Kali pertama mendengar kitab ini ialah pada acara Rihla yang
diselenggarakan di Malaysia. Waktu itu ada satu sesi khusus yang membahas
tentang kitab ini yang dibawakan oleh Shaykh al-Ninowy. Aku hanya bisa
mengikutinya lewat live streaming yang difasilitasi oleh penyelenggara, yakni
Intensive Deen begitupun tidak bisa kuikuti semua karena terpaut jam kerja yang
menghabiskan sebagian sesi Shamail itu.. Sejak kali pertama mendengar
pengkajian Shamail melalui Sh. Ninowy, langsung terkagum-kagum dengan
kitab tersebut, ntah kenapa terasa ada desir-desir mengaliri urat-urat
batin; tipis tapi terasa; pelan tapi berkesan. Ntahlah.
Terkadang desir itu minta lagi dihidupkan, dicarilah media-media yang
bisa mendatangkan desir itu kembali. Tapi cukup sulit juga rupanya, mungkin
usahaku kurang keras. Kurang besungguh-sungguh. Sempat terpikir juga: mungkin
harus baca Shamail langsung. Baru setakat lintasan pikiran,.
Beberapa waktu lalu, datanglah undangan dari shahabat-jiwaku yang
mengajakku untuk mengikuti kuliah online Shaykh al-Yaqoubi di Singapura.
Sebelum2nya aku pernah mengikuti beberapa penyampaian as-Shaykh di youtube,
hanya tidaklah intens. Cuplikan dan random; sekedar ingin tahu.
Jadi terpancanglah niyatku untuk betul-betul mengikuti 2 sesi kuliah
beliau itu, tidak lain karena tajuk utamanya: Membicarakan Baginda. Yang
terbayang olehku ialah memanggil desir itu kembali.
Rupanya, kelalaian menjadikanku melewatinya. Pada akhirnya bukan
rezeki. Sesi satu terlewat karena kesalahanku dalam memperkirakan waktu.
Penyesalanku kuobati dengan mencoba menyimak penyampaian-penyampaian Sh.
Al-Yaqoubi lainnya di youtube. Sampai malam hari, sambil menunggu sesi kedua. Berjumpalah aku dengan Shamail kembali. bagai menemukan sebuah rindu! masyaAllah. Ada
beberapa sesi, tapi baru kuikuti sebagian. Desir itu hadir kembali disertai
bulir-bulir yang berjatuhan sedikit-sedikit. Alhamdulillah. Desir itu masih
bisa kurasai meskipun sulit, meski sedikit. Mungkin oleh sebab hati yang keruh. Allahu A’lam.
Berikutnya, yang akhirnya mendorongku menulis ini. Aku sempat berpikir, paska mendengar
penyampaian berseri Sh. Al-Yaqoubi itu: semakin dekat aku dengan Shamail.
Tapi lagi2 usahaku kurang keras, untuk membuat desir itu menjadi arus besar..
mungkin hatiku belum siap.
Dan.
Safar kemarin itu, saat kubuka bungkus cantik berwarna hitam dan putih
dihiasi bentuk-bentuk hati dari emas. Pandanganku terkunci. Keringat masih
mengucur deras, karena bus yang kunaiki --yang membawaku pulang selama 4 jam-- tidak ber-AC.
Prophet Muhammad ﷺ
The Master of Love
by
Shaykh Mohammed Aslam
LECTURES OF AL-SHAMAIL AL-MUHAMMADIYYAH (THE PERFECT CHARACTER-TRAITS
OF THE PROPHET MUHAMMAD ﷺ
Desir itu hadir kembali, disertai cairan bening yang meluap, dan keluar
melalui celah di sudut mata.
Alhamdulillah. Bahkan meski amal terhenti, mungkin kesungguhan hati yang
membuat usaha itu terus berjalan. Sehingga semakin dekat. Semakin dekat. Sebab bukankah
ini sudah memasuki bulan kelahirannya...? ﷺ..
Naiklah derajat keyakinanku,
Bahwa shahabat-jiwa, sentiasa mendengar apa yang dikatakan jiwa
shahabatnya. Bukan (semata-mata) lisannya.
الحمد
لله ربّ العالمين
Jum’at, 1 Rabiul Awal 1440 H

Tidak ada komentar:
Posting Komentar