Pages

Sabtu, 19 Juli 2025

Tanggung Jawab yang Diampu Secara Berlebihan Juga itu Tidak Baik

 Apapun yang berlebihan memang tidaklah baik, meskipun ia muncul dari sesuatu yang baik. Tanggung jawab misalnya, meskipun ia baik tetapi bila ia ditanggung secara berlebihan oleh seseorang, ia bisa menjadi sesuatu yang tidak baik. 

Setiap orang memiliki tanggung jawabnya masing-masing; baik untuk dirinya, keluarganya dan perannya di masyarakat. Tanggung jawab adalah seperti sisi lain yang melekat seiring dengan kemampuan yang dimiliki atau diamanahkan pada seseorang.

Menjalani sebuah tanggung jawab adalah suatu kebaikan - meskipun ia menjadi sebentuk kewajiban, karena melakukannya membutuhkan kesadaran, dan upaya. Sebaliknya ketidakmampuan atau keengganan seseorang melakukan tanggung jawabnya adalah sesuatu yang buruk karena akan memberi dampak pada dirinya dan juga orang-orang yang terlibat dalam kehidupan maupun perannya. Tetapi ini berbeda kalau ketidakmampuan itu lahir dari keadaan yang membuatnya tidak mampu secara mutlak memenuhi tanggung jawabnya.

Di antara ini ada kondisi yang berbahaya, yaitu ketidakmampuan seseorang menjalani tanggung jawabnya karena ketidaksadaran atau kurangnya upaya. Implikasi dari hal ini adalah adanya fungsi yang tidak berjalanan dan menyebabkan efek domino. Untuk menghindari efek besar tersebut, terkadang tanggung jawab ini tetap diisi oleh orang selainnya.

Di sini bahayanya. Ketika tanggung jawab diisi melebihi porsi yang seharusnya karena keadaan (seolah-olah menuntutnya), ini akan menambah beban seseorang. Hal seperti ini sebenarnya biasa terjadi dalam lingkup keluarga maupun organisasi, tetapi bila ia terus dibiarkan, apalagi jika tanggung jawab itu merupakan hal besar, ini bisa jadi sangat berbahaya.

Ketidaksadaran yang terus menerus dibiarkan dari sebuah tanggung jawab yang diemban oleh orang lain bisa mengakibatkan kelalaian yang luar biasa sehingga lama kelamaan ia bisa menjadi norma. Mula-mula dianggap normal, dan lama kelamaan bisa menjadi aturan. Apalagi jika tidak dipandu ilmu, mudah sekali aturan itu tegak di atas kebiasaan yang salah.

Implikasi hal ini bukan saja membuat orang yang tidak bertanggung jawab itu berada dalam kelalaian, tetapi juga bisa membuat seseorang yang mengambil peran dan tanggung jawabnya itu kehilangan sesuatu sebagai kompensasi tanggung jawab tambahan yang ia emban. 

Bagi seseorang yang mengambil tanggung jawab, ini seolah hal baik, mungkin untuk sementara waktu. Perilakunya telah membuat keadaan menjadi normal dan seimbang kembali dengan mengisi kekosongan yang ada. Tetapi apabila ini berjalan terus tanpa perubahan, kondisi ini akan menjadi buruk. Aksi heroik bisa menjadi kelemahan.

Itulah mengapa memperbaiki keadaan yang salah tidak bisa hanya dengan mengambil tanggung jawab orang lain. Terdengar sulit, tetapi bisa jadi ini hanya soal pembiasaan. Kesulitan lain yang seharusnya ditempuh adalah proses pendidikan. Membuat seseorang menyadari kesalahannya, perilaku yang tidak bertanggung jawab. Proses ini harus dilakukan seterusnya hingga seseorang yang meninggalkan tanggung jawab itu sadar dan mau berubah.

Bisa jadi mengambil tanggung jawab orang lain seterusnya lebih mudah dibanding proses menyadarkan orang lain. Fenomena ini sering kali kita temukan dengan bahasa-bahasa seperti ini, "ga apa-apa saya saja, dari pada nggak ada". Rupanya kalimat yang terkesan baik ini bisa menjadi jahat sekali.

Itulah mengapa tanggung jawab pendidikan itu barangkali melekat juga pada setiap orang. Proses untuk saling mengingatkan, terus menerus tanpa lelah sesuatu yang sebenarnya salah. Tidak membiarkan keadaan yang salah berjalan terus menerus, akibat seseorang tidak mengerti dan tidak mau menjalani tanggung jawabnya.

Meskipun proses menyadarkan seseorang tidaklah mudah, tetapi ini harus ditempuh. Jika dibiarkan, bukan hanya hal itu merugikan diri sendiri yang mengampu tanggung jawab lebih daripada yang seharusnya, tetapi juga orang lain yang tidak menyadari perilaku salahnya itu. 

Tanggung jawab untuk mendidik, memberi tahu, berusaha menyadarkan orang lain mungkin bisa jadi bentuk keadilan juga. Tugas ini menjadi dua kali lebih berat daripada hanya fokus pada pemenuhan tanggung jawab yang seharusnya diemban orang lain. Mengerjakan tanggung jawab orang lain terdengar sangat baik dan heroik, tetapi ia menyimpan potensi bahaya yang serius di masa depan.

Tanggung jawab pendidikan yang sering kali kita lupakan bisa juga jadi bagian buruk dari diri kita, apabila ia bersumber dari kemalasan. Mungkin kita merasa mengambil tanggung jawab orang lain membuat diri kita nampak atau terasa lebih baik. Tetapi membiarkannya terus menerus tanpa diiringi tanggung jawab mendidik, akan membuat perilaku baik itu kehilangan esensinya karena disaat bersamaan kita membiarkan diri kita terdzalimi dan membiarkan orang lain terus menerus berada dalam kegelapan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar