Pages

Senin, 24 Maret 2014

Hampir Setahun Sudah



Hampir setahun sudah, saat kalian datang membawa tanda tanya besar dalam hidupku. Atau mungkin aku datang dan mengambil sebagian kecil hidup kalian, tempat dalam hati kalian yang ntah itu berarti kabar baik untuk kalian, atau malah sebaliknya :)
 
Teringat bagaimana lucunya kalian saat itu, dengan kebingungan yang kututupi, kekikukkan yang kuredam kuat-kuat, bertemu dengan ibu-bapak kalian yang hampir semuanya menyatakan hal yang sama! Hal yang sangat sulit aku terima, karena terdengar begitu berat, “Titip anak saya ya…”.
Tapi lebih-lebih berat bagiku, saat aku benar-benar merenungi peran yang baru kupilih ini, yang kutak begitu yakin mengisi bagian mana visi dalam hidup yang kujalani, yang belum tuntas kupukirkan saat itu, bahkan sampai hari ini..

Ya, jauh berkali lipat lebih berat saat kusadari Allah Ta’ala-lah yang sebenarnya ‘menitipkan’ kalian padaku. Aku hampir tak sanggup memikirkannya, mengingat kondisiku saat itu. Peran yang begitu besar ‘berani’ kupilih tanpa ilmu yang mumpuni, tanpa pengalaman sama sekali, ditambah rekan yang sejak awal menyertai, berjanji akan senantiasa membimbing dan mengayomi, melepaskan keterlibatan dirinya karena ada peran lebih besar yang menanti, sehingga mengharuskan ia melakukan semua itu. Kalian tahu... aku sempat merasa sendiri, benar-benar seorang diri…

Hingga kusuburkan keyakinan yang sudah lebih dulu tertanam, bahwa keMaha Adilan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan membuat seorang hamba terdzalimi. Hanya yang kutakutkan, akulah yang mendzolimi diriku sendiri. Mengambil pilihan dimana aku masih sangat awam terhadapnya. Tapi jika sudah terlanjur demikian, meninggalkannya adalah lebih dzalim lagi. Maka aku memohon ampun kepada Allah Ta’ala, dan memohon petunjuk dan bimbinganNya. Hanya itu penguatku saat itu.

Hingga Allah Swt. bukakan satu persatu kemudahan.. keluarga yang mendukungku (terutama bunda yang setia terus menjadi pendengarku), teman-teman yang mempunyai segudang pengalaman, dan guru-guruku yang meneguhkan bahwa dimanapun kita ditempatkan, kita harus selalu membawa visi. Sebab, dimanapun itu, asal ia bukan tempat yang dilarang syariatNya, maka pasti (tempat itu) menyediakan jalan bagi masa depan yang baik (Akhirat), menghamparkan ladang pahala, dan memberi kesempatan untuk banyak bersabar. Jadi kusadari memang ini didikkan untukku.

Tiga bulan yang tak mudah. Kalian tahu, hampir digenangi air mata disetiap harinya. Kadang ia tumpah saat kalian sudah berhamburan pulang, atau dibalik helm saat aku menuju rumah, atau di kamar saat aku sedang sendiri dan ingin menangis. Beberapa kali aku hampir menyerah. Saat kalian tak mampu kukendalikan, saat ekspektasiku jauh dari yang aku saksikan, saat tangisan kalian meledak pertengkaran tak terelakkan, saat tahu betapa beratnya kurikulum dibanding dengan kapasitas diri kalian, kurikulum yang seharusnya didapat oleh anak yang dua tahun berusia lebih tua dari kalian. Bagaimana hendak kusampaikan? Orang tua yang banyak tuntutan, dan pekerjaan-pekerjaan yang tak mampu kutuntaskan.. aku benar-benar kelelahan..

Hingga nampak dalam hasil akhir semester tigaku. Nilaiku menurun. Aku datang dalam keadaan lelah, hingga tak kuelakkan rasa kantuk yang begitu, saat dosen menjelaskan. Tugas keteteran. Konsentrasi tak karuan. Biarpun bercangkir kopi sudah kutelan. Waktu menjadi teramat berharga bagiku. Dan kusadari, bahwa aku belum bisa adil menggunakan waktu yang kuyakini insyaAllah bisa kusiasati jika aku mau optimal. Itu usaha yang terus menerus kulakukan, hingga saat ini. Jatuh bangun. Meski kusadari banyak kelalaian yang kuhasilkan.

Kalian tahu, sampai aku menemukan sebuah hal.
Saat ruang-ruang hati kalian pelan-pelan terbuka untukku, begitu juga denganku. Saat kau dan kau mulai menaruh percaya padaku, mau mendengarkanku. Saat kau dank au mengusap airmatamu ketika aku memintanya setelah sudah berbagai cara kulakukan. Saat kau lemparkan senyum tepat disaat aku menatapmu. Saat kau mau menjalankan kesepakatan kita. Saat amukan, tendangan dan jeritan itu tak kau hadirkan lagi. Saat kau mulai mampu mengeja kalimat demi kalimat yang awalnya kau hindari. Saat cerita-ceritamu mengisi pagi-pagiku. Saat kau buka ruangan-ruangan hidupmu yang kuketahui berat untukmu melakukannya. Aku tahu bahwa kalian menyimpan penawar yang aku butuhkan. Sebagaimana sudah Allah Swt. persiapkan obat dari setiap penyakit yang ada.

Aku mempercayai bahwa penawar itu, sebagiannya Allah Swt. hadirkan pada diri kalian. Ini yang cukup lama kusadari. Sejak tawa kalian menjadi tawaku juga, sejak derita kalian terasa menyayati hatiku juga, tepatnya. Aku menikmatinya. Tetapi kusadari ini juga pelajaran besar untukku, mengolah perasaan dan menempatkan sikap di tempat yang tepat. Ini bukan hanya perlu ilmu, tapi juga pengamalan ilmu itu. Melawan perasaan dan hawa nafsu. Benar-benar didikan.

Bahkan bukan ini saja.. banyak.. banyak.. banyak sekali pelajaran.
Kelian perlihatkan hasil didikkan ibu-bapak kalian, paling tidak sampai seusia kalian. Terus terang saja, itu yang mengontrol kemarahanku, bahwa kesalahan bukan disebabkan oleh diri kalian, tetapi pola didik yang akhirnya membentuk karakter dan sikap kalian. Mendidik kalian tak bisa berhenti hanya pada diri kalian, tanpa melibatkan orang tua kalian. Kata ‘menitipkan’ bisa menjadi pilihan kata yang paling salah dan buruk. Melakukan usaha pembenaran dari apa yang sudah dilakukan orang tua secara terus menerus, seperti melukis di atas pasir. Mudah hilang dan terbang. Aku tahu langkahku tak cukup sampai di sini, tetapi aku juga tahu bahwa itu semua perlu waktu. Jadilah harapan terbesar ialah memohon agar Allah Swt. mennghitung semuanya sebagai amal shalih. Meski tak membekaskan hasil yang signifikan. Dan berulang-ulangnya kesalahan yang terjadi kujadikan kesempatan bersabar, yang darinya semoga menjadi wasilah diijabahnya do’aku, agar Allah Swt. menetapkan yang baik dan diperteguhkan akhlak terpuji dalam diri kalian, dan yang buruk, semoga Ia hilangkan sejauh-jauhnya hingga tidak hinggap lagi pada diri kalian yang suci, lugu dan besih.

Alhamdulillah, diriku diperkuat dengan adanya visi yang menjelas.. seiring waktu.. hingga aku dapatkan mimpi dan harapanku. Melihat apa yang terjadi di hampir seantero dunia saat ini yang begitu sulit rasanya diterima akal manusia normal, ditengah keterputusasaan manusia-manusia yang (sebenarnya) masih mencari-cari jalan keluar, di dalam gempuran yang begitu hebat dari berbagai sisi dan aspek kehidupan, kalian seperti bintang terang yang hadir dipekatnya gulita malam.. saat lampu yang bersumber dari rumah-rumah penduduk tidak berfungsi, kalian menjadi salah satu sumber cahaya, meski kecil dan redup. Persis seperti sebuah bintang. Ya, harapanku bertumpu pada kalian, kalian sadar tidak melalui tatapan mataku yang sering membingungkan itu, sehingga kalian gulirkan sebuah tanya yang selalu membuatku tertawa.. “Ibu, ningalikeun wae..” haa..haa..haa.. kalian memang lucu. Kepolosan kalian, mencerminkan kebeningan hati yang kalian miliki, yang membenci kalian-lah hati yang keruh itu.

Allah Swt. mendidikku (salah satunya) melalui kalian. Jika aku gagal maka aku tidak akan pernah melihat harapku terbit cemerlang. Bagaimana kita  bisa menemui pagi yang terang benderang berjumpa sang mentari yang tak pernah melalaikan tugasnya, jika kita tidak melalui malam, sepanjang apapun ia terasa? Aku percaya, hasil yang kita tuai sesuai apa yang kita usahakan. Sehingga apapun yang terjadi di luar apa yang bisa kita lakukan, tak perlu kita pedulikan. Kita hanya harus memastikan, segalanya berjalan maksimal, dan berkonsentrasi total dengan berpegang pada janji yang tak pernah diingkari Sang Penjanjinya..

Hampir satu tahun sudah. Tanpa sadar sudah banyak sekali perubahan. Bukan hanya pada kalian, bahkan mungkin juga apa yang kalian lihat dariku. Kita telah sama-sama semakin berubah, semoga ke arah yang lebih baik, pertanda Allah Swt. membimbing langkah kita dan semoga untuk seterusnya.. karena kebergantungan kita.. bukan saja untuk hari ini <3   

Kita berjumpa dalam gagap yang hampir sama
Ketidak mampuan kalian adalah gairah untukku,
Untuk belajar, raih lebih banyak ilmu.
Aku menikmati prosesnya,
Meski tangisan menjadi warna utamanya.

Ruapanya ada hikmah yang belum mampu kueja,
Bahkan lebih payah dari kalian mengeja huruf demi huruf.
Yang harus kutebus dengan kesabaran,
Kutembus dengan keimanan.
Kita saling menghantarkan jenjang kehidupan,
Kalian dengan melawan ketidak mengertian,
Dengan kekesalan, kebosanan, dan kejenuhan.
Aku dengan kesadaran,
Dengan keyakinan dan pertanggung jawaban,
Wajarkah jika kumiliki harapan besar?
Melihat aku, dan kita semua di alam ini dan nanti, dalam kebahagiaan
Yang hanya bisa diberikan melalui pengenalan akan Tuhan..
Semoga :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar