Pages

Senin, 28 April 2014

22 tahun. Perjalanan. Nikmah. Kontemplasi. Makna.






“bukan banyaknya buku, tapi sejauh mana kita cerna dan renungkan apa yang kita baca”

Pesan seorang guru kepadaku ini menjadi oleh-oleh yang kubawa pulang dari sebuah perjalanan yang menjadi awal 22 tahunku. Angka itu beberapa kali mengagetkanku akan waktu yang begitu banyak kusia-siakan. Ingat, lupa lagi, ingat lagi, terus lupa.

Bertambahnya usia seharusnya bukan untuk dirayakan
Ia adalah bentuk penyadaran berapa lama waktu disia-siakan

menempuh perjalanan hampir selama 17 jam dikali 2 adalah sebuah kesia-siaan jika tidak menambah apapun dalam diri kita. Perjalanan yang bukan dekat dan bukan mudah. Perjalanan menjadi begitu bermakna ketika kita tahu ia memberi kontribusi apa pada perubahan diri kita ke arah yang lebih baik. Bukan seberapa jauhnya, bukan berapa biaya yang mesti dikeluarkan untuk melakukan perjalanan itu. Perjalanan yang bermakna bisa memberikan kita energi lebih dalam menjalani hari-hari ke depan, meski perjalanan itu sendiri sukar dan berat namun kesukaran hanya sebagai penambah kesan dari makna itu, bukan makna itu sendiri.
Orang bisa menjalani kehidupannya dengan beragam aktivitas, mengekspresikannya melalui apa yang menurutnya pantas dilakukan. Seseorang bisa terlihat begitu berbeda dengan orang lainnya, meski mereka sama-sama manusia. Tetapi apa yang menjadi hakikatnya itu tetap sama dan menagih sesuatu yang sama pula yang sejak semula berada dan menetap di sana, perbedaan sebenarnya, ada yang menyadari sehingga menempuh perjalanan yang benar untuk memenuhi tuntutatn sebenar dirinya itu, dan ada yang salah mengidentifikasi sehingga menempuh jalan yang salah untuk memenuhi apa yang sebenarnya tidak dituntut dirinya itu. Kelalaian terbesar hidup adalah tidak menemukan apa yang kita cari, karena ketidaktahuan apa yang seharusnya dicari.

Dari kumpulan hari aku sudah menjadi siapa
Berhasilkah perintah Tuhan kuindahkan?
Ataukah aku masih diliputi tipudaya
Yang memalingkanku dari kehidupan sebenarnya

Perjalananku kali ini menghantarkanku pada pertemuan dengan insan-insan yang insyaAllah mencari tujuan yang sama, setelah mengetahui apa yang dituntut dirinya. Mungkin dibelahan bumi lainnya dalam satu waktu yang sama atau pun berbeda, seseorang atau banyak orang merasakan juga hal yang sama. Bergumul dengan ilmu, berkumpul dengan guru juga saudara-saudara yang saling memendam rindu. Bagaimana aku mensyukurinya? Kesenanganku bersamaan dengan kehadiran sedikit beban. Semuanya harus menjadikanku lebih baik, jika tidak, bukankah itu cara yang salah menunjukkan kesyukuran?

Apa yang kita dapatkan hari ini, adalah bekal untuk hari esok, jika menyadari hidup itu ujian. Baik senang atau pun pedih bagi kita dengan pandangan kita yang begitu terbatas. Apa yang dibalik dinding saja tidak mampu kita lihat, apalagi menembus masa depan? Begitu sombongnya kita jika hanya bergantung pada pandangan yang terbatas itu, sedangkan ada Yang Maha Melihat, Mahatahu segalanya. Meyakini apa yang diberi hari ini adalah bekal untuk hari esok seperti bergantung pada Yang Maha Melihat dengan prasangka yang baik. Sehingga segalanya kita hadapi juga dengan sebaik-baiknya karena menyadari keterbatasan kita melihat apa yang berada dibalik sesuatu yang kita terima itu.

Kepedihan masa lalu rupanya ditebus dengan perjalanan indah ini. Mereguk makna dengan perantara telinga adalah obat kebingungan di hari kemarin. Berbincang  langsung dengan guru merupakan kenikmatan lebih dari segala teknologi canggih yang bisa dimanfaatkan. Berjumpa dengan saudara-saudara terindu adalah vitamin bagi menambah imun jiwa. Berakhir dengan rasa malu kepadaNya atas ketidaksabaran di masa lalu, atas keluhan yang tereja, atas penurutan hawa nafsu. Kalaulah tau balasanNya seindah ini.

 Hidup tidak bisa berhenti hanya sampai kita senang, hanya sampai kepedihan hilang. Hidup tetap hidup yang meski kita sikapi sebagaimana mestinya. Lautan emosi harus kita seberangi bukan berdiam karena keindahannya lalu menunggu waktu tenggelam. Selama masih ada hari esok, harus kita lalui sebaik-baiknya, makna itu yang seharusnya menjadikan kita lebih baik lagi dan lebih siap lagi menghadapi tantangan hidup berikutnya. Dibalik kesukaran, sesungguhnya ada kemudahan. Inilah keyakinan yang terpatri ketika kita bergantung pada Yang Maha Melihat dan Mahamengetahui. Sehingga kita tidak berhenti pada keduanya, karena jawaban akhir yang kita cari berada pada apa yang kita usahakan selama nafas masih berhembus, selama sinaran mentari pagi masih bisa kita rasakan kehangatannya, dan selama modal masih kita miliki berupa potensi diri.

Perpisahan adalah sebuah bagian yang pasti kita lalui, yang hanya bisa disikapi dengan bijak jika kita tahu apa itu hidup. ia adalah konsekuensi logis bagi sebuah pertemuan di alam bernama dunia ini. Tetapi makna menempatinya menjadi sebuah bagian dari keseluruhan realitas, dimana ia menjadi jalan bagi pertemuan yang sebenarnya tanpa akhir. Jika kita berhasil menjalani kehidupan ini.
Keikhlasan adalah puncak yang harus diraih dan dikukuhkan dalam diri menjadi landasan dalam setiap usaha dan perbuatan. Jangan tukar ia karena pandangan manusia, rasakan kehadirannya selalu meski cibiran dan pandangan remeh sebagai balasan yang datang dari manusia. Apa yang lebih berharga dari penilaian Allah Swt, dan adakah yang lebih penting dari itu? Sulit untuk meneguhkan ini ketika kita ‘nampak’ ingin mencari perhatian manusia, tetapi bukan tidak bisa. Sebaliknya, ketidak inginan diketahui mata-mata manusia bukan berarti karena ikhlas yang menjadi alasannya. Hati-hatilah dan lebih cermat membaca hati.

Keyakinan bukanlah sesuatu yang dihadir-hadirkan atau diada-adakan, atau tiba-tiba muncul, atau tiba-tiba ada. Ia diraih, dipupuk dan dibangun dengan ilmu dan pengamalannya. Sehingga terus bertambah dalam dan bisa terbaca melalui tutur kata, perilaku dan amalan. Menghasilkan penglihatan yang bisa menembus apa yang dilihatnya, sebagaimana pekatnya awan tidak menjadikan kita menepis keberadaan rembulan meski mata kita tidak menangkap bentuk dan sinarannya.

Kekhusu’an adalah kesadaran tertinggi yang bisa diraih dengan kesungguhan dan permohonan kepada Yang Maha Berkehendak. Kekhusu’an dihadirkan dan dijaga dengan tidak mudah, tetapi saat ia rusak, maka dengan mudah hilang apa yang seharusnya menjadi kesadarannya itu. Ia hilang ketika  sesuatu yang bukan seharusnya dipikirkan mengambil banyak porsi dalam pikiran kita, ketika perasaan lebih menguasai dibandingkan keharusan sikap yang sebenarnya. Ketika terlalu banyak tertawa padahal di atas pijakan tanah yang sama seseorang merasa kepedihan hidupnya sebagai bentuk ketidakadilan Tuhan. Ketika waktu dihabiskan untuk sesuatu yang sia-sia sedangkan tanggung jawab dilalaikan.

Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga diri ini terus mampu memaksimalkan diri dalam setiap kesempatan yang diberikanNya, dan sentiasa memantaskan diri atas segala kenikmatan yang diberikanNya, dan diperteguhkan dalam keyakinan yang sedalam-dalamnya meski indera terbatas dalam menangkap segala sesuatunya.

Aku yang merangkai jalan-jalan dengan renungan
Berteman suara jangkrik dan bising kendaraan
Ditelan sunyi malam yang gelap gulita
Mengumpulkan seberkas makna yang hinggap di jiwa



Tidak ada komentar:

Posting Komentar