Malam ini gagal menemuimu, Sal
Rindu ini belum jadi berlabuh
Belum sembuh ia menanggung perih yang kian parah
Sebatas menelusuri jejak kecilmu
Tak secuil pun mengobatinya
Berkilo jauhnya tanpa alas kaki
Memanggul karung bersama sanjaya
Dibalut seragam lusuh yang setelah hujan kering di badan
Ntah sudah berapa gang berlalu tanpa dirimu
Setiap putihnya karung mengingatkanmu
Kaki-kaki telanjang yang menyibak debu jalanan
Memijak becek di jalan berharap mendapati jemarimu
Namun nihil, sebab yang kulihat sandal-sendal aneka warna
Satu dua pengemis jalanan tak kudapati matamu
Sebab sorotnya bukan meminta belas kasihan,
Tetapi kobar semangat dan keceriaan
Sorot yang kurindukan dari dua buah bola matamu
Rindu yang menggebu menuntunku
Menapak gubuk-gubuk di sisi gunungan sampah,
Hujan sore tadi menguapkan bau yang minta ampun
Sal, tidak bisakah kau rasakan kehadiranku.
Aku ingin bertemu.
Gemetar aku menyusuri sudut dan lorong,
Menebak-nebak kehadiranmu,
Sedang apa engkau di larut ini.
Ngeri membayangkan ayahmu
Terduduk diam tanpa lampu
Biar kita tak saling tahu biar sepuasnya aku bisa mengamatimu
Tidak mengapa disela-sela selada atau kembang kol juga
Yang penting aku bisa merasa di dekatmu.
Rinduku ini tak tertangguhkan, mencair menjadi airmata
Aku hanya bisa menangis saja,
Tidak bisa berbuat apa-apa.
Sal, ketahuilah. Keinginanku bertemu
Melebihi kegilaan seorang biasa hendak berjumpa artis idaman
Sebab rinduku, melahirkan bayang-bayang sepanjang jalan
Adanya dirimu memanggul karung, di setiap tikungan menuju jalan kupulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar