Pages

Selasa, 14 April 2015

Kesabaran menuntut Ilmu



Kita sudah mafhum bahwa ilmu merupakan hal yang sangat mulia, berharga, istimewa, dan utama. Sudah berulang kali kita dengar betapa agungnya ilmu itu, sebab dengannya mulialah diri yang memeliharanya, menjaganya dan mengamalkannya. Sebab dengannya bertambahlah diri mengenalnya dan segala sesuatu yang menghampiri pandangan mata lahir dan bathinnya. Sebab dengannya semakin cintalah diri terhadap Sang Penciptanya. Sungguh betapa mulia.

Kita juga telah mafhum bahwa segala hal yang berharga, didapat dengan tidak mudah. Untuk menjadi kaya orang harus banting tulang, bekerja keras, pagi dan malam, siang dan petang. Untuk menjadi orang yang terhormat, mungkin mestilah ia merasakan sakitnya dihina, direndahkan, dikucilkan agar selamanya namanya dikenang. Untuk menjadi besar haruslah ia melalui yang kecil dan sedang, agar ia tahu apa makna besar, lebih besar, dan paling besar. Apatah lagi untuk menjadi tempat bagi sesuatu yang paling mulia. Yang membawa bahagia di dunia dan alam berikutnya.

Telah tertipu kita jika menganggapnya mudah saja. Jika sebagiannya sudahlah terasa berat, apalagi seluruhnya. Terkecoh kita jika mengiranya ringan saja. Bukankah yang tertinggi harus melalui dan melampaui yang lebih rendah darinya. Jika segala hal dilakukan untuk bahagia dunia, tidakkah terkira beratnya mendapatkan keduanya? Dunia dan akhirat jua. Lalu mengapa kita merasa aman telah memilihnya? Merasa perlu mengeluh memperjuangkannya, sedangkan belum satu langkahpun yang membuat kita pantas mendapatkannya.

Kesabaran. Jika itu jembatan tersulit, apakah kita tetap akan melaluinya? Ataukah kita berundur surut dan diam-diam menghibur diri, bahwa kita telah selamat? Lalu bagaimana dengan resiko sebagaimana hidup yang selalu menyimpan cerita duka dibalik setiap suka. Jika yang rendah saja punya harga, bagaimana lagi yang tinggi? Dan bagaimana lagi yang tertinggi? Tidakkah seharusnya kau tangisi dirimu. Kau telah memilih jalan yang sukar lagi rumit, dan selama langkah yang kau tapaki itu pula ada konsekuensi yang membayangimu. Mengapa kau nyaman dengan keamanan yang kau rangkai sendiri?

Bukankah setiap kali bertambah ilmu, bertambah juga tanggung jawabmu? Tanggung jawab mengamalkannya, tanggung jawab mengajarkannya, tanggung jawab membersihkan hatimu, tanggung jawab menjaga niatmu, tanggung jawab menjadi diri yang lebih baik karena ilmu yang lebih banyak dari sebelumnya, tanggung jawab menggunakannya, tanggung jawab menghubungkannya dengan tujuanmu, tanggung jawab menyimpannya di saat yang seharusnya, tanggung jawab memikirkannya, tanggung jawab menempatkannya dari rangkaian ilmu yang kau terima lebih dulu. Jika demikian adanya, patutkah kau berbangga atas sesuatu yang baru, yang baru saja menjadi bebanmu.

Namun keberhentianmu untuk memungkirinya adalah bentuk konsekuensi lain, konsekuensi dari tanggung jawab untuk terus menambahnya. Bahkan saat kau menghindarinya, ia adalah jurang lain bagimu. Dan bahaya lainnya, saat semua tanggung jawab itu kau abaikan karena ketidaksabaranmu. Ketidakcermatanmu, ketidakpuasanmu, ketidaksanggupanmu, ketidakadilanmu. Ya, ketidakadilanmu. Dalam menilai dirimu, mengukur kemampuanmu, mengelola akal dan hatimu. Hanya untuk sebuah kesabaran, pantaskah kau menerimanya? Jika tidak, satu langkah pun tidak. Jangan berharap kau bisa berada lebih tinggi.

Kesabaran yang membuatmu mengenal dirimu, mengetahui kehebatan akalmu dan keluasan hatimu. Tidakkah dengan begitu akan semakin mengaguminya dirimu akanNya? Jika tidak dengan itu, bagaimana kau mendapatkannya? Kau bilang ini mudah?
Lalu betapa banyak yang mensiasati kesabarannya ini dengan kesimpulan-kesimpulan palsu. Seakan-akan ia sudah meraih kesabaran tertinggi. Sehingga tiba waktunya untuk menuai. Padahal belum ia ikuti apa yang ditelaah akalnya, akalnya yang masih bekerja ia kira sudah berhenti. Hatinya yang masih luas ia kira sudah bertepi. Ia membuat batas-batas sendiri, demi untuk menganggap diri telah pantas dan berhasil. Ia tepikan segala kemungkinan yang masih mungkin, ia menyerah pada kesimpulan yang terburu-buru. Ia lupa membesarkan hati yang terasa begitu sempit, dipikirnya kejayaan sudah didepan mata. Didapatlah apa yang lebih tinggi dari semua. Padahal menjadi kaya raya pun tidak, menjadi terhormat pun belum, menjadi sedang pun masih cukup terlalu jauh. Belum melampaui perjuangan untuk meraih semua itu tapi sudah merasa meraih yang tertinggi dari semua itu. Betapa murahnya kalau begitu. Sedangkan murah itu tidak berharga, dan bukan di sana tempat kemuliaan itu. Kemuliaan tidaklah murah dalam pengertian nonmateril, bahkan materil.

Ulurlah terus tali kekangmu, kekang yang membatasi kesabaranmu. Banyak-banyaklah merunduk dan menunduk karena di situ kemuliaan menjadi misteri, jangan cepat mendongak meski itu membayar seluruh rasa sakitmu. Tetaplah merunduk dan menunduk, bukan yang kau cari kemuliaan. Kau cari makanan bagi jiwamu sendiri, gizi bagi batinmu. Yang bersamanya hadirlah kemuliaan itu.

Wallahu a’lam bishshawab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar