Filem bisa menjadi bentuk lain dari hasrat manusia
akan dunianya. Limpahan angan yang tak kunjung berbuah. Kuncup yang tak kunjung
merekah. Dibangun khayalan, dijual angan-angan. Mencipta idola, menyuburkan apa
yang sebenarnya hampa demi memungkiri kenyataan. Hanya itu obat penawar,
katanya.
Menganggapnya nyata, adalah seperti sedang menipu diri. Mengganderungi
setengah mati sama artinya terjerembab dalam jebakan. Emosi mengendali, akal
sehat tiba-tiba lenyap. Nafsu merayap, semua dipaksa sesuai kehendak. Keinginan-keinginan
melambung, fanatik membutakan segala. Yang diidola nelangsa, yang diidola
sengsara. Tertipu semua, tetapi sandiwara belum selesai.
Memasang cita-cita seperti akhir cerita. Memuaskan diri
katanya, menenggak lautan sirup menghapus dahaga, katanya. Benarkah? Bukannya filem
dan dunia punya akhir? Akhir itulah awal segalanya, memulai kehidupan, ya. Kehidupan
nyata, setidaknya lebih nyata dari sesuatu yang memiliki akhir. Lalu kemana
penawar segala duka? Jika ubat telah habis, apalagi yang hendak dipenuhi? Jika tiada
lagi tempat bersembunyi kemana lagi akan berlari?
Mimpi telah kandas
bersamaan dengan berlalunya malam. Angan-angan meluap menyisakan bagian yang
harus dilalui, yang tak seorangpun mampu memungkiri. Beruntunglah yang membawa
kesadaran sedari awal, menggenggam cahaya sejak semula, meyakini saat indera
menyaksi sebaliknya. Tidak tenggelam dan terus berenang, meski dunia
menghadirkan pilihan lain.
Meski filem menunjukkan dimana kebahagiaan, tetapi itu tetap
filem. Kita punya petunjuk yang lebih dari itu, bukan filem, bukan pula apa
yang dunia tunjukkan pada kita. Jika keduanya berlainan, sejauh mana kita
meyakini apa yang tidak dunia tunjukkan itu. Bersabarlah melaluinya, meski
rayuan bisikan membumbui keraguan. Yakin dan genggam eratlah itu. Nanti tidak
akan segelap hari ini.
Tetaplah ditempatmu dengan apa yang menjadi pilihanmu, di
atas kebenaran. semua orang mencari apa yang kau miliki, hanya tidak semua
orang bersedia mengakui. Kegelapan masih mampu mengecohkan segalanya, kita
hanya sedang menonton sebuah drama. Berbulan pun bisa jadi hanya dua jam. Betapa
tertipunya jika kau jatuh karena ini.
Bershabarlah menanti akhir, kita tidak pernah luput dari
PenglihatanNya, Yang Mahateliti. Biarkan kenampakkan memperlihatkan yang
sebaliknya, itu hanya menambah nilai keyakinanmu dihadapanNya. Jangan berputus
asa hanya karena kita tidak melihat pertolongan, apa yang Allah berikan lebih
dari itu jika kita mampu menggunakan modal lain yang diberikanNya.
Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus... dan
istiqamahkan kami di atasnya.
Allahu a'lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar