Atas penderitaanmu di malam ini, tidur di bawah atap bolong
tanpa selimut dan baju hangat. Hanya kaos usang yang kuyup dan celana lembab
yang sudah robek disana-sini. Aku berempati saat mengingatnya, tetapi lebih
sering aku gagal mengingat. Betapa sulit mengingat di atas kasur empuk, seprai
harum dan selimut hangat, kawan.
Atas perut keroncongan yang kau bawa kemana-mana, perih
lambung yang kau pelihara berhari-hari, kau ajak kesana kemari. Dan menjadi
semakin perih dikala nanar tatap matamu menangkapi sisa sisa ayam goreng tepung
di pinggir jalanan, yang si angkuh buang sembarangan. Kalaulah mereka tahu
setiap sisa yang terbuang itu adalah kelezatan yang tak pernah kau bayangkan.
Atas setiap lelah yang kau rasa. Berharap mata bisa terpejam
barang sebentar --dimana saja. Telapak kaki yang semakin panas dan kulit yang
terasa hangus. Tetapi jika kau ingat harga satu menit sama dengan satu kali
makan, maka enggan kau kabulkan. Lebih baik kau telan lelah itu sampai tak kau
kenali lagi pedihnya. Demi kau bawa pulang sebungkus nasi untuk anak-anakmu.
Tetapi si tamak, membuang hari-harinya untuk bersenang-senang. Meski sekali
makannya seharga lelahmu sepanjang tahun, uang tetap membukit di rekening toh jikapun berkurang, uang rakyat lah
penggantinya.
Atas kekhawatiranmu menunggu SETIAP pagi datang, kau
habiskan waktu istirahatmu menegakkan rukuk-sujud malam. Meminta dan berserah
kepada Yang Maha Kuasa. Tidak mengapa menahan kantuk, asalkan hati tenang dan
lapang setelahnya. Sehingga siap kau hadapi, periuk kosong esok hari. Sebab
sujudmu memberi keyakinan, Allah tidak pernah lupa memberi rezeki. Namun, si pendengkur.
Melewatkan malam dan pagi dengan perut kenyang. Kupingnya terlalu tuli
mendengar 2 kali panggilan adzan. Tidurlah tidur, hanya dengan demikian
gelisahnya hilang sebentar.
Kawan, kalau lah ada yang tahu tingkat lelah yang kau rasa.
Apa ada yang mampu terpejam saat kau menemui terik panas matahari seorang diri?
Kalau terasa perih lambungmu yang tiada tara, adakah yang mau tenggelam dalam
kenyang berhari-hari? Kalau tahu rasanya udara malam yang menggingit tulang rusukmu hingga nadi, adakah yang merasa aman dengan kamar nyaman-mewahnya
sampai pagi? Kalau tahu berapa besar nilai seribu rupiah bagimu, akan adakah yang ‘sanggup’ menghabiskan miliaran rupiah untuk jam tangan ke lima belas,
atau tas kulit ke tiga puluh lima?
Syukurlah kawan, ini dunia!
Semuanya sebentar saja. Sungguh-sunguh sebentar saja. Ia
hanya datang lebih dulu, tetapi ingat Firman Tuhan kita, “walal aakhiratu khayrul-laka minal uulaa (dan sungguh, yang
kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan)”.
Nikmati, Kawan. jangan berhenti. Biarkan saja mereka yang
sudah menukar lebih dulu akhir yang (seharusnya) lebih baik. Sebab dengan sakit
dan lelahmu itu, kau bayar kebahagiaan akhir yang ABADI. Tidak seberapa,
sungguh tidak seberapa. Ulurkan kesabaranmu sekejap lagi, sekejap lagi saja.
*tulisan yang dibuat karena kelemahanku bahkan hanya untuk
selama lima menit membayangkan rasa sakit mereka. Semoga dapat sedikit menambal
kelalaianku. Pada Allah jua, kumohonkan ampunan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar