Kita sudah mafhum bahwa ilmu merupakan hal yang sangat mulia, berharga,
istimewa, dan utama. Sudah berulang kali kita dengar betapa agungnya ilmu itu,
sebab dengannya mulialah diri yang memeliharanya, menjaganya dan
mengamalkannya. Sebab dengannya bertambahlah diri mengenalnya dan segala
sesuatu yang menghampiri pandangan mata lahir dan bathinnya. Sebab dengannya
semakin cintalah diri terhadap Sang Penciptanya. Sungguh betapa mulia.
Kita juga telah mafhum bahwa segala hal yang berharga, didapat dengan
tidak mudah. Untuk menjadi kaya orang harus banting tulang, bekerja keras, pagi
dan malam, siang dan petang. Untuk menjadi orang yang terhormat, mungkin
mestilah ia merasakan sakitnya dihina, direndahkan, dikucilkan agar selamanya
namanya dikenang. Untuk menjadi besar haruslah ia melalui yang kecil dan
sedang, agar ia tahu apa makna besar, lebih besar, dan paling besar. Apatah lagi
untuk menjadi tempat bagi sesuatu yang paling mulia. Yang membawa bahagia di
dunia dan alam berikutnya.
Telah tertipu kita jika menganggapnya mudah saja. Jika sebagiannya
sudahlah terasa berat, apalagi seluruhnya. Terkecoh kita jika mengiranya ringan
saja. Bukankah yang tertinggi harus melalui dan melampaui yang lebih rendah
darinya. Jika segala hal dilakukan untuk bahagia dunia, tidakkah terkira
beratnya mendapatkan keduanya? Dunia dan akhirat jua. Lalu mengapa kita merasa
aman telah memilihnya? Merasa perlu mengeluh memperjuangkannya, sedangkan belum
satu langkahpun yang membuat kita pantas mendapatkannya.
Kesabaran. Jika itu jembatan tersulit, apakah kita tetap akan
melaluinya? Ataukah kita berundur surut dan diam-diam menghibur diri, bahwa
kita telah selamat? Lalu bagaimana dengan resiko sebagaimana hidup yang selalu
menyimpan cerita duka dibalik setiap suka. Jika yang rendah saja punya harga,
bagaimana lagi yang tinggi? Dan bagaimana lagi yang tertinggi? Tidakkah
seharusnya kau tangisi dirimu. Kau telah memilih jalan yang sukar lagi rumit,
dan selama langkah yang kau tapaki itu pula ada konsekuensi yang membayangimu. Mengapa
kau nyaman dengan keamanan yang kau rangkai sendiri?
Bukankah setiap kali bertambah ilmu, bertambah juga tanggung jawabmu?
Tanggung jawab mengamalkannya, tanggung jawab mengajarkannya, tanggung jawab
membersihkan hatimu, tanggung jawab menjaga niatmu, tanggung jawab menjadi diri
yang lebih baik karena ilmu yang lebih banyak dari sebelumnya, tanggung jawab
menggunakannya, tanggung jawab menghubungkannya dengan tujuanmu, tanggung jawab
menyimpannya di saat yang seharusnya, tanggung jawab memikirkannya, tanggung
jawab menempatkannya dari rangkaian ilmu yang kau terima lebih dulu. Jika
demikian adanya, patutkah kau berbangga atas sesuatu yang baru, yang baru saja
menjadi bebanmu.
Namun keberhentianmu untuk memungkirinya adalah bentuk konsekuensi
lain, konsekuensi dari tanggung jawab untuk terus menambahnya. Bahkan saat kau
menghindarinya, ia adalah jurang lain bagimu. Dan bahaya lainnya, saat semua
tanggung jawab itu kau abaikan karena ketidaksabaranmu. Ketidakcermatanmu,
ketidakpuasanmu, ketidaksanggupanmu, ketidakadilanmu. Ya, ketidakadilanmu.
Dalam menilai dirimu, mengukur kemampuanmu, mengelola akal dan hatimu. Hanya
untuk sebuah kesabaran, pantaskah kau menerimanya? Jika tidak, satu langkah pun
tidak. Jangan berharap kau bisa berada lebih tinggi.
Kesabaran yang membuatmu mengenal dirimu, mengetahui kehebatan akalmu
dan keluasan hatimu. Tidakkah dengan begitu akan semakin mengaguminya dirimu
akanNya? Jika tidak dengan itu, bagaimana kau mendapatkannya? Kau bilang ini
mudah?
Lalu betapa banyak yang mensiasati kesabarannya ini dengan
kesimpulan-kesimpulan palsu. Seakan-akan ia sudah meraih kesabaran tertinggi.
Sehingga tiba waktunya untuk menuai. Padahal belum ia ikuti apa yang ditelaah
akalnya, akalnya yang masih bekerja ia kira sudah berhenti. Hatinya yang masih
luas ia kira sudah bertepi. Ia membuat batas-batas sendiri, demi untuk
menganggap diri telah pantas dan berhasil. Ia tepikan segala kemungkinan yang
masih mungkin, ia menyerah pada kesimpulan yang terburu-buru. Ia lupa membesarkan
hati yang terasa begitu sempit, dipikirnya kejayaan sudah didepan mata.
Didapatlah apa yang lebih tinggi dari semua. Padahal menjadi kaya raya pun
tidak, menjadi terhormat pun belum, menjadi sedang pun masih cukup terlalu
jauh. Belum melampaui perjuangan untuk meraih semua itu tapi sudah merasa
meraih yang tertinggi dari semua itu. Betapa murahnya kalau begitu. Sedangkan
murah itu tidak berharga, dan bukan di sana tempat kemuliaan itu. Kemuliaan
tidaklah murah dalam pengertian nonmateril, bahkan materil.
Ulurlah terus tali kekangmu, kekang yang membatasi kesabaranmu.
Banyak-banyaklah merunduk dan menunduk karena di situ kemuliaan menjadi
misteri, jangan cepat mendongak meski itu membayar seluruh rasa sakitmu.
Tetaplah merunduk dan menunduk, bukan yang kau cari kemuliaan. Kau cari makanan
bagi jiwamu sendiri, gizi bagi batinmu. Yang bersamanya hadirlah kemuliaan itu.
Wallahu a’lam bishshawab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar