Bukan nafsu yang berbicara, namun sesaknya hati oleh keberartian, oleh
pengalaman, dan oleh kasih sayang yang pernah terajut.
Aku tahu, meski usaiku kini belum pantas bersemat dengan
status ‘berpengalaman banyak’oleh karena belum sampai seperempat abad. Tetapi
itu bukan berarti aku belum merasai pahit dan indahnya hidup sama sekali,
setidaknya sampai usiaku menginjak angka kembar 22 tahun.
Aku yang masih terlalu dini untuk mengerti hidup. Aku yang
masih banyak bertanya dan kebingungan dengan hal-hal yang kutemui.
Aku yang masih mencari dimana benang merah. Atau dimana hubung kait semua
peristiwa yang kualami. Aku yang masih bertanya soal tentang
mengenai aku. Aku yang berusaha untuk tidak bosan berpikir dan merenung
berharap suatu saat kutemui semua jawab itu, meredam sebab-sebab keraguanku,
menepis kebingungan yang menggelayuti pikirku.
Ada pesan yang inginku sampaikan pada mereka yang pernah
begitu dalam melubangi hatiku, yang pernah kujadikan muara setiap pertanyaanku
sebelum aku mengambil langkah berikutnya. Mereka yang menjadi koma sebelum
titik kutemukan, mereka tidak pernah berubah dengan apa yang pernah mereka
berikan. Begitu juga aku, aku tidak pernah berubah dengan apa yang pernah aku
nyatakan seindah dan sepahit apapun. Meski ada yang menyalahkan satu sama lain
karena ketidaktahuan dan karena keterbatasannya, aku sama sekali tidak pernah
membatalkan apa yang indah pada masa lalu dan apa yang pahit pada masa-masa
itu. Semua terekam hampir sempurna sebagaimana itu baru saja terjadi lima atau
tiga menit yang lalu.
Apa yang berat bagi mereka, sama beratnya bagiku. Hanya
mungkin mereka tidak pernah benar-benar mengetahuinya. Andaikan mereka tahu,
bahwa segala tanya yang menemukan jawabnya pasti menagih kompensasi yang tidak kecil dan tidak sedikit. Tetapi sebagaimana yang sama-sama kita ketahui, bahwa
hidup ini pilihan. Apakah kita akan terus meningkat dan (bahkan) menurun, itu
bergantung pada apa yang kita pilih. Dan pilihan kita bergantung pada apa yang
telah sampai pada kita, kita menerimanya sebagai sebuah pertimbangan dan kita
menempatkannya dalam skala prioritas kita.
Meski kompensasi dari sebuah harga nampak tidak mengenakkan di pelupuk
mata kita yang begitu terbatas ini, bukan berarti itu adalah pilihan yang
buruk. Dipilihnya itu karena tentu pilihan tersebut menjanjikan sesuatu yang
prioritas bagi kita.
Mereka seperti sebuah jembatan bagiku. Jembatan menempati
tempat dan posisinya sendiri. Bohong jika jembatan itu tidak berperan penting.
Tanpa jembatan bagaimana kita menyeberangi pulau yang dipisahkan lautan luas
begitu dalam tak bertepi? Namun, jembatan bukan tujuan itu sendiri. Ia hanya
penghantar. Tetapi penghantar bisa menjadi begitu penting ketika itu menjadi
satu-satunya jalan mencapai tujuan. Aku merasa tidak pernah memilih dengan apa
aku sampai pada tujuanku, meskipun pilihan itu pasti ada dan pasti aku memilih
karena apa yang sebelumnya aku terima sebagai pertimbangan. Aku selalu
bersyukur dengan apa yang menjadi pilihanku sebelumnya, karena dengannya aku
sampai pada hari ini. Tetapi aku menyadari ada yang lebih dari hanya sekedari
itu. Dibalik semua perjalanan ini, jembatan itu bukan berdiri sendiri. Aku
sadar bahwa jembatan itu menjadi bagian dari perjalananku karena ada
YangMenghendakinya, yang jauh lebih Berkuasa daripada kuasaku dalam memilih.
Dan itulah yang lebih aku syukuri,
Kompensasi yang besar yang aku rasakan itu wajar aku terima
karena kesadaran itu, meski itu begitu terasa sakit dan susah, tetapi
keyakinanlah yang membuatku mengejawantahkan apa yang kusadari dan kuyakini
itu. Bukan aku melupakan jembatan itu. Bukan. Meski nampak begitu tetapi bukan
berarti ia berarti begitu. Rasa sakit yang kita terima tidak boleh hanya
menghasilkan dugaan dan prasangka bagi si penyebab rasa sakit itu. Ia harus
diobati dengan pengetian meski itu pahit. Jika tidak, aku mengkhawatirkan kita
hanya disibukkan dengan jembatan kita dan melupakan tujuan kita hanya karena
alasan kenyamanan. Hanya karena kita pelihara rasa takut kita. Hanya karena
kita merasa hidup hanya sekedar ini dan kita cukup dengan jembatan tempat kita
berada sekarang. Aku tahu ini pahit kawan, tetapi ketahuilah bahwa lebih pahit
lagi jika sesuatu yang pahit ini kita anggap sebagai puncak kegembiraan. Puncak
kasih yang abadi itu. Ntah kapan mereka akan mengerti. Aku hanya terus berharap
kita bertemu kembali di tempat tujuan yang sejak awal lagi kita harapkan.
Sehingga tertunaikan janji-janji dulu kala kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar