Tanpa ilmu. Tiada keteguhan itu. Sebab ilmu menghasilkan
keyakinan. Semakin jelas keyakinan, semakin kuat keteguhan. Kejelasan keyakinan
bahkan mampu melebihi kejelasan panca indera. Keyakinan mewujud menjadi
penglihatan lain. ‘Penglihatan lain’ ini dipupuk dengan ilmu. Tidak dengan yang
lain. Tidak dengan semangat. Tidak dengan seruan. Tidak dengan janji atau
sumpah. Sehingga yang seharusnya kita percayai adalah orang-orang berilmu. Mereka
teguh. Karena mereka tahu. Pengetahuan mereka tumbuh, lalu menjadi pasak aksi-aksi
mereka. Tidak peduli apakah ada yang mengikuti dan mempercayai. Satu dengan seratus
orang sama saja. Sebab mereka melaju karena ilmu, bukan karena mereka yang
berada di belakang mereka. Orang yang memiliki keyakinan tidak pernah kesepian.
Meski seorang diri menempuh perjalanan. Karena jalan mereka adalah jalan
kebenaran. Cepat atau sangat lambat, akan ada yang mengikuti. Meski mengambil
tempo yang sangat lama dalam kesendirian, pikiran dan jiwa mereka tidak pernah
sepi dari kesibukan. Sibuk menancapkan pasak untuk tiang-tiang amal mereka. Mereka
terlalu hidup dari yang hidup atau merasa sedang hidup. Langkah mereka berat
oleh keyakinan. Karenanya sulit diikuti, apalagi disaingi. Kadang mereka nampak
tidak peduli, oleh sebab berita yang telah menjadi basi di mata batin mereka
tetapi baru disadari mata kepala manusia lainnya. Hati mereka waspada siang dan
malam, ramai dan tenang. Bagaimana bisa orang-orang yang menghujani mereka
dengan sangkaan dan tuduhan, adalah mereka yang tertidur saat malam dan lalai
saat siang. Bukankah orang-orang seperti ini telah tertinggal jauh, oleh
langkah yang terus berjalan di siang dan malam hari. Alangkah sabar gerangan
dirinya. Mungkin lautanpun menjadi sempit dibandingkan hatinya. Alangkah sabar
gerangan diri. ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang beruntung dapat
mengenali mereka, dan kuatkan kami mengikuti langkah mereka, meski keyakinan
kami tidak senyata mereka.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar