Sutan namanya. Santri TPA Al-Iman, yang baru-baru ini
mengejutkan siapapun yang mengenalnya. Lelaki kecil berperawakan agak gemuk dan
tinggi badannya tidak setinggi teman-temannya itu telah cukup merebut
perhatianku sejak awal bertemu. Bully-an teman-teman sepantarnya, posisi
duduk yang berjauhan dengan teman-teman lelakinya, dan tangisan kuat sambil
memegangi dadanya tentu saja menyita begitu besar perhatianku. Antara kasihan,
sedih, heran dan bingung melihat dirinya, tetapi di atas semua perasaan itu,
rasa banggaku padanya adalah yang lebih dominan. Bagaimana tidak? Sutan anak
yang rajin di kelas TPA, aktif, selalu ingin lebih dulu dan periang, meskipun
ini semua menjadi salah satu sebab dirinya ‘diasingkan’ oleh teman-teman TPAnya
yang lain, apalagi alasannya kalau bukan cemburu? Tapi seringkali Sutan tidak
peduli, sebelum bully an teman-temannya itu menjadi semakin menjadi.
Sekali waktu Sutan menangis di sudut barisan santriwan
santriwati TPA. Menangis dengan cukup keras dan lepas, sambil memegangi
dadanya. Hingga saat adzan Ashar yang menandakan berakhirnya aktivitas belajar,
ia tidak juga bergeming dengan tangis yang berusaha ia tahan, namun gagal.
Kuhampiri hendak menanyakan keadaannya, apa yang dirasanya, apa yang terjadi,
tapi gagal. Ia hanya diam sambil terus menangis, memegangi dadanya. Sambil
memintanya minum air putih, kuelus-elus punggungnya berharap jika yang
dirasakannya ialah sakit di dadanya, sakit itu semakin surut. Namun jika sakit
itu ada pada hatinya, ia akan kandas. Memang tidak lama setelah itu, ia pun
bangkit untuk mengambil wudhunya. Tanpa pernah memberitahu apa gerangan yang
membuatnya nampak ‘semenderita’ itu, seperti apapun teman-teman meledeknya, ia
tidak pernah nampak sesakit itu. Tidak, memang bukan karena ejekan mereka,
tetapi hal lain. Ntah, guru-guru TPA lainnya pun tahu itu tanpa tahu
penyebabnya, seperti diriku.
Pernah juga kudapati Sutan dan adiknya sedang menangis
bersama di depan masjid, padahal semenit lalu sedang bersama teman-temannya
yang lain bermain bedug. Saat kutanyakan kepada mereka berdua apa yang terjadi,
mereka hanya terus menangis. “berantem ya?” tanyaku lagi yang disambut gelengan
adik Sutan. Sambil duduk aku tunggu tangisnya mereda, dan kutanyakan kembali
apa gerangan yang terjadi. Rupanya mereka berdua mendapat serangan pukulan dari
teman-teman yang tadi bersama mereka, benar-benar tidak bisa diterima! Aku pun
sontak berdiri hendak mengejar mereka yang mengintip dari dinding dengan jarak
yang cukup jauh, dan bersamaan dengan itu mereka berlari berhamburan “lihat
saja nanti!” kataku dalam hati. Kuhampiri lagi mereka untuk menenangkan sambil
mengelus bagian yang kena pukul. Tidak lama, ketua DKM yang rumahnya
berseberangan dengan masjid datang mendiamkan mereka dengan cara ‘bapak-bapak’.
Hingga memastikan mereka tenang, kusuruh mereka pindah ke rumahku, tapi karena
mereka menolak, kuberikan pilihan lain untuk pulang ke rumah mereka kembali,
jawabannya hanya diam. Sampai tangis itu benar-benar berhenti, namun air mata
masih menggelantung di sudut-sudut mata mereka bersama jalur air mata di
sepanjang pipi mereka, mereka mulai berkemas memakai sandal mereka. Dan tidak
lama kemudian pulang berduka menahan sesenggukan, ampas dari tangis yang cukup
keras.
Baru-baru ini Sutan mengejutkanku dan pengajar TPA lainnya. Pasalnya,
Sutan yang tidak pernah mau diminta adzan dengan pengeras suara masjid, pertama
kalinya melakukan itu saat bulan Ramadhan kemarin. Saking tidak percaya dengan
apa yang didengarnya, seorang pengajar TPA datang ke masjid hendak menyaksikan
langsung apa yang didengarnya. Aku yang tinggal di rumah depan masjid tidak
mengetahui sebelum pengajar TPA itu memberitahu dan menceritakan apa yang
terjadi. Jadwal adzan harian memang dipegang oleh santri TPA Al-Iman sebagai
ajang pembelajaran dan latihan mereka selesai kegiatan belajar TPA. Secara
bergantian, berselang hari satu persatu santriwan TPA mengumandangkan adzan
Ashar dengan pengeras suara masjid. Ada yang punya suara tinggi,, rendah,
pelan, serak, tidak bernada, salah, lupa, bercanda, dan berbagai ‘model’ adzan
lainnya. Tapi tidak dengan Sutan, dia tidak pernah mau diminta mengumandangkan
adzan. Rupa-rupanya adzan pada ashar Ramadhan kemarin adalah buah latihan adzan
nya dengan temannya yang langganan adzan itu, teman yang langganan mem bully
nya. Sepemerhatianku, bully an mereka tidak pernah ngerembet
kemana-mana, itulah anak-anak. Selesai mem bully, mereka bersahabat
kembali, main sepeda, main bola, main layang-layang, sampai belajar adzan. Itulah
anak-anak, dan kadang itu yang membedakan mereka dengan orang dewasa. Kembali ke
cerita Sutan tadi.
Cerita bersambung ke sekitar sebulan kemudian. Mendengar suara
Sutan pada adzan Ashar tidak lagi menjadi hal yang istimewa, karena sudah
biasa. Tetapi baru berselang hari kemarin, saat matahari sudah kembali
keperaduannya menandakan hari menjelang mahghrib, aku bertemu Sutan di depan
rumah. Sutan yang wajah, tangan dan kakinya sudah basah oleh air wudhu, Sutan
yang sudah mengenakan lengkap peci, baju koko dan sarungnya. “Wah Sutan, udah
siap adzan ya?” “ah, em, engga” “bagus-bagus, tos dulu dong” sahut diriku tanpa
menghiraukan jawabannya. “dipertahankan ya!” kataku terakhir sebelum
meninggalkannya. Dan benar saja, adzan maghrib kala itu datang dari suara yang
kuyakin dikenali oleh penduduk dusun, suara yang sudah tidak asing lagi menggema
di penjuru kampung, meresap terus ke bathin-bathin para penduduknya dan menyapa
setiap makhluk yang mendengarnya. Suara Sutan. Yang bukan hanya kita dengar di
saat Ashar menjelang, tetapi juga Maghrib. Hari itu selesai shalat maghrib
berjama’ah dengan bunda dan adik-adik, kami mendengar lantunan shalawat yang
sayup-sayup tapi cukup jelas untuk mengenali dan memastikan bahwa itu memang
lantunan shalawat. Lantunan itu datang saat kami tengah berusaha khusuk dengan
dzikir dan doa kami. Aku dan bunda saling memandang, sambil tersenyum hampir
tertawa. Kusangka itu suara yang berasal dari seorang anak yang sedang berjalan
melalui masjid, tetapi suara itu tidak juga berhenti malah semakin jelas karena
agak bergema. Karena penasaran, seorang adikku keluar rumah hendak melihat
pemilik suara tersebut, sambil kuceritakan pada bunda kisah Sutan karena memang
dugaanku itu suaranya. Dan benar saja, saat kembali adikku melaporkan memang
itu suara Sutan. Dendangan shalawat itu tidak berhenti malah semakin jelas dan
semakin panjang. Aku pun terpanggil untuk juga melihatnya. Sambil masih
mengenakan mukena, kuhampiri pintu masjid diam-diam, khawatir Sutan melihatku
dan berhenti bersenandung karena malu ketahuan diam-diam diperhatikan. Saat kudapati
sosoknya yang tengah berputar-putar di dalam masjid sendirian, sambil memegangi
sapu dengan terbalik diiringi senandung
shalawatnya yang terus menerus, aku bedecak kagum dalam hati dengan senyum yang
semakin melebar hampir tertawa. Kulihat bunda juga sedang memperhatikan
diam-diam tingkah Sutan dibelakangku. sebentar lantas kami masuk kembali ke
rumah menikmati lantunan shalawatnya yang memantul dinding masjid dan keluar
memalui sela-sela jendela. “nunggu waktu Isya’ mau adzan lagi ya nda?” tanyaku
pada bunda hendak memastikan apa yang kuperkirakan sama dengan perkiraan bunda “iya,
kayaknya” “semoga anak-anak seperti Sutan ini terus bisa dididik dengan betul
biar jadi masa depan sawah bera ya nda.”
Beberapa menit kemudian, terdengar suara pengeras suara
dibuka dan keluarlah pecahan suara Sutan yang kembali mengguyur dusun kami. Dan
semoga bersamanya ada keberkahan yang menelusup dalam hati-hati yang
menghayatinya. Ikut senang mendengarnya, mungkin sesenang hatinya menyambut
tibanya saat-saat yang begitu dinanti. Ah, Sutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar