Orang berbicara begini dan begitu. Mereka berharap harus begini dan
begitu. Dengan begini dan begitu, akan begini dan begitu. Dibandingkannya lah
kehidupannya dan kehidupan orang lain. Semakin banyak begini dan begitu. ia
lupa bahwa hidup adalah soal dirinya.
Kebahagiaan bukan bagaimana orang lain memandang dirinya, tapi
bagaimana diri memandang dirinya sendiri. Orang lain memandang dirinya bahagia
namun dirinya tidak merasa apa yang orang lain kira, buat apa. Bukankah ini
sudah terlalu banyak. Tidakkah cukup itu semua meyakinkan kita bahwa bukan itu,
bahagia.
Bahagia bukan seperti balapan motor yang saling menyusul untuk menjadi
yang terunggul, siapa yang nampak lebih bahagia. Tanpa adanya juara satu,
pemenang tetaplah ada. Bahagia tidak memilih mana yang lebih tampak bahagia.
Bahagia memilih siapapun yang menginginkannya. Tetapi sepertinya, lebih
banyak orang memilih tampak bahagia, daripada bahagia itu sendiri.
Lalu mengapa ada orang yang tidak begini dan begitu? Padahal dengan
begini dan begitu akan nampak bahagia. Mengapa ada yang begitu sangat lamban,
bahkan nampak berjalan di tempat? Sebab, tanpa harus terburu-buru, ia bisa meraihnya. Tanpa harus nampak bahagia. Ia bisa, bahagia. Orang lain tidak
memandangnya bahagia, namun ia merasakan sebaliknya, bagaimana?
Kita telah lama diperangkap kriteria bahagia yang semu. Bahagia harus
nampak kaya, bahagia harus nampak intelek, bahagia harus terkenal, bahagia
harus disegani dihormati segala rupa, bahagia harus begini dan begitu. Jika
tidak begini dan begitu maka tidak akan bahagia. Lalu betapa banyak orang kaya
raya nelangsa dan orang terkenal sengsara? Tidak juga ini cukup, kita masih
disibukkan dengan kompetisi yang kian menggila. Melakukan segala cara untuk
memenuhi kriteria bahagia. Kriteria bahagia yang ntah kapan disahkannya itu,
siapa yang meresmikannya hingga diri kita menjadikannya tujuan. Dijadikannya
seolah ini kompetisi buta, kita hanya disibukkan dengan orang lain dan
melupakan diri kita sendiri.
Sedangkan ada yang melalui hari jauh dari segala kriteria semu itu.
Tidak pernah tahu dan mahu tahu nasib mereka yang berebut “gelar bahagia” itu.
Tidak perlu tahu karena terlalu membuang waktu. Memperbaiki dirinya saja dari hari
ke hari sudah menguras konsentrasinya, memberi asupan lahir dan batinnya sudah
menyita begitu banyak waktu. Orang lain tidak membuatnya sibuk, meski mereka
terus sibuk menuntutnya harus begini dan begitu. Kau kejarlah sendiri, katanya.
Mungkin orang bahagia itu kaya, mungkin juga ia terkenal, dan mungkin juga ia terhormat, atau mungkin saja orang bahagia itu
kaya, terkenal, dan terhormat sekaligus. Tetapi apakah kebahagiaannya
karena kayanya, terkenalnya, terhormatnya? Bukankah nyata-nyata
bahagia juga dirasa mereka yang miskin, terkucil dan terhina? Tapi adakah yang mau menerima ini sebagai kriteria bahagia?
Manusia mudah terjatuh dalam kerisauan masa depan yang belum tentu
terjadi. Meski saat terjadi mungkin saja tidak semenakutkan apa yang sejak awal dikhawatirkan. Takut miskin, tidak terkenal, tidak terhormat, terhina. Bukankah fakta
menyampaikan pada kita mereka lebih takut itu semua daripada ketidakbahagiaan.
Jadi menjadi besarlah harapan bahwa bahagia ada pada sangkaan-sangkaan itu. Mereka tidak berani miskin, terhina, dan susah
meskipun bersamanya ada kebahagiaan.
Jadi, kaya, terkenal de el el itu kriteria bahagia atau kriteria nampak bahagia? Jika bahagia bisa lahir dalam kemiskinan, kehinaan, de el el itu, bukankah menjadi mungkin ketidakbahagiaan (kesengsaraan) lahir dalam kekayaan, kehormatan de el e itu? Lalu apa yang sebenarnya mereka pilih? Kebahagiaan dengan kriteria yang mereka reka sendiri, atau ketidakbahagiaan meski dengan begitu mereka nampak bahagia? Mari jawab :)
Jadi, kaya, terkenal de el el itu kriteria bahagia atau kriteria nampak bahagia? Jika bahagia bisa lahir dalam kemiskinan, kehinaan, de el el itu, bukankah menjadi mungkin ketidakbahagiaan (kesengsaraan) lahir dalam kekayaan, kehormatan de el e itu? Lalu apa yang sebenarnya mereka pilih? Kebahagiaan dengan kriteria yang mereka reka sendiri, atau ketidakbahagiaan meski dengan begitu mereka nampak bahagia? Mari jawab :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar