Semua kenangan rasanya mengumpul di sini,
Kesan selama 6 hari
Niat yang diperbaharui lagi
Semua kubuat di sini.
Dalam satu kegiatan yang memerlukan banyak pengorbanan
tentulah sayang bila pulang tiada membawa perubahan. Tempat yang ramai kadang
membuat kita tidak khusu’ menangkap apa yang seharusnya kita lihat, dengar dan
rasakan. Niat yang bercampur baur, konsentrasi yang buyar, pandangan yang blur
akibat ramainya mata manusia merupakan ujian yang tidak mudah. Karena itu kita
perlu satu sudut, dimana harus kita tata ulang semuanya. Dan aku memilihnya di
sini.
Berangkat dalam keadaan hati yang begitu berat, di hari yang
sama tumpah air mata orang yang paling dicinta! Rumah memang sedang dilanda
badai yang tidak biasa, betubi-tubi menghujami hati yang kebingungan. Tawaran
istimewa menjadi tidak begitu berarti dan malah menambah pikiran. Tapi sekali
lagi, apalah arti bila tujuan hilang. Kemana pun pergi apa yang dicari jika
tiada tujuan? Menghadirkan tujuan disaat menghadapi kekalutan hati adalah obat.
Maka mulailah berangsur-angsur terasa ringan. Jika Allah berkehendak, aku
jalan, dan dengannya mendekatkanku pada tujuan. Tapi jika tidak, berarti dengan
jalan bersabarlah aku mendekat pada tujuan.
Rupanya kehendak Allah diluar dugaan, semua dipermudahkan
tanpa begitu sangat kupaksakan. Di sisi lain kawan tidak diizinkan melalui
sakit yang cukup berat, semoga kesabarannya yang menghantarkannya pada tujuan
yang sama.
Ingat sekali perkataan adikku sebelum aku meninggalkannya
setelah mengantarku menaiki kendaraan.
“kakak enak banget ya nginepnya di hotel..” dalam keadaan
yang begitu sulit, kata-kata ini seperti menyayat hatiku.
“bukan di hotel dek, di wisma. Kayak losmen gitu.” Cuma itu
kata-kata yang kuharap membuatnya diam, meskipun hati pasti setengah percaya.
Rupanya setelah aku pulang, aku semakin percaya bahwa dalam
ikatan keluarga yang begitu erat, kontak batin itu ada. Malam
pertama di sana, badanku benar-benar dalam kondisi yang begitu berat. Dalam
sehari belasan kali buang air sehingga membuatku harus mengindari beberapa
makanan, belum lagi ditambah kurangnya nafsu makan karena mual dan mulas yang
berlebihan. Setiap sesi coffee break pun tidak benar-benar aku nikmati, padahal
kopi selalu jadi buruan. Badanku demam, dan wajah memanas. Beberapa kali sampai
mengeluarkan air mata tanpa disadari. Tubuh lemas. Tapi diantara semua ini,
dengan izin Allah semua hilang saat sesi materi. Tidak pernah mulas, tidak
merasa lemas. Meskipun setelah selesainya, ntah apa bisa diberi judul keadaan
tubuhku ini.
Malam terasa panjaaang sekali kulalui, tidak bisa tidur
akibat bolak-balik ke kamar mandi. Mulas yang tiada berkesudahan. Demam membuat
dinginnya AC seperti menusuk-nusuk tulang rusukku. Sedangkan enggan kukecilkan,
karena melihat rekan lain yang tertidur pulas. Seorang temanku satu lagi yang
begitu baik, membantuku melalui itu semua tanpa obat. Sampai aku tertidur lagi,
dengan hampir kutenggak kopi O berharap mulasku reda kembali, yang akhirnya
tidak jadi karena tertidur saat menunggu asapnya tidak mengepul lagi.
Pagi hari, hari kedua. Badan masih lemas dan demam semakin
menjadi. Obat belum kutemui. Dengan basmalah dan doa musafir, kuberanikan diri
mandi berharap semuanya kandas tersapu air. Dan alhamdulillah, tubuhku lumayan
ringan setelahnya. Meski mulas masih sering hadir di setiap selesai sesi
materi. Malam inilah aku bertamu ke sudut ruang itu. Menemukan tempat sepi
seperti menemukan harta karun. Sempat juga kupanggil seorang teman untuk
mengambil beberapa gambar. Dan dengan kameranya ini kuabadikan berbagai sisi
lain yang kutemukan. Berkisar 10 menit kuhabiskan waktu sendiri. Berfikir lagi,
merenungi lagi. Mencari makna agar hari itu tidak sia-sia. Apa yang kudapati.
Sampai aku teringat malam ini belum aku hubungi bunda, kuambil hp-ku, kutekan
nomor yang kuhapal diluar kepala. Berkali-kali tapi tiada jawaban. Pukul 22.00.
bunda pasti sudah istirahat.
Hari ketiga, alhamdulillah mulai dapat obat dari panitia.
Aku jarang sekali minum obat kecuali keadaan yang benar-benar darurat. Dan hari
itu terlalu amat khawatir jika tidak kuminum obatnya, aku dzalim pada diri.
Malam ini kenduri nusantara. Meskipun alhamdulillah sepanjang siang tak ada
keluhan. Tak terbayang bagaimana harus mondar-mandir kamar mandi saat sedang
kerja lapangan. Ini semua kuyakini tidak lepas dari doa dan ikhtiyar meminum
obat.
Benar saja saat malam hari, semua sudah siap bergegas menuju
tempat yang ditunggu-tunggu mungkin sejak pagi, kecuali aku, apalah nikmatnya
berkenduri dalam keadaan begini. Saat semua melangkahkan kaki keluar hotel aku
malah berbalik ke kamar mandi. Setelah diri merasa baik kembali, aku bergegas
menyusul ke ballroom tempat dimana
kenduri nusantara diadakan, perlu 3 kali bertanya hingga aku sampai ke ruangan
yang terbilang mewah itu. Nampak antrian panjang berjaket hitam. Sadarlah bahwa
ada benda penting yang kutinggal. Jaket. Sudahlah name tag ntah berada dimana, kali ini jaket juga tak kukenakan. Kembalilah
aku ke kamar yang jaraknya cukup jauh itu. Dengan tubuh lemas kupaksakan ikut
mengantre setelah sampai ke ballroom
lagi. Karena keadaan perut yang belum stabil hampir tiada yang kuambil, kecuali
nasi putih dan sayur oseng. Minumnya hanya air putih. Gelas warna-warni nampak
tak menarik lagi bagiku, begitu pun bermacam bau sedap banyak hidangan tak
cukup mengundang selera. Tart-tart mahal berjejer tak jua membuatku bergeming
meraihnya. Nasi ini habispun, cukup bagiku. Tidak kurasai kenikmatan kecuali
melalui kedua telinga ini menelusup masuk ke rongga jiwa nada dan kata yang
sarat makna yang bersumber dari para ahli yang kuhormati, hingga larut malam
aku menikmati semua sajian itu tanpa lemas.
Selain itu, ada momen
yang membahagiakan bagiku di sini, di kenduri nusantara ini yang tidak bisa aku
jelaskan. Meskipun saat merasakannya bersamaan dengan rasa pahitnya obat yang
berusaha kutelan. Namun apalah artinya, sungguh apalah artinya.
Aku lupa hari keberapa sampai aku menemui kembali sudut ini.
Kali ini menikmati pagi, selepas tadzkirah subuh bersama dengan seorang kawan
berdiskusi dan merenungi hal-hal yang penting bagi kami. Sambil menyiapkan
testimoni, meskipun pada akhirnya testimoni itu berakhir dengan lamunan
masing-masing ditemani suara merdu alunan instrumen yang keluar dari spiker handphoneku. Ntah apa yang tersimpan
dalam hati masing-masing, biarlah keindahannya tersimpan rapi dibalik hati
saja.
Dan menjelang hari terakhir, kembali kusinggahi sudut ini.
Ini yang terlama dan bagian yang paling kunikmati. Berawal ditinggal rombongan
ke kebun raya Bogor, aku memilih untuk tetap di hotel setelah sempat berjalan
ke persimpangan jalan hendak menyusul rombongan bersama seorang teman lelaki,
tapi aku urung dan kembali, dengan alasan tubuhku tidak bisa diajak kompromi.
Seorang diri. Inilah aku di sudut ini, menggenggam sebuah buku kumpulan puisi
(sebagai satu-satunya buku yang kubawa) ditemani angin sore dan instrumen lagu
melalui earphoneku. Sangat kunikmati
hingga sesekali aku lupa jika sedang membaca buku, sesekali juga aku begitu
tenggelam ke dalam isi buku hingga tak kusadari awan pekat telah sedari tadi
melayang di atas kepalaku. Begitu pekat. Pemandangan yang sulit untuk
kugambarkan, aku selalu terhibur dengan awan pekat seperti ini. Perasaanku
seperti dialiri sesuatu dari dalam inti awan, yang kurasa kamus tidak
menyediakan kata-kata untuk mendeskripsikannya. Tanyalah hati jika memang ingin
tau.
Aku bukan menunggu hotel ini ramai lagi, aku menunggu hujan
turun. Dan benar saja, cukup lama menunggu, hujan lebat turun diselingi suara
guntur yang mesra di telinga. Semakin lama semakin lebat, hingga aku dibuat
terpaksa masuk menghindari air yang sudah sampai bangku tempatku duduk, bahkan
melewati pintu masuk disertai angin kencang. Akhirnya aku pindah ke dalam, ke
sudut lain yang membuatku masih bisa menatap pekatnya langit. Hingga aku
terganggu dengan petugas hotel yang berseliweran memastikan hotel dalam keadaan
aman, mengecek hampir setiap jengkal ruangan, hingga aku jadi ikut kebingungan.
Dan tak lama. Lampu padam. Rasa khawatir mulai menggerayang. Bagaimana
teman-temanku, apakah mereka masih di jalan atau sudah sampai di tempat
kembali. Mulai kuhubungi satu persatu, sampai aku lega dengan balasan seorang
temanku bahwa rombongan sudah sampai di hotel sebelah. Kusudahi romantisme ini,
menyambut mereka yang hampir pasti telah basah kuyup. kusimpan semuanya di
lemari hati yang kututup rapat.
Hingga saat ku pulang, dan menemui adikku yang diawal
mengantarku tadi. Jelaslah semuanya. Kuceritakan bahwa aku memang menginap di
hotel tetapi dengan keadaan yang begitu menyulitkan, jadi impas. Nada iri
berganti kasihan. Dan rupanya, selama aku pergi badai terjadi lagi. Badai yang
lebih besar hingga mampu kurasakan dari jauh, saat kucoba berkali-kali
menghubungi bunda melalui telepon genggamku. Badai yang tidak kurasai bersama
dalam satu tempat. Tapi sejatinya, cukuplah dari jarak yang jauh itu aku
merasakannya melalui segala rasa sakit yang kuderita. Ada sedikit rasa syukur,
kalau tidak begitu aku pasti pulang dalam keadaan merasa bersalah. Aku benci
senang seorang diri.
Jadilah kusimpulkan perjalanan kali ini memang penuh
kenikmatan, kenikmatan ilmu dan bukan yang lain. Itu yang pertama. Yang kedua,
ada kenikmatan lain yang Allah berikan padaku diluar dugaan dan tak pernah
terbayangkan olehku sampai aku menginjak tanah jakarta. Sampai aku benar-benar
merasa yakin bahwa ialah bonusnya. Tiada kesenangan materi, karena tubuhku
(materi) inipun dalam keadaan sakit. Apalah yang terasa nikmat jika tubuh tidak
vit? Dan apalah yang lebih nikmat daripada ilmu yang menjadi penyambung antara
aku dan hakikat tujuan itu? Ditambah sebuah kenikmatan lagi, yang dengannya
sungguh hilang semua rasa sakitku. Sebagaimana obat yang tiada lagi terasa
pahit saat ditelan bersamaan dengan kehadirannya yang begitu dekat. Meski pun
saat melalui perjalanan pulang yang cukup panjang, yang tak mungkin kulalui
begitu saja apalagi sekedar untuk tidur, aku menimbang kembali dan memutuskan
mencukupkan kenikmatan kedua itu hinggap sebentar saja, aku mengenalnya dan aku
mengenal diriku, memperpanjang kenikmatan adalah berarti memilih derita. Alhamdulillah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar