Pages

Jumat, 09 November 2018

Shamail



Kali pertama mendengar kitab ini ialah pada acara Rihla yang diselenggarakan di Malaysia. Waktu itu ada satu sesi khusus yang membahas tentang kitab ini yang dibawakan oleh Shaykh al-Ninowy. Aku hanya bisa mengikutinya lewat live streaming yang difasilitasi oleh penyelenggara, yakni Intensive Deen begitupun tidak bisa kuikuti semua karena terpaut jam kerja yang menghabiskan sebagian sesi Shamail itu.. Sejak kali pertama mendengar pengkajian Shamail melalui Sh. Ninowy, langsung terkagum-kagum dengan kitab tersebut, ntah kenapa terasa ada desir-desir mengaliri urat-urat batin; tipis tapi terasa; pelan tapi berkesan. Ntahlah.

Terkadang desir itu minta lagi dihidupkan, dicarilah media-media yang bisa mendatangkan desir itu kembali. Tapi cukup sulit juga rupanya, mungkin usahaku kurang keras. Kurang besungguh-sungguh. Sempat terpikir juga: mungkin harus baca Shamail langsung. Baru setakat lintasan pikiran,.

Beberapa waktu lalu, datanglah undangan dari shahabat-jiwaku yang mengajakku untuk mengikuti kuliah online Shaykh al-Yaqoubi di Singapura. Sebelum2nya aku pernah mengikuti beberapa penyampaian as-Shaykh di youtube, hanya tidaklah intens. Cuplikan dan random; sekedar ingin tahu.
Jadi terpancanglah niyatku untuk betul-betul mengikuti 2 sesi kuliah beliau itu, tidak lain karena tajuk utamanya: Membicarakan Baginda. Yang terbayang olehku ialah memanggil desir itu kembali.

Rupanya, kelalaian menjadikanku melewatinya. Pada akhirnya bukan rezeki. Sesi satu terlewat karena kesalahanku dalam memperkirakan waktu. Penyesalanku kuobati dengan mencoba menyimak penyampaian-penyampaian Sh. Al-Yaqoubi lainnya di youtube. Sampai malam hari, sambil menunggu sesi kedua. Berjumpalah aku dengan Shamail kembali. bagai menemukan sebuah rindu! masyaAllah. Ada beberapa sesi, tapi baru kuikuti sebagian. Desir itu hadir kembali disertai bulir-bulir yang berjatuhan sedikit-sedikit. Alhamdulillah. Desir itu masih bisa kurasai meskipun sulit, meski sedikit. Mungkin oleh sebab hati yang keruh. Allahu A’lam.

Berikutnya, yang akhirnya mendorongku menulis ini. Aku sempat berpikir, paska mendengar penyampaian berseri Sh. Al-Yaqoubi itu: semakin dekat aku dengan Shamail. Tapi lagi2 usahaku kurang keras, untuk membuat desir itu menjadi arus besar.. mungkin hatiku belum siap.

Dan.

Safar kemarin itu, saat kubuka bungkus cantik berwarna hitam dan putih dihiasi bentuk-bentuk hati dari emas. Pandanganku terkunci. Keringat masih mengucur deras, karena bus yang kunaiki --yang membawaku pulang selama 4 jam-- tidak ber-AC.

Prophet Muhammad
The Master of Love
by
Shaykh Mohammed Aslam

LECTURES OF AL-SHAMAIL AL-MUHAMMADIYYAH (THE PERFECT CHARACTER-TRAITS OF THE PROPHET MUHAMMAD

Desir itu hadir kembali, disertai cairan bening yang meluap, dan keluar melalui celah di sudut mata.
Alhamdulillah. Bahkan meski amal terhenti, mungkin kesungguhan hati yang membuat usaha itu terus berjalan. Sehingga semakin dekat. Semakin dekat. Sebab bukankah ini sudah memasuki bulan kelahirannya...? ..

Naiklah derajat keyakinanku,
Bahwa shahabat-jiwa, sentiasa mendengar apa yang dikatakan jiwa shahabatnya. Bukan (semata-mata) lisannya.
الحمد لله ربّ العالمين
Jum’at, 1 Rabiul Awal 1440 H



Tidak ada komentar:

Posting Komentar