Pages

Minggu, 24 November 2013

Sudut Persendirian (dari dimana gambar ini diambil bukan apa yang ditampakkan gambar ini)





Semua kenangan rasanya mengumpul di sini,
Kesan selama 6 hari
Niat yang diperbaharui lagi
Semua kubuat di sini.

Dalam satu kegiatan yang memerlukan banyak pengorbanan tentulah sayang bila pulang tiada membawa perubahan. Tempat yang ramai kadang membuat kita tidak khusu’ menangkap apa yang seharusnya kita lihat, dengar dan rasakan. Niat yang bercampur baur, konsentrasi yang buyar, pandangan yang blur akibat ramainya mata manusia merupakan ujian yang tidak mudah. Karena itu kita perlu satu sudut, dimana harus kita tata ulang semuanya. Dan aku memilihnya di sini.

Berangkat dalam keadaan hati yang begitu berat, di hari yang sama tumpah air mata orang yang paling dicinta! Rumah memang sedang dilanda badai yang tidak biasa, betubi-tubi menghujami hati yang kebingungan. Tawaran istimewa menjadi tidak begitu berarti dan malah menambah pikiran. Tapi sekali lagi, apalah arti bila tujuan hilang. Kemana pun pergi apa yang dicari jika tiada tujuan? Menghadirkan tujuan disaat menghadapi kekalutan hati adalah obat. Maka mulailah berangsur-angsur terasa ringan. Jika Allah berkehendak, aku jalan, dan dengannya mendekatkanku pada tujuan. Tapi jika tidak, berarti dengan jalan bersabarlah aku mendekat pada tujuan.

Rupanya kehendak Allah diluar dugaan, semua dipermudahkan tanpa begitu sangat kupaksakan. Di sisi lain kawan tidak diizinkan melalui sakit yang cukup berat, semoga kesabarannya yang menghantarkannya pada tujuan yang sama.

Ingat sekali perkataan adikku sebelum aku meninggalkannya setelah mengantarku menaiki kendaraan.
“kakak enak banget ya nginepnya di hotel..” dalam keadaan yang begitu sulit, kata-kata ini seperti menyayat hatiku.
“bukan di hotel dek, di wisma. Kayak losmen gitu.” Cuma itu kata-kata yang kuharap membuatnya diam, meskipun hati pasti setengah percaya.

Rupanya setelah aku pulang, aku semakin percaya bahwa dalam ikatan keluarga yang begitu erat, kontak batin itu ada. Malam pertama di sana, badanku benar-benar dalam kondisi yang begitu berat. Dalam sehari belasan kali buang air sehingga membuatku harus mengindari beberapa makanan, belum lagi ditambah kurangnya nafsu makan karena mual dan mulas yang berlebihan. Setiap sesi coffee break pun tidak benar-benar aku nikmati, padahal kopi selalu jadi buruan. Badanku demam, dan wajah memanas. Beberapa kali sampai mengeluarkan air mata tanpa disadari. Tubuh lemas. Tapi diantara semua ini, dengan izin Allah semua hilang saat sesi materi. Tidak pernah mulas, tidak merasa lemas. Meskipun setelah selesainya, ntah apa bisa diberi judul keadaan tubuhku ini.

Malam terasa panjaaang sekali kulalui, tidak bisa tidur akibat bolak-balik ke kamar mandi. Mulas yang tiada berkesudahan. Demam membuat dinginnya AC seperti menusuk-nusuk tulang rusukku. Sedangkan enggan kukecilkan, karena melihat rekan lain yang tertidur pulas. Seorang temanku satu lagi yang begitu baik, membantuku melalui itu semua tanpa obat. Sampai aku tertidur lagi, dengan hampir kutenggak kopi O berharap mulasku reda kembali, yang akhirnya tidak jadi karena tertidur saat menunggu asapnya tidak mengepul lagi.

Pagi hari, hari kedua. Badan masih lemas dan demam semakin menjadi. Obat belum kutemui. Dengan basmalah dan doa musafir, kuberanikan diri mandi berharap semuanya kandas tersapu air. Dan alhamdulillah, tubuhku lumayan ringan setelahnya. Meski mulas masih sering hadir di setiap selesai sesi materi. Malam inilah aku bertamu ke sudut ruang itu. Menemukan tempat sepi seperti menemukan harta karun. Sempat juga kupanggil seorang teman untuk mengambil beberapa gambar. Dan dengan kameranya ini kuabadikan berbagai sisi lain yang kutemukan. Berkisar 10 menit kuhabiskan waktu sendiri. Berfikir lagi, merenungi lagi. Mencari makna agar hari itu tidak sia-sia. Apa yang kudapati. Sampai aku teringat malam ini belum aku hubungi bunda, kuambil hp-ku, kutekan nomor yang kuhapal diluar kepala. Berkali-kali tapi tiada jawaban. Pukul 22.00. bunda pasti sudah istirahat.

Hari ketiga, alhamdulillah mulai dapat obat dari panitia. Aku jarang sekali minum obat kecuali keadaan yang benar-benar darurat. Dan hari itu terlalu amat khawatir jika tidak kuminum obatnya, aku dzalim pada diri. Malam ini kenduri nusantara. Meskipun alhamdulillah sepanjang siang tak ada keluhan. Tak terbayang bagaimana harus mondar-mandir kamar mandi saat sedang kerja lapangan. Ini semua kuyakini tidak lepas dari doa dan ikhtiyar meminum obat.

Benar saja saat malam hari, semua sudah siap bergegas menuju tempat yang ditunggu-tunggu mungkin sejak pagi, kecuali aku, apalah nikmatnya berkenduri dalam keadaan begini. Saat semua melangkahkan kaki keluar hotel aku malah berbalik ke kamar mandi. Setelah diri merasa baik kembali, aku bergegas menyusul ke ballroom tempat dimana kenduri nusantara diadakan, perlu 3 kali bertanya hingga aku sampai ke ruangan yang terbilang mewah itu. Nampak antrian panjang berjaket hitam. Sadarlah bahwa ada benda penting yang kutinggal. Jaket. Sudahlah name tag ntah berada dimana, kali ini jaket juga tak kukenakan. Kembalilah aku ke kamar yang jaraknya cukup jauh itu. Dengan tubuh lemas kupaksakan ikut mengantre setelah sampai ke ballroom lagi. Karena keadaan perut yang belum stabil hampir tiada yang kuambil, kecuali nasi putih dan sayur oseng. Minumnya hanya air putih. Gelas warna-warni nampak tak menarik lagi bagiku, begitu pun bermacam bau sedap banyak hidangan tak cukup mengundang selera. Tart-tart mahal berjejer tak jua membuatku bergeming meraihnya. Nasi ini habispun, cukup bagiku. Tidak kurasai kenikmatan kecuali melalui kedua telinga ini menelusup masuk ke rongga jiwa nada dan kata yang sarat makna yang bersumber dari para ahli yang kuhormati, hingga larut malam aku menikmati semua sajian itu tanpa lemas.

 Selain itu, ada momen yang membahagiakan bagiku di sini, di kenduri nusantara ini yang tidak bisa aku jelaskan. Meskipun saat merasakannya bersamaan dengan rasa pahitnya obat yang berusaha kutelan. Namun apalah artinya, sungguh apalah artinya.

Aku lupa hari keberapa sampai aku menemui kembali sudut ini. Kali ini menikmati pagi, selepas tadzkirah subuh bersama dengan seorang kawan berdiskusi dan merenungi hal-hal yang penting bagi kami. Sambil menyiapkan testimoni, meskipun pada akhirnya testimoni itu berakhir dengan lamunan masing-masing ditemani suara merdu alunan instrumen yang keluar dari spiker handphoneku. Ntah apa yang tersimpan dalam hati masing-masing, biarlah keindahannya tersimpan rapi dibalik hati saja.

Dan menjelang hari terakhir, kembali kusinggahi sudut ini. Ini yang terlama dan bagian yang paling kunikmati. Berawal ditinggal rombongan ke kebun raya Bogor, aku memilih untuk tetap di hotel setelah sempat berjalan ke persimpangan jalan hendak menyusul rombongan bersama seorang teman lelaki, tapi aku urung dan kembali, dengan alasan tubuhku tidak bisa diajak kompromi. Seorang diri. Inilah aku di sudut ini, menggenggam sebuah buku kumpulan puisi (sebagai satu-satunya buku yang kubawa) ditemani angin sore dan instrumen lagu melalui earphoneku. Sangat kunikmati hingga sesekali aku lupa jika sedang membaca buku, sesekali juga aku begitu tenggelam ke dalam isi buku hingga tak kusadari awan pekat telah sedari tadi melayang di atas kepalaku. Begitu pekat. Pemandangan yang sulit untuk kugambarkan, aku selalu terhibur dengan awan pekat seperti ini. Perasaanku seperti dialiri sesuatu dari dalam inti awan, yang kurasa kamus tidak menyediakan kata-kata untuk mendeskripsikannya. Tanyalah hati jika memang ingin tau.

Aku bukan menunggu hotel ini ramai lagi, aku menunggu hujan turun. Dan benar saja, cukup lama menunggu, hujan lebat turun diselingi suara guntur yang mesra di telinga. Semakin lama semakin lebat, hingga aku dibuat terpaksa masuk menghindari air yang sudah sampai bangku tempatku duduk, bahkan melewati pintu masuk disertai angin kencang. Akhirnya aku pindah ke dalam, ke sudut lain yang membuatku masih bisa menatap pekatnya langit. Hingga aku terganggu dengan petugas hotel yang berseliweran memastikan hotel dalam keadaan aman, mengecek hampir setiap jengkal ruangan, hingga aku jadi ikut kebingungan. Dan tak lama. Lampu padam. Rasa khawatir mulai menggerayang. Bagaimana teman-temanku, apakah mereka masih di jalan atau sudah sampai di tempat kembali. Mulai kuhubungi satu persatu, sampai aku lega dengan balasan seorang temanku bahwa rombongan sudah sampai di hotel sebelah. Kusudahi romantisme ini, menyambut mereka yang hampir pasti telah basah kuyup. kusimpan semuanya di lemari hati yang kututup rapat.

Hingga saat ku pulang, dan menemui adikku yang diawal mengantarku tadi. Jelaslah semuanya. Kuceritakan bahwa aku memang menginap di hotel tetapi dengan keadaan yang begitu menyulitkan, jadi impas. Nada iri berganti kasihan. Dan rupanya, selama aku pergi badai terjadi lagi. Badai yang lebih besar hingga mampu kurasakan dari jauh, saat kucoba berkali-kali menghubungi bunda melalui telepon genggamku. Badai yang tidak kurasai bersama dalam satu tempat. Tapi sejatinya, cukuplah dari jarak yang jauh itu aku merasakannya melalui segala rasa sakit yang kuderita. Ada sedikit rasa syukur, kalau tidak begitu aku pasti pulang dalam keadaan merasa bersalah. Aku benci senang seorang diri.

Jadilah kusimpulkan perjalanan kali ini memang penuh kenikmatan, kenikmatan ilmu dan bukan yang lain. Itu yang pertama. Yang kedua, ada kenikmatan lain yang Allah berikan padaku diluar dugaan dan tak pernah terbayangkan olehku sampai aku menginjak tanah jakarta. Sampai aku benar-benar merasa yakin bahwa ialah bonusnya. Tiada kesenangan materi, karena tubuhku (materi) inipun dalam keadaan sakit. Apalah yang terasa nikmat jika tubuh tidak vit? Dan apalah yang lebih nikmat daripada ilmu yang menjadi penyambung antara aku dan hakikat tujuan itu? Ditambah sebuah kenikmatan lagi, yang dengannya sungguh hilang semua rasa sakitku. Sebagaimana obat yang tiada lagi terasa pahit saat ditelan bersamaan dengan kehadirannya yang begitu dekat. Meski pun saat melalui perjalanan pulang yang cukup panjang, yang tak mungkin kulalui begitu saja apalagi sekedar untuk tidur, aku menimbang kembali dan memutuskan mencukupkan kenikmatan kedua itu hinggap sebentar saja, aku mengenalnya dan aku mengenal diriku, memperpanjang kenikmatan adalah berarti memilih derita. Alhamdulillah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar