Pages

Senin, 11 April 2022

Hadiah




ntah harus berapa ribu kali lagi menggumamkan rasa syukur untuk bisa menggambarkan perasaanku tadi malam. menerima bingkisan hadiah sederhana tetapi hakikatnya sangat istimewa dari kedua orang tua, adik bungsu, dan eyangku. disusul ucapan dan doa dari adik keduaku, ipar dan keponakanku yang lucuuu. alhamduliLlahirrabbil'alamiin. nikmat Tuhan yang mana lagi yang kau dustakan?

hadiah yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhanku saat ini; sebuah map plastik, buku catatan indah berwarna merah muda, sticky note dan sandal jepit. betapa beruntungnya aku. ohya ditambah sebuah kue blackforest dng ukuran sedang, yang rasanya sangat enak! 

kesyukuranku bukan saja disebabkan karena nilai dan keindahan benda-benda tersebut. tetapi karena hal yang justru tidak ditampakkan oleh gambar ini. keluarga yang sehat dan utuh, ah, air mataku kembali menggenang. mengingat apa yang kami hadapi 4 tahun belakang ini. tahun-tahun yang sungguh berat untuk kami. bukan hanya hampir melumpuhkanku, tetapi kita semua. semacam ada badai yang tak henti-henti menghempas kami dari berbagai arah. dan karena kelemahan kami, hampir-hampir kami tak berdaya, kalau tidak mengingat-ingat nikmat Allah yang jauh lebih banyak. perjuangan mengingat setiap hari!

jatuh dan ambruk bersama membuat kami menyadari bahwa tiada yang pantas kami sandari kecuali kepada-Nya. Dzat Yang Mahakuat. ketika kehebatan, kecerdasan dan kemampuan kami menemukan jalan buntu untuk menyelesaikan masalah, kami belajar untuk tawakal. berhenti memikirkan dan kembali menyerahkan kepada Pemilik Takdir dan Urusan. merasa mampu dan menyelesaikan dengan kekuatan sendiri membuat kami menyadari bahwa itu semua ilusi yang melenakan. ilusi itu tidak selamanya baik, ia juga membuat kita terlalu lelah. ikhtiyar telah melebihi batasannya. mengandalkan diri dengan berlebihan, melupakan Kekuatan Lain yang Mahabesar. 

terpaan demi terpaan dan keadaan jiwa yang compang-camping membuat kami kembali. kembali belajar lagi, mengaji, mendikte diri dan keadaan keimanan serta hati. berserah dengan sepenuhnya karena kami sudah tidak punya apa-apa lagi. hanya tinggal penyerahdirian. ini pun juga bentuk pemberian. ...tidak lagi mempertanyakan "kapan ini semua akan berlalu?" kelihatannya keadaan kita tidak mungkin berubah dalam waktu 5-10 tahun ke depan. tetapi sebaliknya berkata kuat-kuat dalam jiwa "kapanpun Allah mau, kapan saja dapat berubah." kenapa terlalu lelah menaksir masa depan?

semua kondisi punya batas. kita berjalan semakin dekat dengan batas tersebut, diam atau bergerak. ada 1000 cara pandang untuk melihat keadaan kita hari ini, jangan merasa nyaman memandangnya hanya sebuah ujian kesengsaraan. bukankah dengannya dzikir-dzikir kita menjadi disertai hati? bukannya dengannya doa-doa kita menemukan alamat yang tak mungkin salah? lantas apa yang kita tangisi sebenarnya... renunganku menjawab, "kemana saja kita selama ini?"


buku berwarna putih itu mendapatkan tempatnya :) pemberian yang tidak pernah kuharapkan. buku itu diberikan oleh sahabatku, seolah mendengar jeritan hatiku bahwa aku sangat menginginkannya! semula aku menggunakan tas kecil untuk membawanya kemana-mana, karena takut kotor. buku itu indah sekali dan mahal harganya, aku tak mau kena noda barang sedikitpun. alhamdulillah, 11 april lalu ia menemui tempatnya yang lebih baik, dan kawanan yang akan ikut mengawalnya. terima kasih Ya Allah, terima kasih Bunda dan Ayah, terima kasih Teteh.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar