Pages

Sabtu, 18 Mei 2019

Salsa, 14 Ramadhan




Malam ini matanya sembab, Salsa juga lebih banyak diam. Ketika ditanya, “Salsa kenapa”, dijawabnya, “gak..gakpapa”. ketika kupegang tangan dan dahinya, panas. “sal, salsa sakit?” dia mengangguk. “kok tetep mulung”, “buat lebaran”. Jawaban yang langsung memanaskan sekujur tubuhku.

Rupanya Salsa baru bangun tidur. Ia tidur dipinggiran jalan, di atas karungnya dan di samping tempat sampah. Pantas matanya bengkak dan banyak diam. Nyawanya belum sepenuhnya terkumpul. Salsa bukan seorang anak yang senang meminta belas kasihan. Kepolosan dia bukan kepolosan yang minta dikasihani. Dalam pikirnya bekerja, bukan meminta-minta. Ini berikutnya perbincangan kami,

“Sal udahlah jangan mulung dulu,”

“Enggak ah belum penuh”

“Yaudah aku aja ya yang mulung” (kataku bercanda)

“Enggak…kayak kemarin aja” (maksudnya kayak pekan lalu kami menunggu Salsa selesai mulung di taman kota sampai jam 11 malam.)

“emang mamah ngizinin Salsa mulung lagi sakit?”

“Enggak. Aku nya yang mau”



Kalau udah kekeuh, Salsa ga bisa dilarang. Berkali kali ia bilang kalau karakternya api. Itu juga yang membuat ia berani melawan ayah tirinya yang sering mabuk-mabukan. Jadilah kita yang pusing, gimana mencegah Salsa mulung malam ituuu aja. Dilalah, adikku yang malah berhasil membuatnya tak bergeming, lupa soal hajatnya. Tenggelam selanjutnya Salsa dan Nurzaman dalam manuver-manuver Snapchat adikku. Tertawa tiada habis-habis-habisnya kami. Baru kudengar tawanya yang begitu lepas sejak pertemuan kali pertama sekitar 6 bulan lalu. Senang aku, tawa yang benar-benar lepas. Nanti kau dengar sendirilah.



Menjaga jangan sampai ia ‘tersadar’, bunda dan ayah mulai mengumpulkan botol-botol bekas. Sampai karungnya separuh penuh. Tidak pernah ia lupa mengucapkan ‘terima kasih’ setiap kali ayah dan bunda memasukkan hasil pulungannya, selanjutnya tenggelam dalam tawa lagi. Mencari gaya baru dalam berpose.  Awalnya Salsa melarang, kalau ditanya kenapa, “maluu”. Ntah siapa yang dimaksudnya malu. Tapi toh anak-anak, buyar juga kalau sudah berganti perhatiannya. Tidak hanya anak-anak yang begini sebenarnya.



Salsa, bocah perempuan kelas 3 SD. Anak yang pintar, manis, pemberani dan ceria. Hasil temuan bunda di festival kuliner mambo Tasikmalaya. Adalah salah satu dari 8 orang pemulung cilik yang kami kenal. yang setiap malam keluar, sehabis maghrib, mengais sampah, tanpa sandal, jalan kaki lebih dari 5 km, untuk membantu kedua orang tuanya yang sebenarnya masih sehat dan kuat. Kadang bersama adiknya, Sanjaya yang baru berusia 4 tahun, yang karung dengan tubuhnya saja masih lebih besar karung.



Tidak bisa tidak heran memahami kehidupan mereka, sebab memang mereka bukan anak-anak biasa seperti aku, kami dan mungkin kita. Kadang biar hujan gimana juga diterabasnya. Kuyup bersama isi karungnya, sudah biasa. Bergaul dengan mereka rasanya memberi kami tenaga selama sepekan. Tentang semua yang telah kami ketahui tetapi baru bisa kami yakini. Karenanya malam minggu selalu yang ditunggu, menemui mereka di pusat kota. Di tengah ketidak mampuan kami, kami menyadari kamilah yang diuntungkan dalam setiap pertemuan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar