Pages

Rabu, 30 Januari 2019

Kisah pemulung cilik,




Malam ini gagal menemuimu, Sal

Rindu ini belum jadi berlabuh

Belum sembuh ia menanggung perih yang kian parah

Sebatas menelusuri jejak kecilmu

Tak secuil pun mengobatinya

Berkilo jauhnya tanpa alas kaki

Memanggul karung bersama sanjaya

Dibalut seragam lusuh yang setelah hujan kering di badan



Ntah sudah berapa gang berlalu tanpa dirimu

Setiap putihnya karung mengingatkanmu

Kaki-kaki telanjang yang menyibak debu jalanan

Memijak becek di jalan berharap mendapati jemarimu

Namun nihil, sebab yang kulihat sandal-sendal aneka warna



Satu dua pengemis jalanan tak kudapati matamu

Sebab sorotnya bukan meminta belas kasihan,

Tetapi kobar semangat dan keceriaan

Sorot yang kurindukan dari dua buah bola matamu



Rindu yang menggebu menuntunku

Menapak gubuk-gubuk di sisi gunungan sampah,

Hujan sore tadi menguapkan bau yang minta ampun

Sal, tidak bisakah kau rasakan kehadiranku.

Aku ingin bertemu.



Gemetar aku menyusuri sudut dan lorong,

Menebak-nebak kehadiranmu,

Sedang apa engkau di larut ini.

Ngeri membayangkan ayahmu

Terduduk diam tanpa lampu

Biar kita tak saling tahu biar sepuasnya aku bisa mengamatimu

Tidak mengapa disela-sela selada atau kembang kol juga

Yang penting aku bisa merasa di dekatmu.



Rinduku ini tak tertangguhkan, mencair menjadi airmata

Aku hanya bisa menangis saja,

Tidak bisa berbuat apa-apa.

Sal, ketahuilah. Keinginanku bertemu

Melebihi kegilaan seorang biasa hendak berjumpa artis idaman

Sebab rinduku, melahirkan bayang-bayang sepanjang jalan

Adanya dirimu memanggul karung, di setiap tikungan menuju jalan kupulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar