Mengenalmu pernah menjadi hal yang begitu membahagiakan untukku,
membuat waktuku terasa begitu bermanfaat (atau lebih tepat tidak merasa waktuku
terbuang sia-sia) dan mendatangkan semangat dalam aliran darahku ketika kita
akan bertemu. Aku pernah sangat bersyukur berkenalan denganmu, menjadi bagian
dalam hari-hari pekan-pekan bulan-bulan kehidupanmu. Sehingga kupikir, rasa
demikian itu tidak akan berubah dan selamanya aku takut membuatmu marah dan
kecewa. Aku pernah dengan sengaja memandang lekat-lekat wajahmu, berfikir
apakah perasaan yang kau miliki pun sama. Kadang aku berpikir sama, kadang aku
juga sangsi dengan dugaanku. Tidak terlalu meyakininya, tetapi aku tidak risau meskipun
kita tidak pernah berencana membuat janji setia. Sebab perasaan ini akan dengan
sendirinya mengikat hati-hati kita. Jadi tidak perlu kukhawatirkan hari di
depan, tidak perlu untukku memikirkan apakah rasa yang begitu membuncah dan
memenuhi dadaku akan pernah berkurang sampai habis.
Lalu pada hari atau tahun kesekian, kita sudah begitu saja ditelan
kesibukan. Kesibukan menjadikan perpisahan tidak punya pilihan. Dan kita toh
dengan rela menerima, bahkan tanpa sempat memperhatikan masihkan tersisa rasa
yang dulu pernah membuatku hampir tidak bisa bernafas saking gembira. Tidak aku-
mungkin juga dirimu, sama-sama merasa perlu untuk membicarakannya karena memang prasangka sudah kita terima sebagai keyakinan. Syukurnya, ini
membuat perpisahan terasa tidak berat. Bukan karena kelegowoan kita, karena
memang perasaan kita sudah tidak sama seperti beberapa waktu lalu. Rupanya
perpisahan menghabiskan apa yang tersisa, kawan. Seperti kulit balon yang
semakin menipis karena dibawa oleh angin, mengeluarkan seluruh isinya tanpa
harus dilubangi lebih dulu. Hanya soal waktu. Apakah begitu, ya?
Bukan saja perasaan itu kandas tanpa bekas, tetapi bahkan terisi dan
dipenuhi dengan sesuatu yang lain. Bukankah hati kita memang tidak akan bisa mengempis, melainkan berganti isi. Rupanya balon bukan analogi yang
tepat. Dan kau tau, sekarang yang mengisinya adalah sesuatu yang sebaliknya.
Ditambah jarak yang benar-benar kita biarkan semakin menjauh membuat perubahan
nampak semacam perlawanan, perlawanan yang mengundang amarah karena rasa yang
demikian lama sudah tidak lagi tersisa. Dan enggan pula kita mengingat-ingat
apa yang pernah kita curahkan segenap daya melalui sebagian usia kita sehingga
kita mencapai hari ini. Adakah semuanya sia-sia? Datang begitu saja untuk pergi
selamanya? Atau bahkan datang hanya agar kita melalui masa-masa remaja kita,
masa-masa muda kita lalu setelah semuanya belalu dengan mudah dikutuki kita di
hari ini? Tidakkah terlalu mahal itu semua jika yang kita beli hanya kenangan?
apatah lagi.. penyesalan?
Kau tahu kawan, bagiku semuanya terlalu berharga untuk hanya sekedar
menjadi pengalaman. Adakah bukan dengan tujuan Tuhan mempertemukan kita dan
memberi kita kesempatan menjadi begitu gembira, satu dengan yang lain? Perasaan
yang didamba semua umat manusia, yang rela dicari meski harus ke ujung dunia. Apakah
berlalunya waktu menjadikan kita pantas menghapusnya? Apakah kesibukan menjadi
bayaran setimpal untuk sepenuhnya kita melupakan? Apalagi berharap kita
hendak meninggalkan sedikit saja sisa perasaan itu, untuk tidak habis
sepenuhnya. Sehingga masih ada rasa
senang (meski sedikit) ketika kita berencana hendak berjumpa. Harapan yang
terlalu muluk sepertinya, melihat keadaan kita. ataukah pertemuan bahkan telah
menjadi sebuah ancaman, “sesuatu yang menakutkan”? Jika demikian, alangkah! bayaran
seperti apa yang telah sanggup menggantikannya dengan sesuatu yang (selintas saja) tidak pernah ingin kita bayangkan di masa lalu?
Jika kau rasakan hal demikian saat hendak berjumpa denganku, kawan.
Mungkin artinya aku telah gagal membaca petunjuk Tuhan yang diberikan-Nya
melalui dirimu. Bisa jadi itu hal paling berdosa, yang dilakukan seorang teman.
Tegurlah aku sehingga aku mau meluangkan waktu, mengingat semuanya lagi.
Mengundang kembali rasa yang pernah memenuhi hati dan hari-hari kita.
menikmati kenangan-kenangan manis yang diciptakan oleh kasih sayang titipan
Allah dalam hati-hati kita, dan mesyukurinya sebagai anugerah atas usia yang
pernah kita bagi bersama.. jangan kau malah biarkan aku bergelimang dosa,
karena telah membuatmu menyesali pertemuan pertama kita yang pernah terjadi --dulu-dulu
sekali,
*sedikit yang bisa kutulis tentang yang kami sebut ukhuwwah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar