Sulit bagi kita untuk benar-benar bersyukur, syukur yang bukan hanya
sekedar ucapan tetapi lebih dari itu ialah mensyukuri apa yang kita dapat
dengan benar-benar memanfaatkannya. Mungkin jika sesuatu itu berwujud benda
yang kita inginkan, akan kita gunakan dengan sebaik-baiknya, seperti baju baru,
tas baru, handphone baru, terutama memang segala yang baru. Tetapi bagaimana
dengan sesuatu yang kita dapatkan setiap hari tanpa kita minta meskipun itu hal
yang lebih kita butuhkan daripada setiap benda-benda yang kita inginkan,
seperti: kehidupan, oksigen, air minum, waktu luang, harta, sampai tidur.
Kesemuanya adalah kebutuhan pokok kita yang bisa kita peroleh dengan mudah,
bukan cuma mudah tapi bahkan selalu kita dapat dalam kondisi baru. Waktu baru,
oksigen baru, air baru, dan lainnya. Kenapa kita tidak dapat lebih mensyukuri
ini semua daripada ketika mendapat benda-benda yang kita inginkan? Apakah
karena ini semua berlimpah sehingga tinggal kita terima? Berlimpah dan didapat
tanpa meminta, bersusah payah, kerja keras? Mungkin ini sebabnya kita jadi
kurang mensyukuri nikmat-nikmat yang begitu dekat dengan kita, datang setiap
waktu dan diberikan secara cuma-cuma.
Pendahulu kita mengatakan, nikmat itu baru dapat kita sadari setelah
hilangnya. Memang demikian adanya, gigi baru kita syukuri setelah sakit gigi,
sehat baru kita hargai setelah jatuh sakit, dsb. Begitu juga waktu luang.
Setelah kita menyadari bahwa banyak hal yang ternyata harus kita kerjakan,
terlalu banyak kewajiban yang harus kita tuntaskan dibandingkan waktu yang ada,
kita akan menyesal telah banyak menyia-nyiakan waktu. Barulah terasa nikmat itu
setelah hilangnya. Oleh karenanya, kita harus selalu berusaha mengingat
kehilangan di saat kita lapang, dengan cara memperhatikan orang lain. Orang
yang lebih sulit daripada kita, orang yang tidak diberi kelapangan seperti
kita, karena orang-orang ini selalu ada. Hanya kembali kepada kita mau atau
tidak mencari dan mendekatkan diri pada mereka. Semata-mata agar kita
menyadari dan mengingat, bahwa setiap kelebihan yang kita dapat, ialah karena
ada kekurangan yang harus kita isi. Jadi ketika kita berlebih mendapatkan
sesuatu, tidak lain karena ada yang membutuhkannya. Baik itu waktu, harta,
kesehatan, kecerdasan, kekuatan. Jika tidak, maka bisa jadi kita telah merampas
hak orang lain yang sebenarnya ada pada kita. Namun, kita sangka itu sebagai
kelebihan yang bisa kita nikmati. Seorang diri, sesuka hati.
Adakah yang lebih menderita daripada rakyat Palestina hari ini? Mungkin
saat ini, hak mereka yang paling banyak terenggut bahkan terampas oleh
manusia-manusia lain. Hak akan harta mereka, hak atas waktu mereka, hak atas
suara mereka, hak atas keluarga mereka, bahkan hak hidup mereka! Lantas, apakah
kita dapat menikmati kelebihan-kelebihan yang tersedia di hadapan kita ketika
manusia di muka bumi lainnya menggunakan apa saja bahkan hanya untuk bisa
bertahan hidup? Apakah terpikir bagi mereka untuk membeli pakaian baru, makan
di restoran yang mewah, menonton film apa, pergi ke mall mana, dan
pilihan-pilihan lain yang saat ini masih dapat kita pilih. Bahkan memenuhi
hampir sebagian besar ruang pikir kita. sampai kita lupa ada saudara yang
merana di luar sana.
Apakah kita harus datang ke Palestina untuk dapat meyakini kesulitan
yang mereka hadapi? Apakah kita harus berkunjung ke sana dulu baru dapat
menyadari kenikmatan yang ada pada diri kita? kelebihan yang dititipkan pada
kita. apakah kita harus bertemu dengan mereka baru kita sadari hidup kita hanya
main-main dan berisi kesenangan semata. Mungkin benar, dengan melihat dan menyaksikan
penderitaan mereka dengan mata kepala, kita baru akan sadar atas hidup kita
sendiri. Sebab mereka adalah cermin yang akan memperlihatkan wujud diri kita
yang sebenarnya.
Tetapi, apabila saat ini kita belum bisa pergi mengunjungi Palestina,
berusaha lah agar hati kita ada bersama mereka. Hati kita mengingat kesulitan
mereka. Hati kita menyaksikan genangan air mata dan darah yang tumpah dari
tubuh mereka. Hati kita mengingat di setiap waktu. Memang tidak mudah dari
sekian kesibukan yang kita hadapi. Dari segala urusan dunia yang menyibukkan
hati. Tapi jika kita tidak berjuang untuk ini, dengan apa kita dapat melihat
kelebihan yang kita miliki? Kelebihan waktu, kelebihan uang, kelebihan tawa.
Yang jika dihadapkan dengan kondisi mereka, itu bukan lagi sebuah kelebihan.
Karena mereka bukan saja kekurangan atas itu semua di hari ini, tetapi bahkan
mereka tidak memilikinya sama sekali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar