Jika setiap orang menuntut untuk dimengerti, siapa yang
sebenarnya paling berhak untuk dimengerti? Jika setiap orang punya masalah
dalam hidupnya masing-masing, siapa yang paling pantas merasa paling
bermasalah? Jika setiap orang punya kesedihan yang dilaluinya, apakah terlihat
bahagia itu berarti kesedihan itu tiada? Jika Tuhan sudah memberi kadar bagi
ujian setiap orang, pada siapa sebenarnya kita mengarahkan kemarahan kita? Jika
setiap manusia memiliki perasaan yang sama, perhatian siapa yang kita tuntut
sebenarnya? Jika kita meyakini ke Maha Adilan Tuhan, atas dasar apa kita
membandingkan kehidupan kita? Apakah kita merasa lebih tahu dariNya?
Kalau saja setiap kali ingin menuntut perasaan kita
dimengerti, lebih dulu kita menyadari tuntutan hal yang sama pada diri kita.
Kalau saja setiap kali ingin membandingkan hidup, kita cari
kemungkinan-kemungkinan yang mungkin tidak kita ketahui. Kalau saja disetiap senyum
dan kegembiraan manusia, kita renungi baik-baik bahwa itu hasil perjuangan mereka.
kalau saja kita tahu bahwa masalah kita belumlah seberapa. Kalau saja kita
tahu, bahkan banyak yang lebih menderita dari kita. Kalau saja-kalau saja,
niscaya bukan keluh yang terlontar, namun rasa malu yang besar.. Apakah keadilan
Tuhan tidak cukup juga? Atau kita tidak benar-benar meyakininya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar