Pages

Rabu, 12 Agustus 2015

Tentangnya

Sutan namanya. Santri TPA Al-Iman, yang baru-baru ini mengejutkan siapapun yang mengenalnya. Lelaki kecil berperawakan agak gemuk dan tinggi badannya tidak setinggi teman-temannya itu telah cukup merebut perhatianku sejak awal bertemu. Bully-an teman-teman sepantarnya, posisi duduk yang berjauhan dengan teman-teman lelakinya, dan tangisan kuat sambil memegangi dadanya tentu saja menyita begitu besar perhatianku. Antara kasihan, sedih, heran dan bingung melihat dirinya, tetapi di atas semua perasaan itu, rasa banggaku padanya adalah yang lebih dominan. Bagaimana tidak? Sutan anak yang rajin di kelas TPA, aktif, selalu ingin lebih dulu dan periang, meskipun ini semua menjadi salah satu sebab dirinya ‘diasingkan’ oleh teman-teman TPAnya yang lain, apalagi alasannya kalau bukan cemburu? Tapi seringkali Sutan tidak peduli, sebelum bully an teman-temannya itu menjadi semakin menjadi. 

Sekali waktu Sutan menangis di sudut barisan santriwan santriwati TPA. Menangis dengan cukup keras dan lepas, sambil memegangi dadanya. Hingga saat adzan Ashar yang menandakan berakhirnya aktivitas belajar, ia tidak juga bergeming dengan tangis yang berusaha ia tahan, namun gagal. Kuhampiri hendak menanyakan keadaannya, apa yang dirasanya, apa yang terjadi, tapi gagal. Ia hanya diam sambil terus menangis, memegangi dadanya. Sambil memintanya minum air putih, kuelus-elus punggungnya berharap jika yang dirasakannya ialah sakit di dadanya, sakit itu semakin surut. Namun jika sakit itu ada pada hatinya, ia akan kandas. Memang tidak lama setelah itu, ia pun bangkit untuk mengambil wudhunya. Tanpa pernah memberitahu apa gerangan yang membuatnya nampak ‘semenderita’ itu, seperti apapun teman-teman meledeknya, ia tidak pernah nampak sesakit itu. Tidak, memang bukan karena ejekan mereka, tetapi hal lain. Ntah, guru-guru TPA lainnya pun tahu itu tanpa tahu penyebabnya, seperti diriku.

Pernah juga kudapati Sutan dan adiknya sedang menangis bersama di depan masjid, padahal semenit lalu sedang bersama teman-temannya yang lain bermain bedug. Saat kutanyakan kepada mereka berdua apa yang terjadi, mereka hanya terus menangis. “berantem ya?” tanyaku lagi yang disambut gelengan adik Sutan. Sambil duduk aku tunggu tangisnya mereda, dan kutanyakan kembali apa gerangan yang terjadi. Rupanya mereka berdua mendapat serangan pukulan dari teman-teman yang tadi bersama mereka, benar-benar tidak bisa diterima! Aku pun sontak berdiri hendak mengejar mereka yang mengintip dari dinding dengan jarak yang cukup jauh, dan bersamaan dengan itu mereka berlari berhamburan “lihat saja nanti!” kataku dalam hati. Kuhampiri lagi mereka untuk menenangkan sambil mengelus bagian yang kena pukul. Tidak lama, ketua DKM yang rumahnya berseberangan dengan masjid datang mendiamkan mereka dengan cara ‘bapak-bapak’. Hingga memastikan mereka tenang, kusuruh mereka pindah ke rumahku, tapi karena mereka menolak, kuberikan pilihan lain untuk pulang ke rumah mereka kembali, jawabannya hanya diam. Sampai tangis itu benar-benar berhenti, namun air mata masih menggelantung di sudut-sudut mata mereka bersama jalur air mata di sepanjang pipi mereka, mereka mulai berkemas memakai sandal mereka. Dan tidak lama kemudian pulang berduka menahan sesenggukan, ampas dari tangis yang cukup keras.

Baru-baru ini Sutan mengejutkanku dan pengajar TPA lainnya. Pasalnya, Sutan yang tidak pernah mau diminta adzan dengan pengeras suara masjid, pertama kalinya melakukan itu saat bulan Ramadhan kemarin. Saking tidak percaya dengan apa yang didengarnya, seorang pengajar TPA datang ke masjid hendak menyaksikan langsung apa yang didengarnya. Aku yang tinggal di rumah depan masjid tidak mengetahui sebelum pengajar TPA itu memberitahu dan menceritakan apa yang terjadi. Jadwal adzan harian memang dipegang oleh santri TPA Al-Iman sebagai ajang pembelajaran dan latihan mereka selesai kegiatan belajar TPA. Secara bergantian, berselang hari satu persatu santriwan TPA mengumandangkan adzan Ashar dengan pengeras suara masjid. Ada yang punya suara tinggi,, rendah, pelan, serak, tidak bernada, salah, lupa, bercanda, dan berbagai ‘model’ adzan lainnya. Tapi tidak dengan Sutan, dia tidak pernah mau diminta mengumandangkan adzan. Rupa-rupanya adzan pada ashar Ramadhan kemarin adalah buah latihan adzan nya dengan temannya yang langganan adzan itu, teman yang langganan mem bully nya. Sepemerhatianku, bully an mereka tidak pernah ngerembet kemana-mana, itulah anak-anak. Selesai mem bully, mereka bersahabat kembali, main sepeda, main bola, main layang-layang, sampai belajar adzan. Itulah anak-anak, dan kadang itu yang membedakan mereka dengan orang dewasa. Kembali ke cerita Sutan tadi. 

Cerita bersambung ke sekitar sebulan kemudian. Mendengar suara Sutan pada adzan Ashar tidak lagi menjadi hal yang istimewa, karena sudah biasa. Tetapi baru berselang hari kemarin, saat matahari sudah kembali keperaduannya menandakan hari menjelang mahghrib, aku bertemu Sutan di depan rumah. Sutan yang wajah, tangan dan kakinya sudah basah oleh air wudhu, Sutan yang sudah mengenakan lengkap peci, baju koko dan sarungnya. “Wah Sutan, udah siap adzan ya?” “ah, em, engga” “bagus-bagus, tos dulu dong” sahut diriku tanpa menghiraukan jawabannya. “dipertahankan ya!” kataku terakhir sebelum meninggalkannya. Dan benar saja, adzan maghrib kala itu datang dari suara yang kuyakin dikenali oleh penduduk dusun, suara yang sudah tidak asing lagi menggema di penjuru kampung, meresap terus ke bathin-bathin para penduduknya dan menyapa setiap makhluk yang mendengarnya. Suara Sutan. Yang bukan hanya kita dengar di saat Ashar menjelang, tetapi juga Maghrib. Hari itu selesai shalat maghrib berjama’ah dengan bunda dan adik-adik, kami mendengar lantunan shalawat yang sayup-sayup tapi cukup jelas untuk mengenali dan memastikan bahwa itu memang lantunan shalawat. Lantunan itu datang saat kami tengah berusaha khusuk dengan dzikir dan doa kami. Aku dan bunda saling memandang, sambil tersenyum hampir tertawa. Kusangka itu suara yang berasal dari seorang anak yang sedang berjalan melalui masjid, tetapi suara itu tidak juga berhenti malah semakin jelas karena agak bergema. Karena penasaran, seorang adikku keluar rumah hendak melihat pemilik suara tersebut, sambil kuceritakan pada bunda kisah Sutan karena memang dugaanku itu suaranya. Dan benar saja, saat kembali adikku melaporkan memang itu suara Sutan. Dendangan shalawat itu tidak berhenti malah semakin jelas dan semakin panjang. Aku pun terpanggil untuk juga melihatnya. Sambil masih mengenakan mukena, kuhampiri pintu masjid diam-diam, khawatir Sutan melihatku dan berhenti bersenandung karena malu ketahuan diam-diam diperhatikan. Saat kudapati sosoknya yang tengah berputar-putar di dalam masjid sendirian, sambil memegangi sapu dengan terbalik  diiringi senandung shalawatnya yang terus menerus, aku bedecak kagum dalam hati dengan senyum yang semakin melebar hampir tertawa. Kulihat bunda juga sedang memperhatikan diam-diam tingkah Sutan dibelakangku. sebentar lantas kami masuk kembali ke rumah menikmati lantunan shalawatnya yang memantul dinding masjid dan keluar memalui sela-sela jendela. “nunggu waktu Isya’ mau adzan lagi ya nda?” tanyaku pada bunda hendak memastikan apa yang kuperkirakan sama dengan perkiraan bunda “iya, kayaknya” “semoga anak-anak seperti Sutan ini terus bisa dididik dengan betul biar jadi masa depan sawah bera ya nda.” 

Beberapa menit kemudian, terdengar suara pengeras suara dibuka dan keluarlah pecahan suara Sutan yang kembali mengguyur dusun kami. Dan semoga bersamanya ada keberkahan yang menelusup dalam hati-hati yang menghayatinya. Ikut senang mendengarnya, mungkin sesenang hatinya menyambut tibanya saat-saat yang begitu dinanti. Ah, Sutan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar