Datang dengan manja, terus bersandar pada ibunya. Tak mau
bicara. Tak mau menanggap. Hanya diam dengan bahasanya yang tak kupahami.
Kucoba beragam cara, nihil. Aku sesak.
Kata gurunya yang lalu, eluslah kepalanya sambil berkata
“ramu anak sholeh”. Jadi itulah harapanku merebut hatinya, minimal mengambil
perhatiannya. Berhasil alhamdulillah. Dia mau menjawabku. Berteriak,
berlari-lari, tak karuan. Kembali sesak.
Ku doakan, aku tidak punya ilmu banyak untuk menghadapinya.
Hanya berusaha berada di posisinya, berfikir dan berdoa. Terus begitu. Hingga
suatu hari.
Hujan turun dengan cukup lebat. Hari itu ramu tidak masuk
sekolah. Saat mengantar teman-teman ramu pulang sekolah di pintu, dari kejauhan
kulihat ramu. Tidak begitu jelas karena hujan yang masih cukup lebat. Tapi aku
tahu dia sedang menangis. Mungkin air matanya sederas air hujan. Karena kulihat
tubuhnya bergoncang-goncang. Sesenggukan.
Aku memanggilnya. Dia datang dengan tangis tertahan. Bajunya
lembab, rambutnya basah kuyup. Badannya kurus kering. Baru kali ini nampak
jelas penampilannya. Dia menatapku, terus. Hingga kuraih tangannya. Ku simpan
tubuhnya dipangkuanku. Ku dekap erat dirinya, berharap energi dihatiku bisa
membuatnya sedikit merasa hangat. Rupanya kehangatan membuat air matanya luber.
Tumpah mengalahkan hujan yang hampir reda. Kudekap lebih erat, tangisnya
semakin menjadi-jadi. Aku pun berusaha menahan airmataku. Meski tak bisa
kutembusi pikirannya. Biarlah diam yang meredakannya.
Ramu sedikit berubah. Dia mulai mau ditinggal ibunya saat
diantar sekolah. Dia mulai mau menjawab beragam pertanyaanku. Bahkan sesekali
bercerita tentang perjalannya. Dan karena cerita itu aku bisa berkomunikasi
dengannya. Meski harus berulang kali, ntah berapa puluh kali. Tetapi ekspresi
wajahnya selalu baru buatku. Sambil terus menatap matanya, berusaha mampu
menembusinya.
Ramu semakin menarik perhatianku. Meski diantara yang lain
ia paling sulit memperhatikan pelajaran. Tidak pernah betah berlama-lama duduk
dibangku. Mencari-cari bahan kebisingan. Bercerita banyak hal untuk mengalihkan
perintahku. Tidur dilantai enggan masuk kelas. Bermain kesana-kemarin. Memanjat
pohon kersen hampir ke puncaknya, ke dahan tertipis. Di sini penyesalanku.
Aku memintanya turun dengan segala cara. Kupegang janjinya
untuk menunggu di kelas. 1 menit. 2 menit. 3 menit. 5 menit. Tak kudapati
dirinya masuk dalam kelas. Kujumpai lagi pohon kersen di depan sekolah. Lebih
dekat ke puncak. Kuminta turun lagi. Dia berjanji lagi. Tapi aku tak bergeming,
terus menunggunya turun.
“kemana tadi saat Ibu panggil masuk?”
“main sama kelas 2”
“semua teman sudah masuk, hanya ramu yang tidak mengikuti
pelajaran tadi”
“ah gak mau belajar”
“ramu maunya apa?”
“pulang”
“silahkan ramu pulang”
Tanpa ragu dia mengambil tasnya, gertak sambal mungkin
pikirnya. Sudah berulang kali nyatanya semua hanya wacana. Kubiarkan dia dengan
tasnya berjalan ke luar kelas.
“ibu suruh ramu pulang?” katanya memastikan
“terserah ramu, jika ramu mau begitu”
Dan langkah yang berat dia paksakan terlihat ringan. Dengan
dada yang begitu sesak. Tidak jauh berbeda dengan yang aku rasakan.
***
Setiap kali memintanya membaca iqro’ dan huruf latin, ramU
selalu mengelak.
Mengkondisikannya perlu waktu yang tidak sebentar, selalu
ada alasan untuk menunda. 10 menit. 20 menit. Hingga 30 menit. Kalau pun cepat
dikondisikan, ditengah jalan –atau bahkan baru mulai—ramU selalu mengalihkan
perhatian.
Suatu kali, ramU menghentikan bacaan yang baru dimulainya.
“Ibu, sebentar ya.” Tanpa menunggu jawabanku ia berlari keluar kelas. Aku
mengikutinya di belakang, “ramU mau kemana?”
“sebentar bu, rahasia.” Ada-ada saja, pikirku. Ini pasti
akal-akalannya.
Tidak lama ramU hilang diantara pepohonan. Dan tidak lama
kemudiannya lagi, nampak ramU datang membaca sesuatu. Kardus kecil dengan isi
yang cukup padat, “apa itu ramU?”
Tanpa menjawab, ia buka kardus yang ternyata bungkus charger
itu. Berbagai macam sedotan plastik. Jumlahnya kira-kira belasan.
Perlahan ia susun satu persatu, “dari mana ramU dapatkan ini
semua?”
“nemu bu”
“kok bisa sebanyak ini?”
“ngumpulin bu” jawabnya singkat, seolah-olah mengisyarakanku
untuk diam dan menyaksikan apa yang hendak dibuatnya.
Yang membuatku sedikit terperanjat, adalah ketika ia
menyelipkan sepotong lidi kecil diantara dua sedotan, setelah sebelumnya nampak
mencari sesuatu untuk bisa dijadikan penyambung diantara sedotan yang ukurannya
sama besar. Bagaimana bisa terpikir
olehnya? Tanyaku dalam hati.
Bagaimana bisa terpikirkan oleh anak yang selalu susah jika
diminta mengeja huruf demi huruf dengan alasan tidak bisa?
“bagus ramU” pujiku singkat.
“jelek bu” jawabnya, yang cukup mengagetkanku.
“ramU, dengar Ibu, ramU bisa membuat permainan sendiri tanpa
harus membeli. Sedangkan teman-teman ramU yang lain mungkin harus membelinya
baru bisa dapat permainan seperti ini”
Diam.
“kita lanjutkan yuk, bacanya, nanti ramU ajarkan Ibu cara
membuatnya ya”
Dengan senyum mungilnya ia berjalan ke dalam kelas, ada
ekspresi bangga yang tersirat melalui air mukanya menenteng mainan buatannya
itu.
Lain cerita, jika ramU menunda jadwal bacanya ke jam
istirahat atau jam pulang.
“nggak mau ah bu”
“jadi maunya kapan?”
“istirahat bu..”
Hhh, strategi lama. Karena saat itu hanya ada waktu berpikir
sebentar, aku pun ‘terpaksa’ menggunakan cara lama juga.
“janji?”
“janji bu.”
“mana kelingking ramU, gak boleh dilanggar ya kalau sudah
janji begini”
“iya buuuuuuuu”
Istirahat tanpa bel.
“ramU, baca dulu yuk. Tadikan sudah janji sama ibu..”
“hmmmmmmmmmmm”
Tidak begitu yakin bahwa cara ini berhasil, hingga suatu
saat....
“Ibu, aku bacanya nanti aja ya, pas istirahat”
“janji ramU?”
“janji bu, mana kelingking ibu?” ahamdulillah..
Dan lagi.
“ibu, permainan dong bu. Bosen ah di kelas mulu”
“boleh, ibu juga ada permainan bagus nih. Tapi ramU kerjakan
dulu ya tugas dari ibu??”
“janji ya bu... mana kelingking ibu?”
Tidak masalah cara lama juga, yang penting keyakinan yang
terus diperbaharui dan tidak mengangapnya enteng dan sepele.
***
ramU yang bosan belajar, pasti bersembunyi di kolong meja.
Hari ini ramU masuk kelas dengan wajah penuh bentol-bentol. Buah dari naik
pohon kersen.
“ramU naik pohon kersen ya?”
Hanya manggut sambil cemberut.
“kan ibu udah bilang, di atas banyak ulatnya”
Tak ada jawaban. Rasanya ingin sekali membuatnya begitu
menyesal, agar tidak naik ke atas pohon lagi. Tapi kuurungkan melihatnya
berusaha menahan air mata.
“tadi ramu lihat ulatnya?”
“liat bu, mukaku disemprot”
“tenang aja ramU, insyaAllah pasti segera hilang”
Tanpa disangka, air mata ramU luber juga.
“yuk kita bersihkan, ramU”
“pakai air bu”
“iya, yuk ibu antar ramU cuci muka”
“pakai sabun bu”
“iya, pakai sabun ibu yang warna hijau, sabunnya ada
obatnya”
ramU, meski pun rasa kesal pernah hinggap dalam hati, ia
selalu kalah dengan rasa sayang dan kasihan yang lebih besar.
***
ramU, perbincangan ini benar-benar membuat aku hampir
membisu. ramU selalu enggan bila disuruh untuk sholat duha. Wajar saja,
pikirku. Anak sekecil dia belum mengerti makna disebalik kewajiban sholat,
gerakan sholat dan manfaat sholat. Dalam benak mereka sholat adalah sebuah
kegiatan yang melelahkan, sudah itu bacaannya harus dinyaringkan pula. Tapi aku
berusaha untuk tidak kehabisan ide. Mulai dari memberikan reward, punishment,
pujian, kejutan dan lain sebagainya yang sebagian besarnya berhasil. Biarlah
pada awalnya harus begini, ‘paksaan’ku bukanlah tanpa maksud dan sudah kukadar
sesuai dengan kesanggupan mereka. Hanya ramU yang paling sulit terstimulus
omonganku. Seperti hari ini. ramU tidak ada di masjid biasa.
Benar saja, ramU dengan asyik menenteng minuman dinginnya
keluar dari warung. Dan ia menyadari kedatanganku..
“ayok ramU, sholat dulu..”
“aim ah bu,”
“sebentar saja, sehabis ini kan ramU bisa main..”
Dengan muka cemberutnya, sambil kugenggang pergelangan
tangannya, ia mengikutiku menaiki tangga masjid.
“ramU ibu taro dulu ya minumannya, sehabis sholat boleh ramU
minum lagi..”
Dengan mata ‘berputarnya’ dia maju ke depan. Tak berapa lama,
dia malah tiduran. Menangis.
Kubiarkan sambil membimbing anak-anak lain sholat duha.
Tangis ramU semakin menjadi-jadi, tambah kencang. Tak keruan. Aku masih
berlagak fokus menuntun gerakan sholat yang lain. Sampai selesai. Saat semua
sudah berkemas hendak meninggalkan masjid, aku menghampiri ramU. Mengelus
punggungnya. Tangis ramU pecah lagi, kali ini dibarengi dengan adegan mengamuk
dan menendang-nendang. Ku biarkan dan tetap mengelus... hingga kira-kira 10
menit tangis ramU tetap awet. Ada yang tidak biasa pikirku. Raut wajah ramU
menggambarkan kesedihan yang terlalu, setiap kali ia tampak mengingat sesuatu,
tangisnya membesar lagi.
“ramU... coba jawab ibu, ibu salah ya ke ramU?”
ramU hanya mengangguk sambil terus menangis, mungkin karena
kelelahan, tubuh yang semula meronta-ronta, perlahan mulai diam hanya masih
terus bergoncang karena tangis ramU yang tak kunjung usai.
“kalau ibu salah, salah ibu apa ramU..” aku berusaha sangat
hati-hati memilih dan memulai kata.
ramU masih saja terus menangis,
“kalau memang ibu salah, ibu gak tahu salah dimana, ramU
bisa beritahu ibu?”
Kali ini ramU malah menggeleng
“kalau ramU gak bisa ngasih tau, berarti ibu tidak salah
dong?”
Aku mulai sedikit memancing.. rupanya, malah memancing
kemarahannya yang lebih besar.
Sambil sesenggukan dan berusaha mengatur napas ramU
menjawab.. “aku tahu salah ibu apa, tapi aku gak mau ngasih tahu”
Perlu berulang kali kutanyakan sampai akhirnya aku tau apa
yang berusaha dia sampaikan.
“salah ibu banyak gak ramU?”
Dia kembali mengangguk, tak kulepaskan sedikitpun elusan
tanganku dari punggungnya. Meskipun dia terus saja mengelak, berusaha
menunjukkan kemarahannya.
“kalau banyak, kenapa ramU gak bisa sebutkan satu pun
kesalahan ibu?”
Terus menangis. Tanpa jeda.
“hmm, ramU marah karena minuman ramU ibu ambil ya?”
Dia menggeleng
“ibu salah karena suruh ramU sholat ya?”
Tanpa menunggu kalimatku selesai, dia mengangguk mantap.
“kenapa ramU, sholat kan ibadah...” inilah yang keluar dari
bibirku tanpa berpikir panjang.
“ibadah..ibadah... aku udah sholat setiap hari, tapi Allah
gak ngasih aku rezeki.”
Aku terkejut mendengar jawabannya,
“ramU... Allah itu Maha Penyayang...”
“kalau penyayang kenapa aku miskin bu? Kenapa aku udah
sholat setiap hari, tapi aku gak kaya..”
Seketika mataku memanas, bagaimana mungkin kalimat itu
keluar dari bibir mungilnya, bibir mungil seorang anak yang umurnya pun masih
belum genap 6 tahun.
Sambil terus mengelus, aku menarik napas agak panjang,
“ramU, rezeki itu bukan hanya uang... ramU bisa sekolah itu
rezeki, ramU punya teman dan guru yang sayang sama ramU itu rezeki, ramU bisa
makan setiap hari itu juga rezeki... banyak yang gak bisa seperti ramU, gak
bisa sekolah, gak punya orangtua, kalau mau makan harus cari uang dulu...”
“Ibu mah enak ngomong gitu, ibukan orang kaya... aku kan
orang miskin...”
“ramU, darimana ramU tau ibu orang kaya, dulu pas ibu masih
sekolah, buat dapat uang jajan ibu harus jualan dulu... jualan tas, jualan
sendal, jualan baju, buat dapat uang jajan. karena orangtua ibu gak mampu
memberikan uang...”
Sambil terus menangis, ramU terus mendengarkan.
“lagipula siapa yang bilang ramU orang miskin? Kalau ramU
jadi anak yang sholeh, nurut sama orangtua, sholatnya rajin, sama teman-teman
baik, ramU orang kaya. Kaya hati, kaya iman. Kalau miskin itu cuma dilihat dari
uang, ibu juga orang miskin.. soalnya ibu gak punya uang...hehehe”
Hampir setengah jam ramU menangis, tidak dia pedulikan lagi
anak-anak PAUD, TK yang berseliweran di dalam masjid. Mungkin karena ada luka
yang begitu dalam di hatinya, yang perlu untuk dia tampakkan, sehingga rasa
malu itu sama sekali tidak sebanding dengan apapun yang ia simpan selama ini
–selama ia sanggup menyimpannya-
“ramU, teman-teman menunggu kita.. yuk kita turun...”
ramU hanya menggeleng. Aku mulai bisa menebak-nebak kondisi
hatinya. Sebentar aku letakkan dia dalam pangkuan. Tangisnya luber lagi, tapi
kali ini aku biarkan. Anak-anak TK memperhatikan dalam gerakan sholat mereka.
Sampai tidak berapa lama, salah seorang temannya datang menghampiri..
“ramU, yuk kita turun yuk, udah jangan nangis lagi...”
dibelainya kepala ramU, mungkin rasa iba yang sama menghinggapinya.
“tuhkan ramU, teman yang sayang sama ramU itu juga rezeki
dari Allah.... shifra sayang sama ramU?” tanyaku.
Tanpa berpikir lagi, shifra mengangguk.
Mulai saat itu, aku tahu bagaimana merayu ramU untuk
sholat.. khususnya jika kata-kata yang keluar dari mulut mungilnya itu “malas”
“hmmm... kalau ramU malas, nanti Allah juga malas ngasih
ramU rezeki.. mau?”
Kadang cara ini ampuh.
Atau sekali waktu ramU memilih merawat malasnya itu...
“ramU, malas itu bisa kita pelihara dan kita tebas. Kalau
kita pelihara, malas semakin tumbuh besar. Kita bawa terus malas
kemana-mana...”
“aku gak bisa bu, nebas malas..”
“hmmm, kalau pagi-pagi emang ramU gak berat pas bangun
tidur? Tapi kenapa ramU mau bangun juga? Karena ramU mau menebas malas. Kalau
ramU terus datang ke sekolah, berarti ramU berhasil menebas malas.”
“aku pengen bu menebas malas sampai tumpas...”
“kalau gitu yuk kita wudhu dan sholat duha sekarang juga!
Kita tumpas malasnya sampai hancur!!!!”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar