwa dan hati yang cukup lapang untuk menerima dan meredam semua kelemahanmu. 

ya, sudah sepatutnya kau berterima kasih akan hal itu. sebab itu mungkin sama saja berarti bahwa segala kelemahan yang nampak padamu olehnya masih berada dalam batas-batas yang bisa ia terima. sedangkan orang lain yang lebih memilih untuk meninggalkanmu adalah karena kelemahanmu sudah melampaui batas -kelemahan yang bisa ditolerir- mereka. jadi tidak sepenuhnya ini kesalahan mereka, tetapi kau bisa lihat dari sisi yang lain bahwa ini juga mengenai kecocokan. ketika sesuatu sudah mencapai batas kecocokan sehingga munculnya pilihan. :)

pada akhirnya kecocokan itu bukan (hanya) soal usaha dan pilihan manusia, tetapi juga bagian dari ketetapanNya. jadi jangan sepenuhnya kecewa jika seseorang meninggalkanmu. jangan. itu bagian dari takdirmu, jatah yang Allah penuhi. jangan terlalu kecewa karena itu bukan hanya soal "menjaganya" sepenuh hati. mengehendakinya. mengarapkannya. soal hati itu pada titik tertentu adalah sepenuhnya urusan Tuhan. sekali kamu merasa berkuasa penuh akannya, kau akan kecewa. 

bergembiralah jika kau kecewa berkali-kali. kau memiliki kesempatan untuk mengevaluasi diri, bersedih dan merenung dan memikirkannya. dan sebagaimana harapanku juga, kau akan menyadari bahwa orang-orang yang berada bersamamu sampai saat ini adalah mereka yang memiliki hati yang cukup lapang untuk menerima semua kekuranganmu. tidakkah sepatutnya kau bersyukur dari apa yang Allah 'sisakan' untukmu, jika dengannya kau tahu betapa berharga dan spesialnya mereka?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar