Pages

Selasa, 01 Juli 2014



Bukan nafsu yang berbicara, namun sesaknya hati oleh keberartian, oleh pengalaman, dan oleh kasih sayang yang pernah terajut.

Aku tahu, meski usaiku kini belum pantas bersemat dengan status ‘berpengalaman banyak’oleh karena belum sampai seperempat abad. Tetapi itu bukan berarti aku belum merasai pahit dan indahnya hidup sama sekali, setidaknya sampai usiaku menginjak angka kembar 22 tahun.

Aku yang masih terlalu dini untuk mengerti hidup. Aku yang masih banyak bertanya dan kebingungan dengan hal-hal yang kutemui. Aku yang masih mencari dimana benang merah. Atau dimana hubung kait semua peristiwa yang kualami. Aku yang masih bertanya soal tentang mengenai aku. Aku yang berusaha untuk tidak bosan berpikir dan merenung berharap suatu saat kutemui semua jawab itu, meredam sebab-sebab keraguanku, menepis kebingungan yang menggelayuti pikirku. 

Ada pesan yang inginku sampaikan pada mereka yang pernah begitu dalam melubangi hatiku, yang pernah kujadikan muara setiap pertanyaanku sebelum aku mengambil langkah berikutnya. Mereka yang menjadi koma sebelum titik kutemukan, mereka tidak pernah berubah dengan apa yang pernah mereka berikan. Begitu juga aku, aku tidak pernah berubah dengan apa yang pernah aku nyatakan seindah dan sepahit apapun. Meski ada yang menyalahkan satu sama lain karena ketidaktahuan dan karena keterbatasannya, aku sama sekali tidak pernah membatalkan apa yang indah pada masa lalu dan apa yang pahit pada masa-masa itu. Semua terekam hampir sempurna sebagaimana itu baru saja terjadi lima atau tiga menit yang lalu. 

Apa yang berat bagi mereka, sama beratnya bagiku. Hanya mungkin mereka tidak pernah benar-benar mengetahuinya. Andaikan mereka tahu, bahwa segala tanya yang menemukan jawabnya pasti menagih kompensasi yang tidak kecil dan tidak sedikit. Tetapi sebagaimana yang sama-sama kita ketahui, bahwa hidup ini pilihan. Apakah kita akan terus meningkat dan (bahkan) menurun, itu bergantung pada apa yang kita pilih. Dan pilihan kita bergantung pada apa yang telah sampai pada kita, kita menerimanya sebagai sebuah pertimbangan dan kita menempatkannya dalam skala prioritas kita.  Meski kompensasi dari sebuah harga nampak tidak mengenakkan di pelupuk mata kita yang begitu terbatas ini, bukan berarti itu adalah pilihan yang buruk. Dipilihnya itu karena tentu pilihan tersebut menjanjikan sesuatu yang prioritas bagi kita.

Mereka seperti sebuah jembatan bagiku. Jembatan menempati tempat dan posisinya sendiri. Bohong jika jembatan itu tidak berperan penting. Tanpa jembatan bagaimana kita menyeberangi pulau yang dipisahkan lautan luas begitu dalam tak bertepi? Namun, jembatan bukan tujuan itu sendiri. Ia hanya penghantar. Tetapi penghantar bisa menjadi begitu penting ketika itu menjadi satu-satunya jalan mencapai tujuan. Aku merasa tidak pernah memilih dengan apa aku sampai pada tujuanku, meskipun pilihan itu pasti ada dan pasti aku memilih karena apa yang sebelumnya aku terima sebagai pertimbangan. Aku selalu bersyukur dengan apa yang menjadi pilihanku sebelumnya, karena dengannya aku sampai pada hari ini. Tetapi aku menyadari ada yang lebih dari hanya sekedari itu. Dibalik semua perjalanan ini, jembatan itu bukan berdiri sendiri. Aku sadar bahwa jembatan itu menjadi bagian dari perjalananku karena ada YangMenghendakinya, yang jauh lebih Berkuasa daripada kuasaku dalam memilih. Dan itulah yang lebih aku syukuri,

Kompensasi yang besar yang aku rasakan itu wajar aku terima karena kesadaran itu, meski itu begitu terasa sakit dan susah, tetapi keyakinanlah yang membuatku mengejawantahkan apa yang kusadari dan kuyakini itu. Bukan aku melupakan jembatan itu. Bukan. Meski nampak begitu tetapi bukan berarti ia berarti begitu. Rasa sakit yang kita terima tidak boleh hanya menghasilkan dugaan dan prasangka bagi si penyebab rasa sakit itu. Ia harus diobati dengan pengetian meski itu pahit. Jika tidak, aku mengkhawatirkan kita hanya disibukkan dengan jembatan kita dan melupakan tujuan kita hanya karena alasan kenyamanan. Hanya karena kita pelihara rasa takut kita. Hanya karena kita merasa hidup hanya sekedar ini dan kita cukup dengan jembatan tempat kita berada sekarang. Aku tahu ini pahit kawan, tetapi ketahuilah bahwa lebih pahit lagi jika sesuatu yang pahit ini kita anggap sebagai puncak kegembiraan. Puncak kasih yang abadi itu. Ntah kapan mereka akan mengerti. Aku hanya terus berharap kita bertemu kembali di tempat tujuan yang sejak awal lagi kita harapkan. Sehingga tertunaikan janji-janji dulu kala kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar