Sudah begitu lama khabar menyampaikan
Dimana bahagia dan celaka berada
Termaktub dalam lembaran usang
Terukir tinta yang takkan hilang
Kau yang berdaya membentang!
Para tetua menangisimu
Andaikan usia bisa kembali
Niscaya dipenuhi apa yang terlewati
Ditepati segala sumpah dan janji
Sayang, hanya bisa menangisi,
Dirimu yang diambang penyesalan begitu lagi
Kau bilang masa yang cepat berlalu ini
Masa yang seharusnya dinikmati
Kau bilang waktu yang begitu cepat pergi
Patut dirayakan berkali-kali
Apa yang menjadi kabut di kelompak mata
Apa yang menjadi sumbatan akal sehat kita
Membiarkan waktu terulur
Memastikan diri terhibur
Perih sedikit kita enggan
Sakit sedikit kita mengaduh
Berbeda sedikit kita malu
Susah sedikit kita mengeluh
Apa yang kau banggakan, wahai..
Sampai kapan terus begini
Sedang waktu enggan berhenti
Tawa hanya berlaku di hari ini
Berselang masa berganti sepi
Kalaulah tau betapa beratnya,
Beban zaman di pundakmu hai pemuda
Kalaulah nampak di pelupuk pandang
Semalam jua tak habis kau tangisi
Sampai kapan kita tunda lagi?
Kebebasan diraih hanya dengan menghadapi
Apa yang dijanjikan takkan berubah
Menerima, mentaati, jalan kemuliaan hakiki
Sampai kita jumpai warisan tersembunyi
Yang ditinggalkan berselang abad masehi
Namun suluhnya masih jua menerangi
Zaman yang kian gelap ini
Jangan kau jadi pemuda
Penghalang cahaya benderang
Pemuda(r) jerih payah para pejuang
Pemadam kobaran jiwa
Yang sejak awal melekat dalam diri kita
Apa yang ditinggalkan Baginda dan ‘Ulama
Sudah cukup menjadi bekal utama
Siapkan diri berusah payah
Arungi samudera luas tanpa menyerah
Selami lautan dalam, bawalah mutiara
Lalui malam-malam dengan hidangan (ilmu) istimewa
Renung dan fikirkan segala tanda
Resapi segala makna
Jangan lelah hati dan lisan terus berdoa
Mudah-mudahan selamat raga dan jiwa!
Menemui kebebasan sebenarnya,
Menerima janji Allah Ta’ala..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar