Hampir setahun sudah, saat kalian datang membawa tanda tanya
besar dalam hidupku. Atau mungkin aku datang dan mengambil sebagian kecil hidup
kalian, tempat dalam hati kalian yang ntah itu berarti kabar baik untuk kalian,
atau malah sebaliknya :)
Teringat bagaimana lucunya kalian saat itu, dengan kebingungan yang
kututupi, kekikukkan yang kuredam kuat-kuat, bertemu dengan ibu-bapak kalian
yang hampir semuanya menyatakan hal yang sama! Hal yang sangat sulit aku
terima, karena terdengar begitu berat, “Titip anak saya ya…”.
Tapi lebih-lebih berat bagiku, saat aku benar-benar merenungi peran
yang baru kupilih ini, yang kutak begitu yakin mengisi bagian mana visi dalam
hidup yang kujalani, yang belum tuntas kupukirkan saat itu, bahkan sampai
hari ini..
Ya, jauh berkali lipat lebih berat saat kusadari Allah Ta’ala-lah yang
sebenarnya ‘menitipkan’ kalian padaku. Aku hampir tak sanggup memikirkannya,
mengingat kondisiku saat itu. Peran yang begitu besar ‘berani’ kupilih tanpa
ilmu yang mumpuni, tanpa pengalaman sama sekali, ditambah rekan yang sejak awal
menyertai, berjanji akan senantiasa membimbing dan mengayomi, melepaskan keterlibatan dirinya
karena ada peran lebih besar yang menanti, sehingga mengharuskan ia melakukan
semua itu. Kalian tahu... aku sempat merasa sendiri, benar-benar seorang diri…
Hingga kusuburkan keyakinan yang sudah lebih dulu tertanam, bahwa
keMaha Adilan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan membuat seorang hamba
terdzalimi. Hanya yang kutakutkan, akulah yang mendzolimi diriku sendiri. Mengambil
pilihan dimana aku masih sangat awam terhadapnya. Tapi jika sudah terlanjur
demikian, meninggalkannya adalah lebih dzalim lagi. Maka aku memohon ampun
kepada Allah Ta’ala, dan memohon petunjuk dan bimbinganNya. Hanya itu penguatku
saat itu.
Hingga Allah Swt. bukakan satu persatu kemudahan.. keluarga yang
mendukungku (terutama bunda yang setia terus menjadi pendengarku), teman-teman
yang mempunyai segudang pengalaman, dan guru-guruku yang meneguhkan bahwa
dimanapun kita ditempatkan, kita harus selalu membawa visi. Sebab, dimanapun
itu, asal ia bukan tempat yang dilarang syariatNya, maka pasti (tempat itu) menyediakan
jalan bagi masa depan yang baik (Akhirat), menghamparkan ladang pahala, dan
memberi kesempatan untuk banyak bersabar. Jadi kusadari memang ini didikkan
untukku.
Tiga bulan yang tak mudah. Kalian tahu, hampir digenangi air mata
disetiap harinya. Kadang ia tumpah saat kalian sudah berhamburan pulang, atau
dibalik helm saat aku menuju rumah, atau di kamar saat aku sedang sendiri dan
ingin menangis. Beberapa kali aku hampir menyerah. Saat kalian tak mampu
kukendalikan, saat ekspektasiku jauh dari yang aku saksikan, saat tangisan
kalian meledak pertengkaran tak terelakkan, saat tahu betapa beratnya kurikulum
dibanding dengan kapasitas diri kalian, kurikulum yang seharusnya didapat oleh anak
yang dua tahun berusia lebih tua dari kalian. Bagaimana hendak kusampaikan? Orang tua
yang banyak tuntutan, dan pekerjaan-pekerjaan yang tak mampu kutuntaskan.. aku
benar-benar kelelahan..
Hingga nampak dalam hasil akhir semester tigaku. Nilaiku menurun. Aku datang
dalam keadaan lelah, hingga tak kuelakkan rasa kantuk yang begitu, saat dosen
menjelaskan. Tugas keteteran. Konsentrasi tak karuan. Biarpun bercangkir kopi
sudah kutelan. Waktu menjadi teramat berharga bagiku. Dan kusadari, bahwa aku
belum bisa adil menggunakan waktu yang kuyakini insyaAllah bisa kusiasati jika
aku mau optimal. Itu usaha yang terus menerus kulakukan, hingga saat ini. Jatuh
bangun. Meski kusadari banyak kelalaian yang kuhasilkan.
Kalian tahu, sampai aku menemukan sebuah hal.
Saat ruang-ruang hati kalian pelan-pelan terbuka untukku, begitu juga
denganku. Saat kau dan kau mulai menaruh percaya padaku, mau mendengarkanku. Saat
kau dank au mengusap airmatamu ketika aku memintanya setelah sudah berbagai
cara kulakukan. Saat kau lemparkan senyum tepat disaat aku menatapmu. Saat kau
mau menjalankan kesepakatan kita. Saat amukan, tendangan dan jeritan itu tak
kau hadirkan lagi. Saat kau mulai mampu mengeja kalimat demi kalimat yang
awalnya kau hindari. Saat cerita-ceritamu mengisi pagi-pagiku. Saat kau buka
ruangan-ruangan hidupmu yang kuketahui berat untukmu melakukannya. Aku tahu
bahwa kalian menyimpan penawar yang aku butuhkan. Sebagaimana sudah Allah Swt.
persiapkan obat dari setiap penyakit yang ada.
Aku mempercayai bahwa penawar itu, sebagiannya Allah Swt. hadirkan pada
diri kalian. Ini yang cukup lama kusadari. Sejak tawa kalian menjadi tawaku
juga, sejak derita kalian terasa menyayati hatiku juga, tepatnya. Aku menikmatinya.
Tetapi kusadari ini juga pelajaran besar untukku, mengolah perasaan dan
menempatkan sikap di tempat yang tepat. Ini bukan hanya perlu ilmu, tapi juga
pengamalan ilmu itu. Melawan perasaan dan hawa nafsu. Benar-benar didikan.
Bahkan bukan ini saja.. banyak.. banyak.. banyak sekali pelajaran.
Kelian perlihatkan hasil didikkan ibu-bapak kalian, paling tidak sampai
seusia kalian. Terus terang saja, itu yang mengontrol kemarahanku, bahwa
kesalahan bukan disebabkan oleh diri kalian, tetapi pola didik yang akhirnya
membentuk karakter dan sikap kalian. Mendidik kalian tak bisa berhenti hanya
pada diri kalian, tanpa melibatkan orang tua kalian. Kata ‘menitipkan’ bisa
menjadi pilihan kata yang paling salah dan buruk. Melakukan usaha pembenaran
dari apa yang sudah dilakukan orang tua secara terus menerus, seperti melukis
di atas pasir. Mudah hilang dan terbang. Aku tahu langkahku tak cukup sampai di
sini, tetapi aku juga tahu bahwa itu semua perlu waktu. Jadilah harapan
terbesar ialah memohon agar Allah Swt. mennghitung semuanya sebagai amal
shalih. Meski tak membekaskan hasil yang signifikan. Dan berulang-ulangnya
kesalahan yang terjadi kujadikan kesempatan bersabar, yang darinya semoga menjadi
wasilah diijabahnya do’aku, agar Allah Swt. menetapkan yang baik dan
diperteguhkan akhlak terpuji dalam diri kalian, dan yang buruk, semoga Ia
hilangkan sejauh-jauhnya hingga tidak hinggap lagi pada diri kalian yang suci,
lugu dan besih.
Alhamdulillah, diriku diperkuat dengan adanya visi yang menjelas..
seiring waktu.. hingga aku dapatkan mimpi dan harapanku. Melihat apa yang
terjadi di hampir seantero dunia saat ini yang begitu sulit rasanya diterima
akal manusia normal, ditengah keterputusasaan manusia-manusia yang (sebenarnya)
masih mencari-cari jalan keluar, di dalam gempuran yang begitu hebat dari
berbagai sisi dan aspek kehidupan, kalian seperti bintang terang yang hadir
dipekatnya gulita malam.. saat lampu yang bersumber dari rumah-rumah penduduk
tidak berfungsi, kalian menjadi salah satu sumber cahaya, meski kecil dan
redup. Persis seperti sebuah bintang. Ya, harapanku bertumpu pada kalian,
kalian sadar tidak melalui tatapan mataku yang sering membingungkan itu,
sehingga kalian gulirkan sebuah tanya yang selalu membuatku tertawa.. “Ibu,
ningalikeun wae..” haa..haa..haa.. kalian memang lucu. Kepolosan kalian,
mencerminkan kebeningan hati yang kalian miliki, yang membenci kalian-lah hati
yang keruh itu.
Allah Swt. mendidikku (salah satunya) melalui kalian. Jika aku gagal
maka aku tidak akan pernah melihat harapku terbit cemerlang. Bagaimana kita bisa menemui pagi yang terang benderang
berjumpa sang mentari yang tak pernah melalaikan tugasnya, jika kita tidak
melalui malam, sepanjang apapun ia terasa? Aku percaya, hasil yang kita tuai
sesuai apa yang kita usahakan. Sehingga apapun yang terjadi di luar apa yang
bisa kita lakukan, tak perlu kita pedulikan. Kita hanya harus memastikan,
segalanya berjalan maksimal, dan berkonsentrasi total dengan berpegang pada
janji yang tak pernah diingkari Sang Penjanjinya..
Hampir satu tahun sudah. Tanpa sadar sudah banyak sekali perubahan. Bukan
hanya pada kalian, bahkan mungkin juga apa yang kalian lihat dariku. Kita telah
sama-sama semakin berubah, semoga ke arah yang lebih baik, pertanda Allah Swt.
membimbing langkah kita dan semoga untuk seterusnya.. karena kebergantungan
kita.. bukan saja untuk hari ini <3
Kita
berjumpa dalam gagap yang hampir sama
Ketidak
mampuan kalian adalah gairah untukku,
Untuk
belajar, raih lebih banyak ilmu.
Aku
menikmati prosesnya,
Meski
tangisan menjadi warna utamanya.
Ruapanya
ada hikmah yang belum mampu kueja,
Bahkan
lebih payah dari kalian mengeja huruf demi huruf.
Yang
harus kutebus dengan kesabaran,
Kutembus
dengan keimanan.
Kita
saling menghantarkan jenjang kehidupan,
Kalian
dengan melawan ketidak mengertian,
Dengan
kekesalan, kebosanan, dan kejenuhan.
Aku
dengan kesadaran,
Dengan
keyakinan dan pertanggung jawaban,
Wajarkah
jika kumiliki harapan besar?
Melihat
aku, dan kita semua di alam ini dan nanti, dalam kebahagiaan
Yang
hanya bisa diberikan melalui pengenalan akan Tuhan..
Semoga :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar