Pages

Sabtu, 20 September 2014

dunia seperti filem




Siapa yang suka menonton filem, akan lebih mudah memahami. Dunia dalam filem itu khayalan, sama dengan dunia tempat kita berpijak hari ini. Yang nampak indah dalam filem, seperti bagaimana yang nampak pada dunia ini. Pesonanya, rupanya, bentuknya, perhiasannya. Semua hampir sama.

Filem bisa menjadi bentuk lain dari hasrat manusia akan dunianya. Limpahan angan yang tak kunjung berbuah. Kuncup yang tak kunjung merekah. Dibangun khayalan, dijual angan-angan. Mencipta idola, menyuburkan apa yang sebenarnya hampa demi memungkiri kenyataan. Hanya itu obat penawar, katanya.

Menganggapnya nyata, adalah seperti sedang menipu diri. Mengganderungi setengah mati sama artinya terjerembab dalam jebakan. Emosi mengendali, akal sehat tiba-tiba lenyap. Nafsu merayap, semua dipaksa sesuai kehendak. Keinginan-keinginan melambung, fanatik membutakan segala. Yang diidola nelangsa, yang diidola sengsara. Tertipu semua, tetapi sandiwara belum selesai.

Memasang cita-cita seperti akhir cerita. Memuaskan diri katanya, menenggak lautan sirup menghapus dahaga, katanya. Benarkah? Bukannya filem dan dunia punya akhir? Akhir itulah awal segalanya, memulai kehidupan, ya. Kehidupan nyata, setidaknya lebih nyata dari sesuatu yang memiliki akhir. Lalu kemana penawar segala duka? Jika ubat telah habis, apalagi yang hendak dipenuhi? Jika tiada lagi tempat bersembunyi kemana lagi akan berlari?

 Mimpi telah kandas bersamaan dengan berlalunya malam. Angan-angan meluap menyisakan bagian yang harus dilalui, yang tak seorangpun mampu memungkiri. Beruntunglah yang membawa kesadaran sedari awal, menggenggam cahaya sejak semula, meyakini saat indera menyaksi sebaliknya. Tidak tenggelam dan terus berenang, meski dunia menghadirkan pilihan lain.

Meski filem menunjukkan dimana kebahagiaan, tetapi itu tetap filem. Kita punya petunjuk yang lebih dari itu, bukan filem, bukan pula apa yang dunia tunjukkan pada kita. Jika keduanya berlainan, sejauh mana kita meyakini apa yang tidak dunia tunjukkan itu. Bersabarlah melaluinya, meski rayuan bisikan membumbui keraguan. Yakin dan genggam eratlah itu. Nanti tidak akan segelap hari ini.

Tetaplah ditempatmu dengan apa yang menjadi pilihanmu, di atas kebenaran. semua orang mencari apa yang kau miliki, hanya tidak semua orang bersedia mengakui. Kegelapan masih mampu mengecohkan segalanya, kita hanya sedang menonton sebuah drama. Berbulan pun bisa jadi hanya dua jam. Betapa tertipunya jika kau jatuh karena ini.

Bershabarlah menanti akhir, kita tidak pernah luput dari PenglihatanNya, Yang Mahateliti. Biarkan kenampakkan memperlihatkan yang sebaliknya, itu hanya menambah nilai keyakinanmu dihadapanNya. Jangan berputus asa hanya karena kita tidak melihat pertolongan, apa yang Allah berikan lebih dari itu jika kita mampu menggunakan modal lain yang diberikanNya.

Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus... dan istiqamahkan kami di atasnya.
Allahu a'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar