Kadang diri berada dalam kebimbangan luar biasa, hendak
kemana langkah ini harus dibawa? Bagaimana cara menempuh perjalanan yang begitu
mencabar dengan minimnya kesempatan menguasai kendali diri dengan ilmu.
Apa yang pernah sampai ke dalam jiwa, singgah di sana maupun
meluap bersama karbondioksida yang keluar dari paru-paru adalah sesuatu yang
berharga, yang menentukan letak diri dan pembentukan diri di masa yang akan
datang. Perlu waktu untuk merangkumi semua, memahami, menetaskan makna yang
bisa menambah penerangan dalam mengarungi jalan kehidupan ini. Gairah yang
begitu besar, tidak akan menjelmakan ini semua tanpa kesabaran dan keikhlasan.
Tidak semua orang mengetahui apa yang bersemayam dalam dada, untuk menciptakan
suasana lingkungan maupun kondisi yang kondusif untuk pemahaman itu menjadi
padu dan utuh. Sungguh perlu perjuangan. Di sinilah kesungguhan itu diuji.
Terkadang mudah memang menyalahkan keadaan, mudah
mengkambing hitamkan sesuatu di luar diri untuk melegalisasi diri yang tidak
berkembang. Seribu alasan disiapkan untuk memantaskan diri pada kondisi yang
buruk. Ah, kalau saja nampak dipelupuk mata bagaimana perjuangan para Nabi,
para ulama’ dan para wali.. ntah bagaimana bentuk rasa malu itu, bahkan untuk
memperakui diri sebagai pengikutnya. Sungguh miris memang, tidak seberapa
keadaan diri ini dibandingkan yang dialami mereka semua, pantas kehidupan
mereka sampai sekarang masih menjadi penerang bagi beratus tahun zaman
setelahnya.
Bangkitlah dan lakukan yang terbaik, isi setiap detik dengan
hal yang memberikan sumbangsih kearah percepatan tujuan. Jangan menyesali
keadaanmu, sungguh dari keadaan itu kau akan mengetahui dimana kau akan
diletakkan, dimana tempatmu dan maksimalkanlah peranmu itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar