Pages

Minggu, 02 Oktober 2022

Hidup dengan Idola

Ada yang pernah membayangkan bagaimana rasanya menjalani hidup sehari-hari dengan seseorang yang kau idolakan sejak lama?

apakah rasanya akan sangat membahagiakan, atau justru mengkhawatirkan?

nyatanya dua-dua perasaan inilah yang kualami ketika tahun lalu kudengar uwaku (kakak dari bundaku) akan tinggal bersama-sama dengan kami di kampung halaman. beliau memutuskan untuk pensiun dini menemani nenekku di usia senjanya.

uwa adalah idolaku sejak 12 tahun lalu.

melaluinya lah dengan izin Allah aku menemukan cahaya yang menerangi hidupku hingga saat ini, menjejaki beragam perjalanan batin dan fisik ke belahan dunia dan terutama perjalanan spiritual yang mengubah cara pandangku.

berawal dari menemukan buku uwa yang diberikan ke ayah 20 tahun lalu yang bertengger anggun di rak buku di rumahku. bukan sebuah kebetulan saat itu aku sedang pulang ke rumah di tengah-tengah merintis sebuah bisnis di Jakarta. masih teringat dengan lekat apa yang telah kulalui di tahun tersebut sebelum aku menemukan buku itu dan membacanya hingga habis sepanjang bulan Ramadhan.

aku baru saja mengalami peristiwa yang bisa jadi merupakan peristiwa paling berat dari yang pernah aku alami selama 18 tahun merasakan kehadiran diriku sendiri. dan begitu bersyukur apabila kesulitan hidup yang kualami itu menjadi 'jembatan' akhirnya aku menemukan buku tersebut. sungguh itu semua (kesulitan2 yang aku alami) tidak sebanding dengan apa yang terjadi setelah aku membaca habis buku itu untuk pertama kalinya.

sampai kuketahui ternyata pengarang buku itu adalah guru dari uwaku sendiri. sayangnya uwaku berada nun jauh di sana, di sebuah negara dengan jarak tempuh 8 jam perjalanan dengan pesawat terbang. dulu belum ada whatsapp, sangat sulit untuk berbincang dengan uwa untuk bertanya ini-itu atau sekadar menyampaikan kekagumanku pada buku dan juga pengarang buku itu, dan tentu saja uwaku. sempat juga aku dan uwa berbalas email, tetapi sungguh itu tidak dapat menyalurkan rasa penasaranku.

bermodal sebuah modem dan laptop ayahku, akhirnya aku melakukan penyelancaran demi penyelancaran di internet yang membawaku pada beragam pintu gerbang, mengeja apa yang sebenarnya aku kejar. selama beberapa waktu jarak tempuh 6-7 jam perjalanan terasa dekat buatku, selain urusan bisnis, ke jakarta juga menjadi urusan menuntut ilmu yang kulakukan sepekan sekali. jakarta, bogor, bandung, singapura, malaysia. langkahku digerakkan begitu saja.. padahal kondisiku saat itu hanya seorang anak baru lulus SMA yang belum sempat memikirkan kuliah karena ingin meraih mimpinya sebagai seorang pebisnis sukses seperti Ibunda Khadijah, RA. ^^,

di tahun ini perjalanan menuntut ilmuku dimulai. bertemu dengan berbagai macam orang, karakter, organisasi, institusi, yang sama sekali baru buatku. pemikiranku mulai berubah begitu juga penampilanku. dengan tanpa terpaksa kutinggalkan bekas-bekas 'anak gunung'. geli sekali ketika saat ini mencoba mengingatnya kembali :)

singkat cerita, dari perjalananku yang unik dan aneh itu, 9 tahun kemudian baru aku bisa menuntut ilmu langsung pada uwa, karena saat itu teknologi sudah semakin berkembang. aku bisa 'memasuki' kelas uwa justru berkat seniorku, mengikuti kelas sepekan sekali via skype. sungguh ini adalah pengalaman kali pertama yang masih sangat manis kukenang hingga sekarang. kemanisannya itu sempat membuatku tidak ingin bergeming dari waktu, tidak ingin ada perkembangan dan perubahan apa-apa selain mendengar pengajaran uwaku, dengan berkali-kali air mataku tumpah hingga pagi. 

waktu berlalu, kelas uwa berkembang, bahkan saat ini aku menjadi salah satu pengelolanya. tetapi tentu saja, sesuatu yang menjadi 'biasa' terkadang kehilangan 'istimewa'. itulah kenapa aku tidak ingin berubah. berkembang itu baik, tetapi seringkali ia datang bersama perubahan yang tidak kita inginkan. sedangkan tidak ada pilihan untuk mundur.. melainkan maju, sekaligus bertahan. sulit bukan?

semakin berjalan, semakin meyakini bahwa uwa adalah orang yang kucari untuk menuntunku menyusun puzzle kehidupan yang ternyata masih jauh dari terang. beliau benar-benar idolaku, meski seandainya ia bukan uwaku. ya, kau tahu bagaimana rasanya mengidolakan uwa sendiri? aku harap kau tak pernah akan benar-benar merasakannya. karena toh aneh sekali, 

sejak setahun lalu aku benar-benar memimpikan hari ini. tak sabar menunggu sekaligus mengkhawatirkannya. hingga bulan berganti pekan, hari jam dan akhirnya uwa datang. bukan cuma dua tiga hari, sepekan atau dua pekan, tetapi seterusnya. kau tahu seperti apa rasanya menjadi aku?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar