Pages

Senin, 12 Februari 2018

Apa yang pernah menjadi baru, tidak akan pernah menjadi bekas

Mengenalmu pernah menjadi hal yang begitu membahagiakan untukku, membuat waktuku terasa begitu bermanfaat (atau lebih tepat tidak merasa waktuku terbuang sia-sia) dan mendatangkan semangat dalam aliran darahku ketika kita akan bertemu. Aku pernah sangat bersyukur berkenalan denganmu, menjadi bagian dalam hari-hari pekan-pekan bulan-bulan kehidupanmu. Sehingga kupikir, rasa demikian itu tidak akan berubah dan selamanya aku takut membuatmu marah dan kecewa. Aku pernah dengan sengaja memandang lekat-lekat wajahmu, berfikir apakah perasaan yang kau miliki pun sama. Kadang aku berpikir sama, kadang aku juga sangsi dengan dugaanku. Tidak terlalu meyakininya, tetapi aku tidak risau meskipun kita tidak pernah berencana membuat janji setia. Sebab perasaan ini akan dengan sendirinya mengikat hati-hati kita. Jadi tidak perlu kukhawatirkan hari di depan, tidak perlu untukku memikirkan apakah rasa yang begitu membuncah dan memenuhi dadaku akan pernah berkurang sampai habis.

Lalu pada hari atau tahun kesekian, kita sudah begitu saja ditelan kesibukan. Kesibukan menjadikan perpisahan tidak punya pilihan. Dan kita toh dengan rela menerima, bahkan tanpa sempat memperhatikan masihkan tersisa rasa yang dulu pernah membuatku hampir tidak bisa bernafas saking gembira. Tidak aku- mungkin juga dirimu, sama-sama merasa perlu untuk membicarakannya karena memang prasangka sudah kita terima sebagai keyakinan. Syukurnya, ini membuat perpisahan terasa tidak berat. Bukan karena kelegowoan kita, karena memang perasaan kita sudah tidak sama seperti beberapa waktu lalu. Rupanya perpisahan menghabiskan apa yang tersisa, kawan. Seperti kulit balon yang semakin menipis karena dibawa oleh angin, mengeluarkan seluruh isinya tanpa harus dilubangi lebih dulu. Hanya soal waktu. Apakah begitu, ya?

Bukan saja perasaan itu kandas tanpa bekas, tetapi bahkan terisi dan dipenuhi dengan sesuatu yang lain. Bukankah hati kita memang tidak akan bisa mengempis, melainkan berganti isi. Rupanya balon bukan analogi yang tepat. Dan kau tau, sekarang yang mengisinya adalah sesuatu yang sebaliknya. Ditambah jarak yang benar-benar kita biarkan semakin menjauh membuat perubahan nampak semacam perlawanan, perlawanan yang mengundang amarah karena rasa yang demikian lama sudah tidak lagi tersisa. Dan enggan pula kita mengingat-ingat apa yang pernah kita curahkan segenap daya melalui sebagian usia kita sehingga kita mencapai hari ini. Adakah semuanya sia-sia? Datang begitu saja untuk pergi selamanya? Atau bahkan datang hanya agar kita melalui masa-masa remaja kita, masa-masa muda kita lalu setelah semuanya belalu dengan mudah dikutuki kita di hari ini? Tidakkah terlalu mahal itu semua jika yang kita beli hanya kenangan? apatah lagi.. penyesalan?

Kau tahu kawan, bagiku semuanya terlalu berharga untuk hanya sekedar menjadi pengalaman. Adakah bukan dengan tujuan Tuhan mempertemukan kita dan memberi kita kesempatan menjadi begitu gembira, satu dengan yang lain? Perasaan yang didamba semua umat manusia, yang rela dicari meski harus ke ujung dunia. Apakah berlalunya waktu menjadikan kita pantas menghapusnya? Apakah kesibukan menjadi bayaran setimpal untuk sepenuhnya kita melupakan? Apalagi berharap kita hendak meninggalkan sedikit saja sisa perasaan itu, untuk tidak habis sepenuhnya.  Sehingga masih ada rasa senang (meski sedikit) ketika kita berencana hendak berjumpa. Harapan yang terlalu muluk sepertinya, melihat keadaan kita. ataukah pertemuan bahkan telah menjadi sebuah ancaman, “sesuatu yang menakutkan”? Jika demikian, alangkah! bayaran seperti apa yang telah sanggup menggantikannya dengan sesuatu yang (selintas saja) tidak pernah ingin kita bayangkan di masa lalu?


Jika kau rasakan hal demikian saat hendak berjumpa denganku, kawan. Mungkin artinya aku telah gagal membaca petunjuk Tuhan yang diberikan-Nya melalui dirimu. Bisa jadi itu hal paling berdosa, yang dilakukan seorang teman. Tegurlah aku sehingga aku mau meluangkan waktu, mengingat semuanya lagi. Mengundang kembali rasa yang pernah memenuhi hati dan hari-hari kita. menikmati kenangan-kenangan manis yang diciptakan oleh kasih sayang titipan Allah dalam hati-hati kita, dan mesyukurinya sebagai anugerah atas usia yang pernah kita bagi bersama.. jangan kau malah biarkan aku bergelimang dosa, karena telah membuatmu menyesali pertemuan pertama kita yang pernah terjadi --dulu-dulu sekali,


*sedikit yang bisa kutulis tentang yang kami sebut ukhuwwah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar