Pages

Minggu, 29 September 2013

Bunda (1)



Malam ini hanya inginku ucapkan ribuan rasa syukur, kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, atas seorang ibu yang luar biasa, yang selalu mengerti diriku, yang selalu siap mendengar keluh kesahku, yang rela berkorban demi kebahagiaanku dan merelakan aku mengabaikan segala yang seharusnya jadi tugasku untuk diembannya. Demi semata-mata kebahagiaanku. Aku bersyukur ber-Ibukan dia, aku bersyukur Allah Ta’ala menitipkanku padanya, aku bersyukur telah cukup banyak mengambil  cintanya, dan menempati posisi besar di hatinya.. seandainya setiap saat aku bisa disisinya, bercerita berbagai hal, berbagi tawa dan duka bersama, meminum secangkir kopi bersama, menjadi pendengar setianya, tentu itu yang aku lakukan. Tetapi perananku bukanlah itu saja, disaat tawa sedang menaungi kita aku harus beranjak pergi meninggalkannya, mengerjakan tanggung jawabku yang lainnya dan membiarkan jejak bekas-bekas tawa itu tetap di bibirku. Aku pergi dengan ridhonya, dengan dukungan dan semangatnya. Dengan keyakinan yang diteguhkannya, bahwa Tujuan kita bersama nanti memberikan waktu yang lebih leluasa untuk kita melakukan semuanya bersama. Tanpa harus ada tanggung jawab lagi. Dan tanpa ada kesedihan lagi karena perpisahan sudah tidak ada lagi. Kita meyakini itu dan untuk itulah saat ini kita berusaha membayarnya. Meski segala perananku terasa begitu berat, sungguh berkali lipat lebih berat jika peranku sebagai seorang anak gagal kupenuhi. Jauh lebih berat untukku dibanding kegagalanku dalam peranan lainnya.

"Jika aku tiada bertempat di hati-hati manusia lainnya, selain dirinya.. Merupakan kebodohan terbesar jika aku tak mampu menjadi penghantar kebahagiaan untuknya. Di alam sekarang dan berikutnya."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar