“bukan banyaknya buku, tapi sejauh mana kita cerna dan
renungkan apa yang kita baca”
Pesan seorang guru kepadaku ini menjadi oleh-oleh yang kubawa pulang dari sebuah
perjalanan yang menjadi awal 22 tahunku. Angka itu beberapa kali mengagetkanku
akan waktu yang begitu banyak kusia-siakan. Ingat, lupa lagi, ingat lagi, terus
lupa.
Bertambahnya usia
seharusnya bukan untuk dirayakan
Ia adalah bentuk
penyadaran berapa lama waktu disia-siakan
menempuh perjalanan hampir selama 17 jam dikali 2 adalah
sebuah kesia-siaan jika tidak menambah apapun dalam diri kita. Perjalanan yang
bukan dekat dan bukan mudah. Perjalanan menjadi begitu bermakna ketika kita
tahu ia memberi kontribusi apa pada perubahan diri kita ke arah yang lebih
baik. Bukan seberapa jauhnya, bukan berapa biaya yang mesti dikeluarkan untuk
melakukan perjalanan itu. Perjalanan yang bermakna bisa memberikan kita energi
lebih dalam menjalani hari-hari ke depan, meski perjalanan itu sendiri sukar
dan berat namun kesukaran hanya sebagai penambah kesan dari makna itu, bukan
makna itu sendiri.
Orang bisa menjalani kehidupannya dengan beragam aktivitas,
mengekspresikannya melalui apa yang menurutnya pantas dilakukan. Seseorang bisa
terlihat begitu berbeda dengan orang lainnya, meski mereka sama-sama manusia.
Tetapi apa yang menjadi hakikatnya itu tetap sama dan menagih sesuatu yang sama
pula yang sejak semula berada dan menetap di sana, perbedaan sebenarnya, ada
yang menyadari sehingga menempuh perjalanan yang benar untuk memenuhi tuntutatn
sebenar dirinya itu, dan ada yang salah mengidentifikasi sehingga menempuh
jalan yang salah untuk memenuhi apa yang sebenarnya tidak dituntut dirinya itu.
Kelalaian terbesar hidup adalah tidak menemukan apa yang kita cari, karena
ketidaktahuan apa yang seharusnya dicari.
Dari kumpulan hari aku
sudah menjadi siapa
Berhasilkah perintah
Tuhan kuindahkan?
Ataukah aku masih
diliputi tipudaya
Yang memalingkanku
dari kehidupan sebenarnya
Perjalananku kali ini
menghantarkanku pada pertemuan dengan insan-insan yang insyaAllah mencari
tujuan yang sama, setelah mengetahui apa yang dituntut dirinya. Mungkin dibelahan
bumi lainnya dalam satu waktu yang sama atau pun berbeda, seseorang atau banyak
orang merasakan juga hal yang sama. Bergumul dengan ilmu, berkumpul dengan guru
juga saudara-saudara yang saling memendam rindu. Bagaimana aku mensyukurinya?
Kesenanganku bersamaan dengan kehadiran sedikit beban. Semuanya harus
menjadikanku lebih baik, jika tidak, bukankah itu cara yang salah menunjukkan
kesyukuran?
Apa yang kita dapatkan hari ini, adalah bekal untuk hari
esok, jika menyadari hidup itu ujian. Baik senang atau pun pedih bagi kita
dengan pandangan kita yang begitu terbatas. Apa yang dibalik dinding saja tidak
mampu kita lihat, apalagi menembus masa depan? Begitu sombongnya kita jika
hanya bergantung pada pandangan yang terbatas itu, sedangkan ada Yang Maha
Melihat, Mahatahu segalanya. Meyakini apa yang diberi hari ini adalah bekal
untuk hari esok seperti bergantung pada Yang Maha Melihat dengan prasangka yang
baik. Sehingga segalanya kita hadapi juga dengan sebaik-baiknya karena
menyadari keterbatasan kita melihat apa yang berada dibalik sesuatu yang kita
terima itu.
Kepedihan masa lalu rupanya ditebus dengan perjalanan indah
ini. Mereguk makna dengan perantara telinga adalah obat kebingungan di hari
kemarin. Berbincang langsung dengan guru
merupakan kenikmatan lebih dari segala teknologi canggih yang bisa
dimanfaatkan. Berjumpa dengan saudara-saudara terindu adalah vitamin bagi
menambah imun jiwa. Berakhir dengan rasa malu kepadaNya atas ketidaksabaran di
masa lalu, atas keluhan yang tereja, atas penurutan hawa nafsu. Kalaulah tau
balasanNya seindah ini.
Hidup tidak bisa
berhenti hanya sampai kita senang, hanya sampai kepedihan hilang. Hidup tetap
hidup yang meski kita sikapi sebagaimana mestinya. Lautan emosi harus kita seberangi
bukan berdiam karena keindahannya lalu menunggu waktu tenggelam. Selama masih
ada hari esok, harus kita lalui sebaik-baiknya, makna itu yang seharusnya
menjadikan kita lebih baik lagi dan lebih siap lagi menghadapi tantangan hidup
berikutnya. Dibalik kesukaran,
sesungguhnya ada kemudahan. Inilah keyakinan yang terpatri ketika kita
bergantung pada Yang Maha Melihat dan Mahamengetahui. Sehingga kita tidak
berhenti pada keduanya, karena jawaban akhir yang kita cari berada pada apa
yang kita usahakan selama nafas masih berhembus, selama sinaran mentari pagi
masih bisa kita rasakan kehangatannya, dan selama modal masih kita miliki
berupa potensi diri.
Perpisahan adalah sebuah bagian yang pasti kita lalui, yang
hanya bisa disikapi dengan bijak jika kita tahu apa itu hidup. ia adalah
konsekuensi logis bagi sebuah pertemuan di alam bernama dunia ini. Tetapi makna
menempatinya menjadi sebuah bagian dari keseluruhan realitas, dimana ia menjadi
jalan bagi pertemuan yang sebenarnya tanpa akhir. Jika kita berhasil menjalani
kehidupan ini.
Keikhlasan adalah puncak yang harus diraih dan dikukuhkan
dalam diri menjadi landasan dalam setiap usaha dan perbuatan. Jangan tukar ia
karena pandangan manusia, rasakan kehadirannya selalu meski cibiran dan
pandangan remeh sebagai balasan yang datang dari manusia. Apa yang lebih
berharga dari penilaian Allah Swt, dan adakah yang lebih penting dari itu?
Sulit untuk meneguhkan ini ketika kita ‘nampak’ ingin mencari perhatian manusia,
tetapi bukan tidak bisa. Sebaliknya, ketidak inginan diketahui mata-mata
manusia bukan berarti karena ikhlas yang menjadi alasannya. Hati-hatilah dan
lebih cermat membaca hati.
Keyakinan bukanlah sesuatu yang dihadir-hadirkan atau
diada-adakan, atau tiba-tiba muncul, atau tiba-tiba ada. Ia diraih, dipupuk dan
dibangun dengan ilmu dan pengamalannya. Sehingga terus bertambah dalam dan bisa
terbaca melalui tutur kata, perilaku dan amalan. Menghasilkan penglihatan yang
bisa menembus apa yang dilihatnya, sebagaimana pekatnya awan tidak menjadikan
kita menepis keberadaan rembulan meski mata kita tidak menangkap bentuk dan
sinarannya.
Kekhusu’an adalah kesadaran tertinggi yang bisa diraih
dengan kesungguhan dan permohonan kepada Yang Maha Berkehendak. Kekhusu’an
dihadirkan dan dijaga dengan tidak mudah, tetapi saat ia rusak, maka dengan mudah
hilang apa yang seharusnya menjadi kesadarannya itu. Ia hilang ketika sesuatu yang bukan seharusnya dipikirkan
mengambil banyak porsi dalam pikiran kita, ketika perasaan lebih menguasai
dibandingkan keharusan sikap yang sebenarnya. Ketika terlalu banyak tertawa
padahal di atas pijakan tanah yang sama seseorang merasa kepedihan hidupnya
sebagai bentuk ketidakadilan Tuhan. Ketika waktu dihabiskan untuk sesuatu yang
sia-sia sedangkan tanggung jawab dilalaikan.
Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Semoga diri ini terus mampu memaksimalkan diri dalam setiap kesempatan yang
diberikanNya, dan sentiasa memantaskan diri atas segala kenikmatan yang
diberikanNya, dan diperteguhkan dalam keyakinan yang sedalam-dalamnya meski
indera terbatas dalam menangkap segala sesuatunya.
Aku yang merangkai
jalan-jalan dengan renungan
Berteman suara
jangkrik dan bising kendaraan
Ditelan sunyi malam
yang gelap gulita
Mengumpulkan seberkas
makna yang hinggap di jiwa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar