Malam ini matanya sembab, Salsa juga lebih banyak diam. Ketika
ditanya, “Salsa kenapa”, dijawabnya, “gak..gakpapa”. ketika kupegang tangan dan
dahinya, panas. “sal, salsa sakit?” dia mengangguk. “kok tetep mulung”, “buat
lebaran”. Jawaban yang langsung memanaskan sekujur tubuhku.
Rupanya Salsa baru bangun tidur. Ia tidur dipinggiran jalan,
di atas karungnya dan di samping tempat sampah. Pantas matanya bengkak dan
banyak diam. Nyawanya belum sepenuhnya terkumpul. Salsa bukan seorang anak yang
senang meminta belas kasihan. Kepolosan dia bukan kepolosan yang minta
dikasihani. Dalam pikirnya bekerja, bukan meminta-minta. Ini berikutnya
perbincangan kami,
“Sal udahlah jangan mulung dulu,”
“Enggak ah belum penuh”
“Yaudah aku aja ya yang mulung” (kataku bercanda)
“Enggak…kayak kemarin aja” (maksudnya kayak pekan lalu kami menunggu
Salsa selesai mulung di taman kota sampai jam 11 malam.)
“emang mamah ngizinin Salsa mulung lagi sakit?”
“Enggak. Aku nya yang mau”
Kalau udah kekeuh, Salsa ga bisa dilarang. Berkali kali ia bilang kalau
karakternya api. Itu juga yang membuat ia berani melawan ayah tirinya yang
sering mabuk-mabukan. Jadilah kita yang pusing, gimana mencegah Salsa mulung
malam ituuu aja. Dilalah, adikku yang malah berhasil membuatnya tak bergeming,
lupa soal hajatnya. Tenggelam selanjutnya Salsa dan Nurzaman dalam manuver-manuver
Snapchat adikku. Tertawa tiada habis-habis-habisnya kami. Baru kudengar tawanya
yang begitu lepas sejak pertemuan kali pertama sekitar 6 bulan lalu. Senang aku,
tawa yang benar-benar lepas. Nanti kau dengar sendirilah.
Menjaga jangan sampai ia ‘tersadar’, bunda dan ayah mulai mengumpulkan
botol-botol bekas. Sampai karungnya separuh penuh. Tidak pernah ia lupa mengucapkan
‘terima kasih’ setiap kali ayah dan bunda memasukkan hasil pulungannya,
selanjutnya tenggelam dalam tawa lagi. Mencari gaya baru dalam berpose. Awalnya Salsa melarang, kalau ditanya kenapa, “maluu”.
Ntah siapa yang dimaksudnya malu. Tapi toh anak-anak, buyar juga kalau sudah
berganti perhatiannya. Tidak hanya anak-anak yang begini sebenarnya.
Salsa, bocah perempuan kelas 3 SD. Anak yang pintar, manis, pemberani
dan ceria. Hasil temuan bunda di festival kuliner mambo Tasikmalaya. Adalah salah
satu dari 8 orang pemulung cilik yang kami kenal. yang setiap malam keluar,
sehabis maghrib, mengais sampah, tanpa sandal, jalan kaki lebih dari 5 km,
untuk membantu kedua orang tuanya yang sebenarnya masih sehat dan kuat. Kadang bersama
adiknya, Sanjaya yang baru berusia 4 tahun, yang karung dengan tubuhnya saja
masih lebih besar karung.
Tidak bisa tidak heran memahami kehidupan mereka, sebab memang mereka
bukan anak-anak biasa seperti aku, kami dan mungkin kita. Kadang biar hujan
gimana juga diterabasnya. Kuyup bersama isi karungnya, sudah biasa. Bergaul
dengan mereka rasanya memberi kami tenaga selama sepekan. Tentang semua yang
telah kami ketahui tetapi baru bisa kami yakini. Karenanya malam minggu selalu
yang ditunggu, menemui mereka di pusat kota. Di tengah ketidak mampuan kami,
kami menyadari kamilah yang diuntungkan dalam setiap pertemuan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar