Pages

Sabtu, 19 Desember 2015

Penawar derita

Ada yang menepis dukanya dengan memperbanyak tawa, kiranya itu bisa menjadi teman saat dirinya menyangka, ia dalam kesepian.

Ada yang mengalihkan kegelisahannya dengan membiarkan dirinya hanyut dalam derama, cerita-cerita rekaan yang hanya berdurasi dua jam, atau bahkan lebih singkat daripada itu. Habisnya hanya akan menagih cerita berikutnya.

Ada yang berusaha menghilangkan derita dengan derita lainnya, racun dia kira obat yang akan memusnahkan rasa sakitnya.

Ada juga yang merasa bisa membeli ketenangan dengan harga murah. Dia lari ke ujung dunia, berpindah ke tempat lainnya. Tetapi yang dia lupa, selama hatinya dibawa, nestapa itu hadir bersama.

Bahkan ada yang menyangka, obat bagi pedih jiwanya, ada dalam ketidaksadaran. Dia kira bersamaan dengan kesadarannya, jerit jiwanya terbang bersama. Rupanya ada yang tetap tinggal, bahkan bertambah banyak saat kesadarannya datang kembali.

Bagi mereka hidup mungkin tragedi. Bukan karena bahagia itu tidak ada, tetapi mereka berusaha terus mengingkarinya. Agar selalu punya alasan untuk berbuat sesukanya. Sungguh kita jangan begini,

Ketidaksiapan mereka mengunjungi tempat bahagia, sebenarnya hanya menampakkan keangkuhan dan kemalasan. Mereka lebih siap menjumpai rasa sakit, meskipun itu bukan lagi rahasia. Sungguh, kita jangan begini.

Akankah bisa kita dapati mutiara asli tanpa menyelami gelapnya dasar laut?

Jika hanya ada satu jalan menemui tujuan, tidak usah coba-coba jalan lainnya. Apalagi membuka jalur sendiri padahal seluruh tanda dalam peta mengarah padanya. Tidak perlu juga pura-pura tidak sanggup padahal kaki masih mampu menapak, lambung dan paru-paru masih bekerja. Tidak perlu. Masuki dan hadapilah. Tanpa itu, tujuan hanya sebatas angan-angan dan kita terus saja mencari cara mengingkarinya. 

Jika hanya dengan melaluinya, maka laluilah. Jika bekal kita hanya dengan ‘percaya’, maka peganglah itu sampai akhir, bisa jadi itu kekuatan sebenarnya.


Tidak perlu pura-pura menghibur diri yang membuat hidup ini bagai tragedi, lalui, hadapi, dan temui apa yang pada akhirnya (harus dan pantas) kita jumpai. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar